alexametrics

Gugatan Cerai di Surabaya Turun Drastis Selama Pandemi

2 Juni 2020, 07:00:52 WIB

JawaPos.com – Jumlah gugatan cerai yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) Surabaya selama pandemi Covid-19 ini menurun drastis. Hingga akhir Mei ini, hanya ada 179 gugatan cerai. Padahal, selama April, 338 gugatan diterima. Jumlah itu juga lebih sedikit jika dibandingkan dengan Maret (532 gugatan).

Pada Februari dan Januari, rata-rata 800 gugatan cerai didaftarkan ke PA Surabaya. ’’Menurun sekitar 40 persen daripada sebelum pandemi,’’ ujar panitera PA Surabaya Abdus Syakur.

Penurunan jumlah gugatan cerai selama pandemi ini disebabkan pembatasan jam pelayanan. Menurut dia, sesuai dengan kebijakan Mahkamah Agung (MA), pelayanan selama masa pandemi hanya diberikan selama tiga jam. Berbeda dengan sebelum pandemi yang pelayanan dibuka selama delapan jam. ’’Karena pembatasan jam layanan selama masa pandemi,’’ katanya.

Syakur menyatakan, minat cerai selama masa pandemi sebenarnya cukup tinggi. Namun, mereka tidak bisa langsung mendaftarkan gugatan karena dibatasi jam pelayanan. Menurut dia, masih banyak orang yang ingin mendaftarkan gugatan cerai setelah pelayanan ditutup. ’’Jam 12 kami tutup, masih banyak orang yang datang. Banyak yang ngomel-ngomel. Namanya soal hati dan perasaan,’’ ungkapnya.

Syakur menuturkan, turunnya angka perceraian selama pandemi tidak bisa dijadikan pertimbangan bahwa rumah tangga lebih harmonis selama pandemi. Angka perceraian merosot karena jam pelayanan terbatas sehingga tidak banyak penggugat yang langsung terlayani ketika mengajukan gugatan cerai. ’’Jadi, bukan karena pandemi orang cerai sedikit. Tapi, karena terbatasnya jam pelayanan,’’ jelasnya.

Terlebih, ketika pandemi, banyak keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi lantaran tidak bisa bekerja. Menurut dia, faktor ekonomi sering dijadikan alasan untuk menggugat cerai. Mayoritas yang menggugat cerai adalah istri.

Mereka yang mengajukan perceraian sering kali berasal dari keluarga yang mempunyai beban hidup tinggi. Selain itu, alasan kedua yang menjadi penyebab perceraian adalah perselingkuhan. Salah satu pihak, baik suami maupun istri, merasa tidak bisa menerima kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga. Dia lalu menggugat cerai pasangannya.

Perselingkuhan juga masih berhubungan dengan bercerai karena tingginya biaya hidup. Penggugat menggugat cerai pasangannya lantaran tidak puas dengan nafkah dari pasangannya, lalu mencoba mencari pasangan lain.

Maret

  • Cerai gugat 275
  • Cerai talak 257
  • Jumlah: 532 kasus

April

  • Cerai gugat 202 kasus
  • Cerai talak 136 kasus
  • Jumlah: 338 kasus

Mei

  • Cerai gugat 122 kasus
  • Cerai talak 57 kasus
  • Jumlah: 179 kasus

Sumber: Pengadilan Agama (PA) Surabaya

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gas/c14/eko



Close Ads