alexametrics

Bocah yang Diduga Dianiaya Alami Trauma, Psikiater Akan Dampingi JA

2 Desember 2019, 18:48:07 WIB

JawaPos.com – Setelah menjalani perawatan di RSUD dr Soetomo sejak Selasa (26/11), kondisi JA kian membaik. Bocah 4 tahun yang ditengarai mengalami penganiayaan tersebut sudah melewati fase kritis dan tengah menjalani pemulihan. Saat Jawa Pos menyambanginya di Ruang Observasi Intensif (ROI) RSUD dr Soetomo kemarin (1/12), JA tertidur dengan balutan selimut putih. Sesekali, dia bergerak, lantas mengubah posisi tidurnya.

Tidak ada aktivitas di dalam ruang isolasi tersebut. JA ditinggal sang ibu, IN, sendiri. Perempuan 27 tahun tersebut sibuk menemui keluarga di ruang tunggu ROI. Dia bercengkerama dengan BA, saudaranya. BA sengaja datang ke rumah sakit untuk memastikan informasi yang sudah tersebar luas perihal JA. ’’Saya juga jurnalis. Ketika dikirimi foto JA, saya coba memastikan lagi. Ehh ternyata benar.

Keponakan saya,’’ ungkap pria yang berdomisili di Mulyorejo itu.

Dia menuturkan, JA sudah mau berkomunikasi. Namun, dia irit bicara dan hanya mau menanggapi pertanyaan dari orang yang dikenal. ’’Barang kali masih trauma,’’ ucap BA. Sejauh ini tim dokter, kata dia, sudah memberikan perawatan yang baik. Hal itu terbukti dari lewatnya fase kritis dan kondisi fisik JA yang kian pulih. ’’Semoga keponakan saya ini sembuh. Sedih kalau melihat kondisinya seperti ini,’’ papar BA.

Kasus yang menimpa JA, kata dia, perlu diusut lebih lanjut. Pihaknya juga mengaku tidak tahu pasti apa yang membuat bocah tersebut mengalami luka di sekujur tubuh. ’’Kini disidik Polrestabes Surabaya. Kami serahkan semua ke polisi,’’ ungkapnya.

Sementara itu, IN mengatakan bahwa penyebab luka di kedua mata, kemaluan, dan dada anaknya akibat jatuh dari tangga. ’’Memang karena itu. Dari awal saya katakan begitu,’’ ujar IN.

Saat ini dia tidak memusingkan temuan polisi. Bagi dia, yang terpenting anaknya bisa pulih total. Selain fisik, tentu dari segi psikologi. Sebab, berdasar temuan dokter, JA mengalami trauma. ’’Beberapa trauma tumpul,’’ kata Kepala Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) dan Humas RSUD dr Soetomo dr Pesta Parulian Maurid Edwar SpAn.

Trauma tumpul, kata dia, adalah trauma fisik pada anggota tubuh yang disebabkan tabrakan, luka, atau serangan fisik. ’’Tapi, kami belum mengetahui penyebabnya. Kesimpulan awal hanya trauma,’’ ucap Pesta. Karena itu, selain melakukan perawatan fisik, tim RSUD menghadirkan dokter psikiater. ’’Jadi, namanya tidak lagi sebatas penanganan intensif. Tapi, komprehensif,’’ ungkapnya. Dia mengatakan, saat menjenguk JA pada Sabtu malam (30/11), kondisi anaknya aktif dan mau bicara. Bahkan, JA beberapa kali mengajaknya pulang.

Pesta menerangkan, sang anak masih harus masuk ruang isolasi karena butuh penanganan yang maksimal. Bocah itu harus mendapatkan ketenangan. Sebab, trauma yang didapat JA tergolong berat. Luka di sekujur tubuhnya mengindikasikan adanya dugaan kekerasan. ’’Tapi, kami tidak mau sesumbar. Hasilnya kami serahkan ke polisi,’’ jelasnya.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni menyatakan sudah memeriksa tim dokter, ibu JA, pakde, dan bude JA, serta pelapor. ’’Masing-masing kami cecar banyak pertanyaan pada Sabtu (30/11) mulai pukul 15.00 hingga pukul 21.00,’’ ujar perwira dengan tiga balok di pundak tersebut.

Hasilnya belum bisa dipastikan apakah status mereka naik atau tidak. ’’Kami belum bisa menyimpulkan,’’ katanya. Meski begitu, Ruth menerangkan sudah mengatur jadwal pemeriksaan dengan tim dokter RSUD dr Soetomo. ’’Saat ini baru satu dokter anestesi yang kami periksa. Lainnya menyusul,’’ ungkapnya.

Di sisi lain, pakde dan bude JA masih shock. Saat ditemui di Jalan Pacar Kembang II Nomor 65, Tambaksari, keduanya mengaku sudah menyerahkan seluruh pemeriksaan ke pihak berwenang. ’’Saya ini ndak tega melihat kondisi JA seperti itu. Mana mungkin kami yang melakukannya,’’ ucap JB, pakde JA.

Dia menuturkan, hal itu hanya skenario IN untuk menjebloskannya ke penjara. ’’Ini sudah setting-an. Mana mungkin kami ingin mencelakai JA,’’ tegasnya. Saat ditanya kondisi JA yang sering menjerit di rumah tersebut, JB membantah itu terjadi karena ulah mereka. Dia menilai suara tersebut berasal dari pasiennya yang sedang menjalani perawatan. ’’Saya kan buka praktik pengobatan totok saraf. Ya pasien sering menjerit,’’ kata JB.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : jar/c15/tia



Close Ads