alexametrics

Dua Pedagang Pasar Krian Sidoarjo Terpapar Covid-19

1 Mei 2020, 18:48:33 WIB

JawaPos.com – Pemkab Sidoarjo mengkaji lagi jam operasional Pasar Krian. Rencana itu disiapkan setelah ditemukan dua pedagang yang terdeteksi positif Covid-19. Pasar Krian bisa ditutup sebagian. Atau mungkin seluruhnya.

Dua pedagang itu dikenal sebagai suami istri. Mereka adalah warga Gresik yang mencari nafkah di wilayah Sidoarjo sebagai pedagang kelontong. Saat ini keduanya dirawat di RS Gresik. ”Tadi (kemarin, Red) langsung dibahas. Sudah kami laporkan,” kata Kabid Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo Nawari.

Petugas juga langsung menyemprotkan cairan disinfektan di lingkungan pasar. Sebab, baru kemarin pagi, disperindag mendapat laporan dari Puskesmas Karangandong, Driyorejo. Untuk sementara, pasar tersebut belum ditutup.

”Tim dinkes turun ke lapangan. Sabtu tracing,” kata Asisten 1 Tata Pemerintahan dan Kesra Setda Sidoarjo M. Ainur Rahman. Selain itu, dilakukan rapid test kepada pedagang yang losnya berdekatan dengan pedagang positif tersebut. Jarak sampai 50 meter dari los pedagang yang positif akan diuji cepat semua. Setelah itu, baru diputuskan untuk ditutup sebagian atau seluruhnya. ”Kalau dari rapid test nanti positif, secara regulasi akan kami tutup,” tambah Nawari.

Sementara itu, pembatasan jam operasional pasar di Sidoarjo berlaku selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak Selasa (28/4). Namun, ada aturan khusus untuk Pasar Porong dan Pasar Krian.

Semula, disperindag memberlakukan aturan pasar induk untuk bisa buka dua kali. Pertama, pukul 04.00 sampai pukul 11.00. Lalu, dibuka kembali pukul 16.00 sampai pukul 20.00. Namun, aturan baru memperbolehkan khusus pedagang konfeksi di Pasar Krian yang buka dari pukul 09.00 sampai pukul 16.00.

Selain itu, loading dock di Pasar Porong dilakukan pukul 14.30 sampai pukul 20.00. Meski penerapan jam malam PSBB sampai pukul 21.00, disperindag membatasi jam operasional pasar hanya sampai pukul 20.00. Dengan demikian, ada persiapan pedagang untuk keluar dan beres-beres sebelum pukul 21.00.

”Meski 14.30 sudah loading dock, pedagang baru boleh buka tetap pukul 16.00,” tambah Nawari. Untuk pasar lain, tidak ada loading dock. Buka tetap pukul 16.00 untuk yang sore.

Meninggal Mendadak di Warkop dan di Jalan

Tiga orang meninggal mendadak dalam dua hari kemarin. Masing-masing terjadi di Buduran, Sedati, dan di Wonoayu. Hasil pemeriksaan medis memastikan ketiganya meninggal akibat penyakit kronis.

Korban yang meninggal di Buduran adalah Budiman. Rabu (29/4) pukul 20.00, lelaki 65 tahun itu tiba di warkop Jalan Antartika. Warga Jalan Bogen, Tambaksari, Surabaya, itu ngopi bersama teman-temannya. Awalnya, tidak terlihat gejala serangan jantung. Budiman tampak gayeng berbincang. Salah satu temannya adalah Mujalal.

Satu jam kemudian, warkop bersiap tutup. Sebab, mulai 28 Maret hingga 11 Mei, Kota Delta menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Seluruh aktivitas dibatasi jam malam. Termasuk warkop. Karena kopi belum habis, Budiman ditoleransi. Pemilik warkop menunggu.

Korban terus mengobrol dengan Mujalal. Namun, baru beberapa menit, Mujalal melihat Budiman lemas, lalu ambruk. Teman-temannya panik. Mujalal dan Abdul Wahab, rekan yang lain, memberanikan diri untuk menggotong Budiman. Tubuh sopir itu dibaringkan di kursi kayu. Budiman diketahui meninggal.

Warga bergegas menghubungi Polsek Buduran. Tim bidang dokter kesehatan polresta (biddokespol) dibantu Kapolsek Buduran Kompol Sujut serta Kanitreskrim Polsek Buduran Ipda Nanang Mulyono mengevakuasi korban. Petugas memakai alat pelindung diri (APD). ”Langsung dibawa ke RSUD Sidoarjo,” ucap Nanang.

Di Sedati, seorang pria bernama Sulihan meninggal dalam perjalanan. Kamis (30/4) pukul 10.00, Sulihan diboncengkan Suwanto lewat Jalan Raya Buncitan, Sedati. Keduanya mengendarai Honda Supra X nopol L 5572 DI. Mereka menuju Gedangan.

Suwanto mendadak curiga. Sebab, temannya itu terus diam di boncengan. Warga Tuban itu lantas menoleh ke kaca spion. Suwanto memutuskan untuk minggir. Dia melihat mata Sulihan terpejam. Tubuh lelaki 37 tahun itu lemas. Setelah dicek, warga Desa Soko, Tuban, itu pingsan.

Suwanto dengan dibantu anggota Polsek Sedati membawa Sulihan ke Puskesmas Sedati. Sayang, Sulihan sudah tiada. ”Jenazah dibawa ke RSUD,” ucap Kanitreskrim Polsek Sedati Ipda Febi Andis Feridan.

Kejadian hampir serupa terjadi di Dusun Gondang, Desa Candinegoro, Wonoayu. Warga bernama Rusmiani juga tiba-tiba meninggal. Menurut keterangan Taufik, warga setempat, Rusmiani sudah lama sakit tifus. Kemarin dia memutuskan untuk pulang. Namun, kondisinya memburuk. Perempuan 47 tahun itu mengeluh sakit. Ketika dibawa lagi ke rumah sakit, nyawanya tak tertolong.

Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji menjelaskan, tiga kejadian tersebut telah ditelaah. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa penyebab kematian mereka bukan virus korona baru. ”Namun, penyakit bawaan,” ucapnya. Misalnya, kejadian di Buduran. Budiman meninggal karena serangan jantung. Rusmiani di Wonoayu meninggal akibat tifus.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : uzi/aph/c12/roz

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads