Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Mei 2025 | 00.45 WIB

Penganiayaan Dominasi Premanisme di Jawa Timur, Debt Collector Jadi Sorotan

Barang bukti berupa sajam yang diamankan dalam Operasi Pekat II Semeru 2025 di wilayah Jawa Timur. (Juliana Christy / JawaPos.com). - Image

Barang bukti berupa sajam yang diamankan dalam Operasi Pekat II Semeru 2025 di wilayah Jawa Timur. (Juliana Christy / JawaPos.com).

JawaPos.com – Hasil ungkap Operasi Pekat II Semeru 2025 menunjukkan bahwa kasus penganiayaan mendominasi tindak premanisme di Jawa Timur. Dari 1.863 kasus yang berhasil diungkap, penganiayaan menempati posisi tertinggi, disusul oleh kasus pemerasan, gangster, dan street crime lainnya. Operasi tersebut melibatkan ribuan personel dari Polda Jawa Timur dan jajaran Polres setempat.

Dirkrimum Polda Jatim Kombes Farman mengungkapkan bahwa modus penganiayaan dilakukan oleh individu maupun kelompok. "Perkara yang paling banyak terjadi adalah penganiayaan, kemudian pemerasan, dan diikuti oleh aksi gangster. Yang lainnya diikuti oleh pencak silat, debt collector, street crime, dan antar kelompok ini berurutan selanjutnya," kata Farman dalam konferensi pers, Jumat (16/5).

Farman menambahkan bahwa kasus pemerasan yang diungkap dalam operasi tersebut sebagian besar melibatkan debt collector. Menurutnya, para debt collector tersebut kerap memaksa seseorang untuk memberikan uang dengan cara intimidasi dan ancaman.

"Yang kami tangani, terutama hasil ungkap, itu mereka memaksa untuk memberikan uang sebagian besar. Untuk di industri tidak ada, tapi yang terjadi sebagian besar oleh DC (debt collector)," ungkapnya.

Bahkan, baru-baru ini pihaknya berhasil mengungkap kasus penyekapan dan pemerasan oleh debt collector di wilayah Malang. Dalam aksi tersebut, korban dipaksa menyerahkan uang di bawah tekanan ancaman fisik. Kasus tersebut langsung ditindaklanjuti oleh kepolisian dan para pelaku kini menjalani proses hukum.

Mengenai keterkaitan kelompok premanisme dengan organisasi masyarakat (ormas), Farman menegaskan bahwa tidak ditemukan indikasi afiliasi dengan ormas tertentu. "Berdasarkan hasil ungkap yang kami lakukan, kelompok yang kami tindak sementara ini tidak ada yang terafiliasi dengan ormas," terangnya. Hal ini mengindikasikan bahwa aksi premanisme tersebut lebih banyak dilakukan oleh kelompok independen.

Menurut Farman, pengungkapan besar-besaran tersebut diharapkan bisa menekan angka kekerasan dan tindakan premanisme di Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan operasi serupa secara berkala demi menjaga keamanan masyarakat. "Kami ingin menciptakan suasana aman dan nyaman di Jawa Timur. Tidak boleh ada aksi premanisme yang mengganggu ketertiban," tegasnya.

Polda Jawa Timur mengimbau kepada masyarakat agar tidak ragu melapor jika menemukan praktik premanisme di lingkungan sekitar. Kepolisian siap bertindak tegas terhadap segala bentuk aksi kekerasan dan pemerasan demi menciptakan situasi yang aman dan kondusif.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore