Pupuk Subsidi Sulit, Nonsubsidi Mahal, Sebagian Petani Pakai Organik

1 November 2022, 20:10:17 WIB

JawaPos.com – Sebagian petani di wilayah Jatim masih dipusingkan dengan pemenuhan kebutuhan pupuk. Pada saat kuota pupuk bersubsidi belum sesuai dengan usulan, harga pupuk bersubsidi terus merangkak naik.

Kondisi tersebut membuat pengeluaran para petani berpotensi terus bertambah. Karena itu, sebagian petani mulai menjajal alternatif lain. Salah satunya, menggunakan pupuk organik.

Lonjakan harga pupuk bersubsidi sebenarnya terjadi sejak tahun lalu. Yang bikin petani pusing, kenaikan itu terus berlangsung. Kini harganya sudah melonjak dua kali lipat dari harga sebelumnya.

Jenis urea misalnya. Saat ini harganya sudah tembus Rp 12 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 6 ribu per kilogram. Demikian pula pupuk NPK. Saat ini harganya berkisar Rp 18 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 9 ribu per kilogram. Itu terjadi sejak tahun lalu.

”Kenaikan disebabkan oleh beberapa hal seperti krisis gas di Eropa yang menyebabkan kenaikan harga gas internasional (gas bahan baku pupuk),’’ ujar SPV Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia Wijaya Laksana.

Terkait kondisi tersebut, kata Wijaya, pihaknya tidak bisa terlibat untuk mengontrol. Sebab, harga pupuk nonsubsidi ditentukan oleh mekanisme harga pasar internasional.

Meski harganya terus naik, permintaan pupuk nonsubsidi meningkat. Di Jatim, peningkatan terjadi khususnya untuk pupuk ZA komoditas tebu. Begitu juga jenis pupuk lainnya. ”Untuk di Jatim, stok pupuk nonsubsidi saat ini mencapai sekitar 120 ribu ton,’’ paparnya.

Di sisi lain, pupuk bersubsidi di Jatim juga masih berpotensi kurang. Pada September lalu, provinsi ini memperoleh jatah tambahan 198.540 ton. Hanya separo dari pengajuan 366 ribu ton. Itu pun yang dipenuhi hanya dua jenis pupuk dari lima jenis yang diajukan.

Merangkaknya harga pupuk nonsubsidi memaksa para petani untuk mencari alternatif pemenuhan kebutuhan pupuk. Salah satunya, menggunakan pupuk organik. ”Harganya jauh lebih murah. Meski butuh tenaga banyak, untuk keberlanjutan kesuburan tanah jelas lebih bermanfaat,” kata Akat, petani bawang merah asal Nganjuk.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jatim Hadi Sulistyo memaparkan, pihaknya tidak memiliki wewenang perihal pupuk nonsubsidi. ”Saat ini kami memiliki program sosialisasi penggunaan pupuk organik yang bisa dibuat petani sendiri. Harganya murah serta mampu memperbaiki struktur tanah,” katanya.

KETERSEDIAAN PUPUK DI JATIM

Pupuk Bersubsidi

Kuota awal 2022 : 2,2 juta ton

Tambahan kuota : 198.540 ton

Pupuk Nonsubsidi

Stok tersedia : 120 ribu ton

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : elo/c6/ris

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads