JawaPos.com – Cuaca ekstrem yang melanda kawasan pesisir Surabaya dalam beberapa hari terakhir, berdampak signifikan pada kehidupan para nelayan, khususnya di Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran. Angin kencang dan hujan lebat memaksa para nelayan untuk tidak melaut selama dua hari, demi menjaga keselamatan mereka.
Ketua Nelayan Tambak Wedi, Muhi, mengungkapkan bahwa cuaca buruk yang tiba-tiba datang sangat mempengaruhi aktivitas mereka. “Kemarin cuaca ekstrem, kita nelayan prei (libur, red) melaut sampai dua hari karena anginnya kencang dan hujannya lebat. Kalau kita tidak melaut, dari mana penghasilannya? Biasanya kalau maksa, paling hanya sehari libur, sehari berikutnya tetap berangkat walau risikonya besar,” ujar Muhi kepada JawaPos.com, Selasa (17/12).
Selain cuaca buruk, nelayan di Tambak Wedi juga harus menghadapi banjir rob, yang datang bersamaan dengan hujan lebat. Kondisi ini membuat air pasang meluap hingga ke perkampungan dan area parkir perahu. “Kemarin banjir rob itu air pasang pas hujan lebat. Untungnya semua nelayan sudah pada pulang. Kalau hujan derasnya pas nggak pasang air, biasanya masih bisa kita atasi pakai pompa,” tambahnya.
Menurut Muhi, tantangan terbesar bagi nelayan adalah perubahan cuaca yang sulit diprediksi ketika sudah berada di tengah laut. “Berangkatnya angin tenang, tapi tiba-tiba di tengah laut angin kencang dan hujan deras. Kalau sudah begitu, kita nggak bisa langsung pulang karena arah sudah tidak terlihat. Kita harus menunggu hujan reda dan angin stabil dulu. Kadang bisa sampai tiga jam terombang-ambing di laut,” ceritanya.
Muhi menjelaskan, nelayan memiliki cara tradisional untuk memprediksi cuaca sebelum melaut. “Biasanya kami lihat kondisi air dan awan. Kalau awannya gelap dan agak petang, itu tanda bahaya. Kami juga sudah tahu kapan harus berhenti melaut jika banjir rob diprediksi akan terjadi,” ungkapnya.
Meski demikian, cuaca buruk dan banjir rob tetap membawa kerugian. Perahu dan peralatan nelayan bisa rusak akibat gelombang besar, bahkan terbalik. “Kemarin waktu banjir rob, air pasang naik sampai ke parkiran perahu. Untungnya ada bantuan dari Pemkot Surabaya berupa sembako, meski jumlahnya tidak banyak,” ujar Muhi.
Aktivitas melaut bagi nelayan Tambak Wedi bergantung pada hasil tangkapan. Biasanya, mereka berangkat pada tengah malam, sekitar pukul 12, dan kembali pada pagi hari. “Kalau sekali pasang jaring langsung dapat ikan, ya bisa pulang cepat. Kalau tidak, bisa lama. Kadang pasang jaring sampai tiga kali, tapi hasilnya hanya sedikit. Seperti tadi malam, saya hanya dapat 10 kilo,” keluh Muhi.
Hasil tangkapan pun bervariasi, mulai dari ikan, udang, lobster, cumi-cumi, hingga kepiting. “Sekarang yang banyak ikan keting, itu biasanya diasap. Kalau beruntung, bisa dapat setengah kuintal atau 50 kilo. Kalau sedikit, paling cuma 10 kilo. Penghasilan sehari paling sedikit sekitar Rp 100 ribu, kalau sedang banyak bisa sampai Rp 500 ribu. Tapi ya nggak tentu juga,” jelasnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Muhi berharap ada perhatian lebih dari pemerintah untuk membantu nelayan menghadapi cuaca ekstrem dan banjir rob,
“Sebagai nelayan, penghasilan kami bergantung sepenuhnya pada hasil laut. Kalau cuaca buruk terus, tentu kehidupan kami semakin sulit,” pungkasnya.