alexametrics

Upaya Unesa Memberi Makan Mahasiswa yang Tertahan di Surabaya

1 Mei 2020, 20:48:52 WIB

Hampir 700 mahasiswa Universitas Negeri Surabaya tidak bisa pulang ke daerah asal. Pesawat, kereta, atau kapal laut belum tersedia, apalagi pada puncak pandemi Covid-19 seperti saat ini. Rektorat pun mencari cara agar mereka tetap bisa makan tanpa banyak keluar asrama atau kos.

SALMAN MUHIDDIN, Jawa Pos

LOBI gedung rektorat Unesa di Lidah Wetan begitu sibuk kemarin siang. Kiriman beras yang dipesan kampus sudah datang. Petugas bergantian memanggul lima sak beras yang masing-masing berisi 5 kilogram.

Ada juga yang mengangkutnya dengan troli biar cepat. Suara rodanya berdecit memenuhi lobi rektorat yang terbilang masih baru itu. Suaranya menggema karena belum banyak barang di lantai dasar tersebut.

Beras-beras dikumpulkan di salah satu ruang kosong di sebelah kiri pintu masuk utama. Di ambang pintu masuk ruangan itu, tertempel tulisan mencolok: Unesa Crisis Centre (UCC). Ketua UCC Edy Mintarto akhirnya muncul dari pintu utama.

Setelah menyapa kami, dia langsung masuk ke ruang penyimpanan beras itu untuk mencari salah seorang petugas.

Dia adalah Amrozi Hamiri. ”Nanti diantar Mas Rozi ke asrama mahasiswa asing,” ujar Edy.

Edy mengizinkan Jawa Pos mewawancarai para mahasiswa asing yang tak bisa pulang ke negara asalnya. Program bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) itu memang semakin diminati mahasiswa mancanegara.

Mereka tinggal di asrama khusus dekat masjid kampus. Asrama mereka tak jauh dari asrama putri Unesa. Bangunan yang mereka tinggali merupakan bagunan semipermanen yang terbuat dari kontainer. Namun, fasilitasnya mirip apartemen yang bersih dan dilengkapi pendingin ruangan.

Edy mengatakan, bantuan sembako sudah disebarkan sebelum pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan. Penerimanya nyaris 700 orang. Mereka yang berhak mendapatkan bantuan itu adalah mahasiswa yang berasal dari luar Surabaya Raya (Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo).

Masing-masing mendapatkan paket sembako berupa 5 kilogram beras, kecap, minyak, dan gula. Semuanya diestimasi bisa digunakan selama dua pekan. ”Masih banyak yang tetap stay di Surabaya,” ujarnya.

Tak lama kemudian, Rozi muncul. Dia mengantar Jawa Pos ke asrama itu. Jaraknya tidak sampai 200 meter. Bisa dengan jalan kaki. Namun karena cuaca terik, akhirnya kami naik motor.

Asrama tersebut sangat sepi. Rozi mengetuk pintu masuk yang terbuat dari kaca, tapi tidak ada yang merespons. Sepertinya, seluruh penghuni asrama itu sedang terlelap atau istirahat di kamar masing-masing.

Tiba-tiba muncul suara tegas dari samping gedung. Seorang petugas keamanan berbaju serbahitam datang dan menanyakan maksud kedatangan Jawa Pos siang itu. Rozi menerangkan bahwa kami ingin bertemu dan mengecek kondisi mahasiswa asing tersebut. Seluruh mahasiswa harus dipastikan dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan makanan.

Pintu gedung itu tidak bisa dilewati sembarang orang. Hanya yang memiliki akses sidik jari yang bisa masuk. ”Aku yo lagek iki merene (aku ya baru pertama ini ke sini),” celetuk Rozi.

Petugas asrama lantas memanggil sejumlah mahasiswa yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Mereka sudah menempuh program pendidikan bahasa Indonesia selama satu tahun.

Yang datang saat itu adalah tiga perempuan. Mereka tampak cengegesan dan malu-malu. Li Jin Xiao memperkenalkan dirinya lebih dulu. Dia adalah mahasiswa dari Tian Jin. Sebuah kota di tenggara Beijing. Dia mengaku sudah mendapat bantuan sembako dari rektorat. Persediaan makanan pun aman. ”Kalau belanja, kami titip ke petugas yang biasa bersih-bersih di sini,” ujarnya.

Dia mengonsumsi banyak sayur. Mulai kubis, wortel, sawi, hingga tomat. Katanya, makan sayur dan buah sangat dianjurkan saat pandemi Covid-19. ”Banyak sayur biar sehat,” ucapnya.

Li Jin sangat rindu kampung halaman. Namun, tak ada pesawat yang melayani penerbangan ke Tiongkok. Dia juga belum tahu sampai kapan kondisi akan seperti ini. Sebelum pelarangan penerbangan, harga tiket pesawat semakin mahal. Bisa sampai Rp 30 juta sekali berangkat.

Dua rekannya berasal dari Thailand. Karena nama mereka sulit dieja, mereka menulis sendiri pakai pensil. Ternyata, nama mereka adalah Cherreda dan Wiparat. Keduanya juga gemar makan sayur. Ada ruangan khusus yang bisa digunakan untuk memasak bersama. ”Biasanya, kami belanja di PTC (Pakuwon Trade Centre),” ujarnya.

Keduanya berasal dari Nakhon Si Thammarat. Daerah pesisir di Semenanjung Melayu itu berjarak 610 km di selatan Bangkok. Mereka begitu ingin pulang ke rumah.

Untuk mengobati rasa kangen, keduanya hanya bisa menghubungi keluarga lewat video call setiap hari. Sebab, tidak ada lagi kegiatan yang bisa mereka lakukan. ”Visa kami selesai bulan depan,” ujar Wiparat.

Mereka berharap pandemi segera berakhir. Sebab, studi dua semester yang mereka tempuh telah tuntas. Tiket pesawat ke Bangkok juga tidak mahal bagi mereka. Hanya Rp 2 juta. Namun, kini tidak ada yang menjualnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads