
PRO LINGKUNGAN: Warga Surabaya menukar botol air mineral ke penukaran botol di Terminal Purabaya. Pemerintah Kota Surabaya tetap memberlakukan sistem pembayaran Suroboyo Bus dengan tukar botol. Frizal/Jawa Pos
JawaPos.com - Tahun ini tidak terasa skema pembayaran menggunakan botol plastik di Suroboyo Bus (SB) memasuki usia empat tahun. Dinas perhubungan (dishub) bersikukuh mempertahankan sistem botol plastik hingga kini. Dishub memadukan dua skema pembayaran, yaitu botol plastik dan uang elektronik (cashless).
Kepala Dishub Tundjung Iswandaru mengatakan, 60 persen pengguna SB membayar dengan menggunakan botol plastik. Sisanya, 40 persen pengguna, membayar pakai uang elektronik.
Saat ini pihaknya masih mengkaji lebih dalam sistem pembayaran yang ideal untuk SB. ”Ada beberapa usulan. Salah satunya tiket langganan. Kami masih timbang-menimbang,” tuturnya.
Ada 26 SB dan 2 bus tingkat. Rute Purabaya–Rajawali paling laris manis. Rata-rata menyerap penumpang 78 persen. Sekitar 4.500 penumpang per hari dan diakomodasi oleh 12 unit bus. Per 12 September (data mulai Agustus 2021–2022), SB melayani 62.032 penumpang. Dari angka itu, jumlah penumpang yang menggunakan botol plastik sebanyak 30.306 orang.
Untuk menyerap penumpang lebih banyak, pekerjaan rumah dishub tidak hanya memikirkan skema pembayaran yang ideal seperti apa. Pemilihan rute juga menjadi problematika yang harus diselesaikan. Tundjung menyebutkan, jika pagi, penumpang SB sampai berdesakan. Terutama di rute Purabaya– Rajawali. ”Rute-rute yang dibutuhkan penumpang bisa mendulang pendapatan dishub,” ujarnya.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi C Aning Rahmawati menuturkan, persentase pengguna botol plastik hingga 60 persen menjadi angka yang bagus. Artinya, masyarakat Surabaya membutuhkan transportasi massal yang murah dan bersih. Namun, lanjut dia, pemkot perlu memperhatikan beban retribusi sebagai pendongkrak pendapatan asli daerah (PAD).
Menurut politikus PKS itu, karena moda transportasi merupakan jenis layanan, pemkot perlu mendorong pendapatan dari retribusi lain. Bukan dari retribusi transportasi massal. Dia menilai, ada pos-pos retribusi lain seperti parkir tepi jalan atau dari pos pajak lain, pajak reklame, PBB, hingga BPHTB yang lebih bisa menyokong PAD.
”Kalau hanya mengandalkan retribusi parkir kecil, realisasinya sampai sekarang baru Rp 11 miliar dari target Rp 35 miliar,” paparnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
