alexametrics

Sulit Tes karena Kekurangamn Alat, Semua Diperlakukan Positif Covid-19

Jenazah di Jalan Sidotopo Lor Bikin Geger
1 Mei 2020, 17:48:50 WIB

JawaPos.com – Memastikan seseorang terkonfirmasi positif Covid-19 ternyata tidak cukup mudah hingga sekarang. Sebab, ketersediaan peralatan tes itu sangat sedikit. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sampai harus menelepon langsung Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto untuk meminta tambahan 7 ribu alat tes.

Risma memerinci, 2 ribu alat akan digunakan untuk mengetes masyarakat. Sebanyak 5 ribu lainnya akan dimanfaatkan untuk para tenaga medis.

Dia menuturkan, 2 ribu orang yang akan dites itu merupakan hasil tracing kontak erat dari pasien yang terkonfirmasi positif. Ada yang berstatus orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pemantauan (ODP), dan pasien dalam pengawasan (PDP). Bahkan, ada pasien yang dirawat inap, tapi belum dites.

”Sudah tiga hari dan empat hari dirawat, tapi belum dites,” ungkap Risma di halaman Balai Kota Surabaya kemarin (30/4).

Dia menceritakan, berdasar data pada 28 April, 20 orang dirawat inap atau opname. Dari jumlah tersebut, ternyata ada pasien yang dirawat inap sejak 31 Maret. Ada pula yang dirawat sejak 11, 12, 17, dan 21 April. Tapi, mereka tak segera dites. Pada Rabu (29/4) ada dua orang yang dites. Jadi, total masih 18 orang yang dirawat.

”Karena tak punya alat tes, kami anggap semua itu wis positif kabeh. Karena itu, perlakuannya sama dengan pasien yang positif,” jelas Risma.

Karena diperlakukan positif, orang itu didatangi dokter atau petugas puskesmas untuk memeriksa keadaannya. Bila orang tersebut memiliki gejala, petugas mengidentifikasi dan memasukkannya dalam kategori PDP. Meski, belum terkonfirmasi dari gejala tersebut menunjukkan positif. Yang sulit adalah warga kategori OTG. Orang tersebut akhirnya dianggap positif.

Orang-orang tersebut harus menjalani isolasi mandiri. Mereka tidak boleh keluar rumah. Pemkot memberikan makanan serta vitamin. ”Sekarang kami tambah menunya. Misalnya, telur dari tiga jadi lima. Supaya dia kalau kebal tubuhnya tak jadi positif,” ungkap Risma. Ada pula tambahan sari lemon plus madu dan air hangat untuk para pasien yang isolasi mandiri tersebut. ”Katanya di Palestina tak ada yang kena itu karena makan lemon. Jadi, kami sekarang bagi lemon,” tambah Risma.

Dari hasil pemantauan, 1.880-an orang dinyatakan sudah sembuh atau lepas dari masa isolasi mandiri. Mereka sebelumnya menyandang status ODP, PDP, atau OTG. Tapi, setelah melewati masa isolasi mandiri dan perawatan, orang itu dibebaskan dari status tersebut. Tapi, mereka tetap diminta untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

Lebih lanjut, Risma mengungkapkan bahwa saat menelepon langsung Menteri Kesehatan Terawan, dirinya juga meminta bantuan alat tes itu segera didistribusikan. Dengan mengetes orang-orang yang dicurigai tersebut, pemerintah kota akan semakin mudah dalam penanganan dan pelacakan kontak erat berikutnya. Memang ada informasi sudah puluhan ribu alat tes yang didistribusikan ke lembaga-lembaga yang selama ini melakukan tes.

”Saya sampaikan ke Pak Menteri, hingga 29 April kami belum terima. Kalau 2.000 orang bisa dites semua, kita bisa pisahkan mana yang positif dan mana yang negatif,” jelas Risma.

Orang yang negatif akan dipisahkan sehingga tak tertular. Dari pembicaraan lewat telepon tersebut, Risma menyebutkan ada kesanggupan Menteri Terawan untuk membantu pemkot. Bahkan, alat tes segera dikirim dengan pesawat. Sebab, selama ini pemkot hanya menunggu. Ada informasi bantuan disampaikan lewat provinsi terlebih dahulu.

”Sehari hanya empat atau enam yang dites. Kan ini berat untuk kita. Nunggunya sampai kapan. Karena itu, Pak Menteri bilang kami akan dibantu,” ungkap dia.

Lantaran kekurangan alat tes tersebut, penentuan seseorang positif atau negatif Covid-19 tak bisa dilakukan dengan cepat. Akibatnya, bila ada orang yang meninggal mendadak pun, bisa jadi dia dianggap sebagai pasien Covid-19. Termasuk kejadian di Jalan Sidotopo Lor, Semampir, kemarin pagi (30/4).

Siswati, warga Sidotopo Sekolahan, tiba-tiba ambruk di pinggir jalan. Warga semakin panik seusai mendengar bahwa perempuan tersebut telah meninggal. Otomatis, kematian Siswati mengundang perhatian masyarakat. Warga yang penasaran ramai-ramai berdatangan. Mereka tak berani menolong karena takut jika korban terpapar virus.

Beberapa tenaga medis di lokasi terdekat sempat datang ke lokasi dan berupaya menolong. Namun, mereka akhirnya juga balik kucing. ’’Kami lantas menghubungi bagian kesehatan dan meminta didatangkan satu tim medis dengan APD lengkap,” kata Kapolsek Semampir Kompol Aryanto Agus.

Jenazah Siswati akhirnya dievakuasi dan dibawa ambulans ke RSUD dr Soetomo. Proses evakuasi dilakukan dengan standar penanganan pasien Covid-19. Selain memakai APD, petugas membungkus jenazah secara berlapis.

Aryanto menjelaskan, polisi melakukan beberapa upaya sebagai langkah antisipasi. Tempat kejadian dipasangi garis kuning. Petugas juga memeriksa beberapa saksi.

Dari keterangan anaknya, korban pernah mengeluh sakit vertigo. Dia pergi untuk periksa ke dokter. ’’Sementara tidak ada tanda-tanda kekerasan. Kami sudah memeriksanya,” kata Aryanto.

Meski begitu, dia menjelaskan bahwa jenazah akan dites lebih lanjut untuk memastikan kondisinya. ’’Jika hasilnya positif kena virus, kami akan berkoordinasi dengan pemerintah. Termasuk menentukan proses isolasi keluarganya,” tandas Aryanto.

Tersangkut Covid-19 di Surabaya

  • ODP dipantau: 903 orang
  • PDP dalam pengawasan: 745 orang
  • Konfirmasi positif dalam perawatan: 300 orang

Jumlah kumulatif

  • PDP : 1.129 orang
  • ODP : 2.487 orang
  • Konfirmasi : 438 orang

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : jun/hen/c7/ady

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads