JawaPos.com - Wacana libur sekolah selama satu bulan Ramadan yang dicanangkan Kementerian Agama (Kemenag), berhasil menyita perhatian publik dan menuai pro dan kontra. Tak terkecuali dari pihak wali murid.
Seperti Julian Romadhon. Warga Dukuh Kupang, Surabaya itu mengaku tidak setuju dengan rencana pemerintah yang ingin meliburkan siswa selama bulan puasa. Sebab, capaian kegiatan belajar siswa akan terganggu.
"Saya kurang setuju, anak-anak butuh konsistensi belajar, apalagi bagi mereka yang akan menghadapi ujian. Kalau diliburkan terlalu lama, bisa mengganggu ritme belajar mereka," ujar Julian kepada JawaPos.com, Rabu (8/1).
Terkait inisiatif Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang ingin siswa belajar di pondok pesantren, apabila wacana libur satu bulan Ramadan benar-benar diterapkan, Julian menyebut terobosan itu bagus.
Namun, masyarakat Indonesia itu multikultural. Terdiri dari berbagai suku, agama, dan ras. Jika kebijakan libur sekolah selama bulan Ramadan benar-benar diketuk, maka pemerintah juga harus memikirkan nasib siswa non muslim.
"Tetapi bagaimana dengan anak-anak yang bukan beragama Islam alias non muslim? Apakah ada alternatif untuk mereka? Program ini harus adil dan memikirkan semua pihak," seru pria berusia 42 tahun itu.
Berbeda dengan Julian, Norma Anggara justru sepakat dan mendukung rencana Kemenag terkait libur sekolah satu bulan Ramadan. Dengan catatan, aktivitas belajar siswa tidak berhenti.
"Misalnya dibekali materi dari sekolah, kemudian selama libur di rumah itu anak-anak tinggal menjalankan. Materinya mungkin tentang tata cara dan makna puasa, bagaimana menjalankan sahur, sampai sholat tarawih," ujar Norma.
Dengan libur sekolah selama bulan Ramadan dan belajar dari rumah, siswa bisa lebih memiliki banyak waktu bersama keluarga. Mempelajari agama, nilai-nilai sosial, hingga moral di sekitarnya.
"Anak-anak juga bisa sekalian belajar menyiapkan menu sahur dan buka puasa favorit bersama orang tua. Semoga orang tuanya juga punya waktu luang untuk membersamai si anak," tutur warga Surabaya Barat itu.
Sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberikan sinyal kuat terkait rencana libur sekolah selama bulan suci Ramadan. Ia menyebut wacana itu sedang dalam pertimbangan.
"Ya, sebetulnya sudah (diterapkan), khususnya di pondok pesantren, itu libur. Tetapi sekolah-sekolah yang lain juga masih sedang kita wacanakan. Nanti tunggu penyampaian," ujar Nasaruddin di Jakarta, Selasa (31/12) lalu. (*)