---
SAAT melintasi pos pertama, perjalanan mereka terasa biasa saja. Masih bisa haha-hihi. Ngobrol santai sambil menikmati sejuknya hutan Gunung Arjuno. Namun, obrolan mereka terhenti saat mendengar suara gaduh. Dahan di sekitar mereka seperti bergesekan dengan sesuatu yang bergerak. ”Saat itu kami pikir hanya hewan. Kami masih abai dan melanjutkan perjalanan” katanya.
Namun, suara gemeresik dahan itu kian santer terdengar. Seolah-olah mengikuti ke mana rombongan Nadya itu pergi. Awalnya dia cuek, menganggap apa yang dia alami bersama teman-temannya hanya kejadian alam. ”Dahan itu terus goyang saat kami jalan. Sampai-sampai kami kaget dan langsung merunduk. Goyangnya dahan tidak seperti diterpa angin. Layaknya dahan yang sengaja digoyangkan,” katanya.
Suasana malam itu kian mencekam. Sebuah batu tiba-tiba mendarat tepat di belakang rombongan itu. Dicari-cari tidak tampak siapa yang melayangkan batu tersebut. ”Tiba-tiba, ketua rombongan kami bertanya ke pendaki perempuan. Apa ada yang sedang haid atau tidak. Dari tiga perempuan termasuk saya, tidak ada yang sedang haid,” terang mahasiswa Universitas Airlangga itu.
Nadya menyatakan pantang bagi perempuan haid untuk mendaki Gunung Arjuno. Makhluk halus senang mengganggu mereka yang sedang menstruasi. ”Setelah itu, kami kembali berdoa dan melanjutkan perjalanan ke puncak,” ujar Nadya. Sejenak mereka melupakan pengalaman ngeri yang terjadi. Membuat api unggun menjadi penghibur saat sudah di puncak.
”Seusai bikin api unggun, kami istirahat. Setelah masuk tenda, samar-samar kok terdengar suara gamelan ya,” ujar mahasiswa program studi manajemen itu. Waswas sudah pasti. Namun, Nadya mencoba tidur dan memejamkan mata. Keesokan hari, Nadya bertanya kepada teman sejawatnya. Ternyata dia tak sendirian. Beberapa di antara rombongan Nadya juga mendengarkan alunan gending yang biasa dimainkan saat acara mantenan.
Pengalaman mistis Nadya dan teman-temannya tidak berhenti di situ. Saat turun, mereka melintas di salah satu mata air dalam trek pendakian. Salah satu temannya punya niat untuk mengambil sedikit air dan membawanya pulang. Mendadak saja teriakan keras terdengar, sesosok makhluk setinggi pohon dan berwarna gelap berdiri di ujung sungai. Seolah-olah mengawasi apa yang dilakukan teman Nadya.
”Ketakutan dan tidak berani ambil. Kami memutuskan segera turun dan pulang. Tiga kali mendaki ke Arjuno baru kali ini saya mengalami kejadian sehoror ini,” katanya dengan nada heran.
Kesasar hingga Sembilan Jam
Perjalanan Ferly Safira dan sepupunya, Kevin Haikal, ke Gunung Arjuno pada 4 Juli 2018 menyisakan memori tak mengenakkan hingga kini. Perjalanan tersebut merupakan yang pertama bagi gadis asal Sidoarjo itu mendaki Gunung Arjuno. Begitu juga dengan sepupunya yang berasal dari Tasikmalaya tersebut.
Pada hari H pendakian, seorang petugas pos menegur mereka. Warna pakaian yang mereka kenakan dianggap pamali alias terlarang jika dipakai naik ke gunung. ’’Setelan baju saya merah. Sementara sepupu saya pakai jaket merah dan tas merah,’’ katanya. Karena terlalu ribet untuk ganti baju, mereka berjanji akan ganti baju saat hendak naik ke puncak. Maksimal sampai di pos 5.
Tidak terasa hari mulai petang. Mereka mendirikan tenda di pos 5. Seseorang mendatangi mereka berdua. Lagi-lagi menegur warna pakaian yang mereka pakai. Tidak lama, ada rombongan lain datang. Mereka pun sepakat untuk berangkat bersama. Total 15 orang naik ke puncak. Jumlahnya ganjil, menurut mitos hal itu tidak boleh dilakukan. Jika dipaksa, ada makhluk halus yang ikut serta.
Jarak pos 5 ke puncak seharusnya tidak memakan waktu lama. Hanya 4–5 jam. Namun, yang terjadi di luar dugaan. Perjalanan terasa sangat lama. Saat sedang istirahat, tiba-tiba ketua rombongan memberikan pengumuman. Mereka seperti nyasar. Sepanjang perjalanan tidak kunjung keluar dari hutan yang lebat.
Lelah bercampur cemas menguasai perasaan Ferly dan Kevin. Kaki yang lemas itu dipaksa untuk terus jalan. Satu per satu anggota rombongan semakin berjarak. Hingga Ferly dan Kevin tiba di puncak lebih dulu. Tepat pukul 07.00. Perjalanan dari pos 5 menuju puncak sangatlah tidak lazim. Apalagi memakan waktu sembilan jam. ’’Setelah makan dan istirahat, pukul 08.00 kami putuskan untuk segera turun,’’ ujarnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=526sG5fCz0U