alexametrics

Sujiwo Tejo Ajak Implementasikan Pancasila Mulai Hal Sederhana

2 Desember 2019, 19:59:58 WIB

JawaPos.com – Pancasila semestinya tidak hanya menjadi kebanggaan warga negara Indonesia. Nilai-nilai di dalamnya juga menjadi penuntun perilaku masyarakat untuk berinteraksi dengan alam sekitar. Hal itu diingatkan Agus Hadi Sudjiwo atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo dalam Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila di ballroom Hotel Shangri-La kemarin (1/12).

Mbah Jiwo, sapaan akrab Sujiwo Tejo, menyampaikan materi tentang Pancasila dalam Narasi, Rasa, dan Laku Lampah. Tentu saja dia menyampaikan dengan gayanya yang blak-blakan dan kritis. ”Pancasila itu harusnya implementatif. Penuh dengan sikap kepedulian, sopan santun, dan mengerti orang lain,” tutur pria yang juga dikenal sebagai Presiden Jancukers itu.

Dia mencontohkan interaksi antarmanusia yang sederhana. Misalnya, menyalakan HP saat pemutaran film di bioskop itu bisa disebut tidak sesuai dengan Pancasila. Sebab, perilaku tersebut mengganggu pengunjung yang lain. ”Jangan jadikan Pancasila seperti baris-baris yang tanpa arti,” ujarnya.

Dia lantas menyebutkan bahwa kearifan budaya lokal masih sarat dengan nilai-nilai Pancasila. Sebut saja, kebiasaan panen yang tidak mengambil hasil bumi 100 persen untuk dimakan sendiri. ”Ada yang kami sisakan untuk dimakan ular dan hewan-hewan lainnya. Itu namanya menyelaraskan kebutuhan alam dan manusia. Tidak rakus semua untuk dirinya sendiri,” imbuh seniman yang juga berperan dalam banyak judul film itu.

Menurut dia, anak-anak zaman sekarang bisa belajar apa pun dari YouTube. Namun, mereka tidak bisa ngalap berkah langsung dari salim pada gurunya. Karena itu, ruang dan tatap muka langsung tetap perlu di era serbadigital seperti saat ini.

Sujiwo pun menegaskan untuk tidak menghafal Pancasila, tetapi mulai menerapkannya dalam kehidupan. Lelaki kelahiran 31 Agustus 1962 tersebut juga memberikan selingan pada saat penyampaian materi. Salah satunya, menyanyikan tembang dari gubahan syair ciptaan Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak kandung RA Kartini.

Persamuhan itu digagas Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang menggandeng Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Pelaksana Tugas Kepala BPIP Hariyono mengungkapkan, ada kurang lebih 500 peserta yang terlibat. Sebagian besar merupakan guru sejarah dari 34 provinsi alias dari Sabang sampai Merauke. Menurut dia, dengan perkembangan zaman, modernisasi dan globalisasi membawa tantangan pada Pancasila. ”Guru sejarah tidak boleh seperti museum dan patung. Tetapi, mereka justru harus menarik dalam mengajarkan sejarah, terutama mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, secara nyata pada siswa,” terangnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : hay/c12/ady



Close Ads