alexametrics

Rencana Pembukaan 21 SMP di Surabaya, Izin Orang Tua Paling Penting

2 Agustus 2020, 13:48:29 WIB

JawaPos.com – Orang tua bakal memiliki peran yang sangat penting dalam rencana pembukaan 21 sekolah di Surabaya. Mereka punya kendali untuk mengizinkan anak-anak masuk atau tidak di sekolah tersebut.

Dalam peraturan bersama empat menteri, yaitu menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud), menteri agama (Menag), menteri kesehatan (Menkes), serta menteri dalam negeri (Mendagri), pembukaan sekolah itu setidaknya mempertimbangkan empat hal.

Yakni, lokasi berada di zona hijau, ada izin dari pemerintah daerah, ada disiplin pemenuhan protokol kesehatan di sekolah, dan izin dari orang tua.

Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Supomo mengungkapkan, orang tua tentu akan dilibatkan dalam pembukaan 21 sekolah tersebut. Mereka akan disodori surat pernyataan untuk memberikan izin atau tidak anaknya masuk sekolah.

’’Walaupun tidak di atas meterai, sudah cukup memberikan gambaran kalau orang tua setuju atau tidak,’’ kata Supomo.

Dia menegaskan, tidak akan ada paksaan bagi orang tua. Sebab, sistem belajar secara daring juga tetap akan diterapkan di 21 sekolah tersebut.

’’Yang sudah ikut dalam perjalanan boleh tidak ikut. Sebaliknya, yang kemarin tidak ikut dalam perjalanan boleh ikut. Tidak ada paksaan, tergantung orang tua,’’ jelas Supomo.

Namun, orang tua yang tak mengizinkan anaknya untuk masuk sekolah juga harus mempertimbangkan kondisi pembelajaran siswa. Apakah orang tua tersebut punya kemampuan untuk memberikan pendampingan kepada anaknya dalam belajar daring?

’’Ketika keputusan sekolah di rumah saja, ya harus punya kemampuan untuk mengendalikan anak,’’ jelas dia.

Salah satu yang bisa terjadi, orang tua bekerja dan anak belajar sendiri di rumah tanpa pendampingan. Karena itu, pengawasan anak lebih minim di rumah pada jam-jam belajar di sekolah.

Pemkot Surabaya memang sedang mengupayakan agar Kota Pahlawan bisa segera terbebas dari pandemi Covid-19. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat telekonferensi dengan warga Gunung Anyar kemarin (1/8) menyebutkan bahwa Surabaya sudah memasuki zona hijau. Hal tersebut salah satunya berasal dari data Kementerian Kesehatan.

’’Kondisi Surabaya sudah hijau yang artinya penularannya sudah rendah. Lalu, yang sembuh sudah banyak,’’ kata Risma di Dapur Umum Balai Kota Surabaya kemarin (1/8).

Pembina Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Jatim Estiningtyas Nugraheni menyatakan, peran orang tua memang sangat penting dalam pembukaan sekolah. Bukan sekadar soal izin. Namun, orang tua juga punya peran untuk mengawasi anak-anak agar terus patuh pada protokol kesehatan. Mulai pakai masker, jaga jarak, hingga rajin cuci tangan.

’’Kalau risiko di sekolah sudah diturunkan dengan membuat serangkaian kajian dan protokol, di luar sekolah juga begitu,’’ ungkap dia.

Risiko penularan di mana pun ada dan memang tak bisa dibuat benar-benar zero. Namun, dapat diminimalkan dengan protokol-protokol yang diatur secara ketat. Risiko penularan itu tidak hanya terjadi di tempat-tempat yang berada di bawah kendali atau kontrol pemerintah. Ruang pribadi yang kendalinya secara personal juga harus mendapat perhatian.

’’Guru tanggung jawabnya di sekolah. Tapi, kalau di rumah adalah tanggung jawab orang tua,’’ ujar Esti. Bisa jadi seorang siswa terkena Covid-19 di luar sekolah dan ke sekolah menularkan. Maka, pengetatan tidak hanya terjadi di sekolah. Protokol kesehatan juga harus dijaga di luar sekolah.

Sementara itu, Koordinator MKKS SMP Swasta Surabaya Erwin Darmogo mengungkapkan, pelibatan orang tua itu termasuk tahap akhir setelah protokol-protokol kesehatan dipenuhi. Dia menyebut ada syarat utama yang harus dipenuhi, yakni zona hijau, izin dari pemerintah daerah, dan pemenuhan protokol kesehatan.

