alexametrics

Temukan 706 Penderita Baru HIV/AIDS di Surabaya

2 Desember 2019, 18:15:46 WIB

JawaPos.com – Hari AIDS Sedunia juga dirayakan di Surabaya kemarin (1/12). Di Hotel Harris Bundaran Satelit Surabaya, ada ajang Yoga for Respect World AIDS Day. Dalam kesempatan itu, perwakilan Badan Antinarkoba di Surabaya Bagus Dwi Pananda memberikan sedikit pengenalan tentang HIV/AIDS dan perkembangannya di Indonesia yang masih tinggi. ’’Kita perlu sosialisasi lebih gencar. Terutama bagi yang berpotensi tertular,’’ ucap Bagus. Misalnya, mereka yang suka berganti-ganti pasangan dan pelaku narkoba yang bergantian menggunakan jarum suntik.

Wahyu, instruktur yoga, mengatakan bahwa yoga bisa jadi salah satu pilihan olahraga yang bermanfaat bagi mereka yang ingin lepas dari narkoba. ’’Karena endorfin yang dihasilkan saat yoga bisa menciptakan rasa nyaman dan tenang,’’ tuturnya.

Sementara itu, usaha untuk menemukan kasus baru HIV/AIDS di Surabaya terus dilakukan dinas kesehatan (dinkes). Total ada 706 penderita baru HIV/AIDS di Surabaya.

Penemuan itu, menurut Kepala Dinkes Febria Rachmanita, lebih sedikit daripada tahun lalu. Yakni, 1.096 penderita HIV/AIDS. Hingga kini, tim mereka masih berusaha menemukan kasus baru yang lebih banyak lagi. Sebab, jika lebih cepat ditemukan, pengidap HIV/AIDS akan lebih cepat diobati. ’’Sehingga semakin banyak penderitanya yang bisa bertahan hidup dan bisa beraktivitas layaknya orang normal,’’ ungkapnya.

Tindakan itu dilakukan tim dinkes dengan menyambangi dan melakukan skrining kepada warga dengan kelompok berisiko. Yakni, para waria, homoseksual, dan para pekerja di tempat-tempat hiburan malam. Mereka menjadi sasaran utama penularan HIV/AIDS.

Menurut Feni, sapaan Febria Rachmanita, perempuan yang mengidap HIV/AIDS kebanyakan ibu rumah tangga. Usianya masih produktif. Yakni, sekitar 25–49 tahun. Ibu-ibu itu tertular para suami. ’’Misalnya, suami yang sering ’jajan’ di luar, lalu berhubungan intim dengan istri. Istrinya ikut ketularan,’’ paparnya.

Pihak terkait telah melakukan triple eliminasi di Kota Surabaya untuk mencegah penularan HIV/AIDS, sifilis, dan hepatitis. Yakni, pemeriksaan para calon pengantin, baik laki-laki maupun perempuan.

Jika yang laki-laki positif mengidap HIV, puskesmas akan terus memantau orang tersebut. Obat antiretroviral (ARV) diberikan setiap hari. Pengecekan viral load juga rutin dilakukan. Menurut Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Daniek , suami dengan HIV bisa melakukan hubungan intim tanpa menularkan ke istri dengan memantau jumlah viral load. ’’Jika jumlahnya rendah, bisa berhubungan intim dengan tanpa menginfeksi pasangannya,’’ katanya.

Sementara itu, calon pengantin perempuan yang telah diketahui positif HIV akan mendapatkan terapi ARV. Obat diminum terus.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ika/dya/c15/tia



Close Ads