← Beranda

Perjuangan Orang Tua Mendapatkan Anak lewat Program IVF Bayi Tabung

Dhimas GinanjarMinggu, 22 Desember 2019 | 03.48 WIB
SHARING: Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra bersama dr Aucky Hinting PhD SpAnd di Surabaya pada Minggu (15/12). (Robertus Risky/Jawa Pos)
Mengikuti program in vitro fertilization (IVF) alias bayi tabung menjadi salah satu harapan para orang tua yang ingin mendapatkan buah hati. Di antara mereka, ada yang sudah menunggu belasan tahun hingga ditolak dokter karena dianggap tidak lagi ada harapan.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

SEBELAS tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dalam tahun-tahun itu, pasangan Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra berjuang untuk memperoleh jabang bayi. Namun, semua usaha yang dilakukan gagal. Lantas, melalui bayi tabunglah masa menunggu mereka berakhir. Hanum dinyatakan hamil.

Hanum dan Rangga menikah pada tahun 2005. Namun, baru 2016 mereka benar-benar bisa memiliki anak. Selama masa itu, berbagai metode pernah Hanum jalani Dia mencatat, sudah enam kali mengikuti program inseminasi. Tetapi, dalam perjalanan mengalami kagagalan. ”Ada yang berhasil mencapai umur tiga bulan, tapi jatuh,” ujarnya. Lantas, mencoba metode bayi tabung sebanyak lima kali. Namun, hasilnya sama saja, tidak berhasil.

Sebelas kali mencoba membuatnya hampir putus asa. Lantas, ada kolega yang meminta mencobanya lagi di Surabaya, tepatnya ke dr Aucky Hinting Ph.D., Sp.And. Tetapi, dia ogah-ogahan, trauma gagal lagi masih menggantung di pikirannya.

Tanpa sepengetahuan Hanum, orang tuanya, Amien Rais dan Kusnasriyati Sri Rahayu, mendaftarkan diam-diam ke RSIA Ferina. ”Saat itu ibu meminta saya ke Surabaya dan meminta datang ke dokter Aucky,” paparnya.

Akhirnya dia mengikuti saran tersebut. Saat mencoba, ternyata program bayi tabung itu berhasil. ”Saat dinyatakan hamil, saya benar-benar lepas dari medsos selama enam bulan. Saya menetap di Surabaya juga selama enam bulan,” paparnya.

Kisah perjuangan itu juga dialami pasangan I Dewa Gede Putra Negara dan Desak Putu Kutarini. Keduanya menikah pada 2002. Namun, setelah empat tahun, mereka tak kunjung dapat momongan.

Pada 2010, Desak mencoba program inseminasi. Saat itu sampai empat kali di Singapura. Tapi masih nihil. ”Sebelumnya, mencoba pengobatan tradisional, tetapi gagal juga. Akhirnya 2011 mencoba IVF di Singapura dan gagal juga,” ujarnya.

Mereka pun memutuskan untuk mencoba di tempat lain, yakni di Malaysia. Namun, lima kali mencoba ternyata gagal juga. ”Terakhir mau coba lagi. Tapi, dokter di RS tersebut bilang tidak bisa lagi. Karena kasusnya sulit,” ujarnya.

Bahkan, saat itu dokter menyarankan untuk adopsi atau donor sel telur. Namun, Gede menolak tawaran tersebut. Pada 2015, dia membaca mengenai Dr Aucky. Dengan perasaan pasrah, Gede pun memberanikan diri untuk datang ke Surabaya. ”Saya langsung kaget karena dokter Aucky bilang dengan yakin bisa menangani. Padahal di luar di tolak, tapi di sini bisa,” ceritanya ketika dijumpai di Surabaya beberapa waktu lalu. Akhirnya berbuah manis, Desak dinyatakan hamil.
EDITOR: Dhimas Ginanjar