’’Kalau sekolah-sekolah yang akan dibuka, 21 sekolah itu sudah dapat lampu hijau dari segi protokol kesehatannya, baru akan sosialisasi kepada orang tua,’’ jelas Erwin kemarin.

Maka, kata dia, saat ini sekolah belum memberikan sosialisasi kepada orang tua. Salah satunya menghindari simpang siur informasi. Namun, dia memastikan bahwa pihak MKKS juga diajak koordinasi untuk pembukaan sekolah tersebut. MKKS SMP Swasta Surabaya pun mendukung langkah pembukaan tersebut.

’’Timbangane belajar di warkop atau di balai RW, kan lebih baik siswa belajar di sekolah. Karena ada guru yang mengawasi juga,’’ ungkap Erwin.

Masih Deg-degan, Banyak Juga Yang Setuju

Beragam respons ditunjukkan para orang tua atau wali murid terkait dengan kebijakan sekolah yang bakal kembali dibuka. Tidak sedikit orang tua yang setuju. Namun, banyak pula yang menolak dan menilai kebijakan tersebut justru akan menjadi bumerang.

Nella, misalnya. Ibu satu anak tersebut deg-degan jika sekolah buah hatinya kembali dibuka. Dia khawatir akan risiko anaknya terpapar Covid-19. ’’Ini Covid-19 di Surabaya kan juga belum mereda. Nggak ada yang bisa menjamin juga kalau anak-anak aman di sekolah,’’ terangnya kepada Jawa Pos kemarin (1/8).

Perempuan yang bekerja sebagai tenaga kesehatan itu menilai, lebih baik kebijakan membuka sekolah kembali diurungkan saja. Atau, ditunda dulu.

Dia mengungkapkan tidak masalah jika anaknya belajar secara online atau daring (dalam jaringan). Setiap malam dia menyempatkan untuk mendampingi anaknya belajar.

’’PR dari sekolah setiap hari kan ada. Kasihan juga kalau nggak diajarin kan,’’ tambah Nella yang anaknya masih duduk di kelas II SD.

Nella tak memungkiri memang ada tantangan ketika anak belajar secara daring. Salah satunya terkait dengan sinyal atau jaringan internet. ’’Kadang muridnya sudah stand by di Zoom, tapi nggak bisa masuk ke Zoom. Sulit karena sinyal,’’ ungkapnya.

Beda orang tua, lain juga pendapatnya. Khusnul justru sangat mendukung kebijakan sekolah yang akan dibuka kembali. Dia menilai belajar secara daring sangat tidak efektif. ’’Program daring ini nggak bikin anak mengerti, tapi malah bikin anak malas belajar,’’ terang ibu tiga anak tersebut.

Khusnul menyebutkan, dirinya siap membekali anak dengan beragam alat pelindung diri (APD). Mulai face shield, masker, hingga hand sanitizer. Perilaku hidup bersih dan sehat dikuatkan. ’’Cuci tangan, cuci tangan, cuci tangan. Jangan lupa cuci tangan,’’ pesan Khusnul kepada tiga anaknya.

Sama seperti Khusnul, Ratnasari pun sangat senang jika kebijakan kembali ke sekolah benar-benar direalisasikan. Dia menyatakan, sebetulnya bulan lalu dirinya diminta mengisi survei dari sekolah. ’’Kami sebagai orang tua setuju nggak kalau anak-anak masuk. Saya contreng setuju. Tetapi, sampai sekarang, anak-anak juga belum masuk sekolah,’’ paparnya.

Ibu dua anak itu berharap kebijakan kembali sekolah segera dilakukan. Biaya untuk membeli paket data internet hingga buruknya sinyal menjadi keluhannya. ’’Belum lagi kalau dijelaskan lewat smartphone, itu kadang saya dengar nggak jelas juga. Telat setor tugas, guru marah-marah,’’ imbuh Ratna.

Protokol Kesehatan Diterapkan sejak dari Rumah

Kapan siswa kembali masuk sekolah belum diketahui pasti. Namun, sejumlah sekolah mulai melakukan persiapan. Misalnya, SMPN 15 Surabaya yang mengadakan simulasi siswa belajar di sekolah kemarin (1/8). Simulasi dilangsungkan sejak pagi.

Seluruh guru dilibatkan dalam kegiatan. Bahkan, ada pendidik yang berperan sebagai murid.

SADAR RISIKO: Para kepala SMP mengikuti sosialisasi manajemen risiko yang diadakan Dispendik Surabaya, Sabtu (1/8). (Frizal/Jawa Pos)

Kepala SMPN 15 Surabaya Shahibur Rachman menjelaskan bahwa seluruh proses simulasi sudah didokumentasikan. Nanti video diserahkan ke Satgas Covid-19 dan Dispendik Surabaya. ’’Nanti dievaluasi mana yang kurang. Ada kemungkinan juga video simulasi jadi percontohan sekolah lainnya,’’ kata Rachman.

Dia menjelaskan bahwa proses simulasi dilakukan secara lengkap. Termasuk dari rumah siswa masing-masing. Sebelum berangkat, peserta didik wajib sarapan dan dites suhunya. Dia juga wajib memakai masker dan pelindung wajah (face shield).

Rachman menjelaskan, sekolah siap sepenuhnya apa pun dengan keputusan pemerintah. Termasuk jika siswa kembali aktif bertatap muka. Sekolah sudah melakukan berbagai persiapan.

Tidak hanya menyiapkan sarana cuci tangan. Bangku-bangku di tiap ruangan juga sudah diatur. Kapasitasnya 50 persen. ’’Ada penerapan physical distancing secara ketat sehingga siswa bisa terlindung sepenuhnya,’’ papar Rachman.

Sementara itu, Kepala SMP PGRI 6 Banu Atmoko mengungkapkan bahwa persiapan menuju pembelajaran tatap muka dilangsungkan sejak masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sesi ketiga berakhir atau ketika memasuki masa new normal. Jadi, jika sewaktu waktu pemkot memutuskan membuka pembelajaran, fasilitas sudah siap.

’’Sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Makanya kalau sewaktu-waktu dibuka, kami siap,’’ tuturnya kemarin. Alumnus jurusan PLS Universitas Negeri Surabaya itu mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyediakan tempat cuci tangan di beberapa tempat khusus di sekolahnya. Tidak terkecuali di tiap kelas.

Terkait kemampuan sekolah untuk membuat pembatasan jarak siswa dan mengurangi kapasitas di tiap kelas, sekolah telah mempersiapkan beberapa opsi. Bahkan, beberapa ruangan yang awalnya tidak untuk ruang kelas dipersiapkan buat kelas pembelajaran.

’’Sudah kami pertimbangkan teknisnya. Jadi, kelas akan diisi 50 persen siswa saja nanti,’’ tutur Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Surabaya itu. Dia menambahkan, MKKS Surabaya Utara juga tengah mempersiapkan pembentukan Satuan Gugus Tugas Covid-19. Fungsinya sebagai pelaksana untuk menjaga agar protokoler kesehatan tetap dijalankan. ’’Beberapa sekolah naungan MKKS utara sudah diminta membuat tim itu,’’ paparnya.

Dia menjelaskan bahwa ada tugas pokok dan fungsi yang dijalankan. Salah satunya protokol kesehatan secara umum yang menyediakan prasarana sesuai standar. Misalnya, deteksi suhu tubuh, masker, wastafel, juga hand sanitizer.

Kemudian, mengatur jadwal peserta didik dan jarak tempat duduk. Banu mengatakan, masker cadangan dan pelindung wajah dalam jumlah yang banyak sudah tersedia. Juga, sterilisasi dengan disinfektan akan dilakukan secara berkala. ’’Sebelumnya ada tugas pembuatan masker dan face shield. Sebagian disimpan di sekolah dan sebagian untuk siswa sendiri,’’ jelasnya.

Kemudian, pihaknya akan mengoptimalkan fungsi unit kesehatan sekolah (UKS) beserta kelengkapannya. Bukan hanya itu, pelaksanaan protokol kesehatan juga dilakukan untuk beberapa laboratorium, tempat ibadah, hingga toilet. ’’Intinya jaga jarak. Masker kudu dipakai terus dan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat). Kalau itu disiplin. Aman kita,’’ lanjutnya.

  • Protokol Kesehatan Siswa Belajar di Sekolah
  • Siswa melakukan persiapan di rumah dengan wajib sarapan, tes suhu badan, dan memakai masker.
  • Siswa diantar ke sekolah langsung oleh wali murid.
  • Siswa wajib melewati bilik disinfektan dan cuci tangan.
  • Ada guru yang mengarahkan di depan kelas.
  • Siswa menjaga jarak di dalam ruang kelas.
  • Siswa dilarang jajan sembarangan.
  • Siswa yang pulang sekolah wajib melewati bilik disinfektan dan tidak boleh mampir-mampir sebelum sampai di rumah masing-masing.

Sumber: Simulasi SMPN 15 Surabaya

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : hen/zam/sam/jun/c19/c15/ady



Close Ads