alexametrics
Olimpiade Tokyo 2020

Terbenamnya Era Super Dan, Terbitnya Era King Kento

24 Maret 2019, 19:30:20 WIB

JawaPos.com – Suka tidak suka, mau tidak mau, harus diakui bahwa Lin Dan, Lee Chong Wei, serta pemain-pemain bulu tangkis lain yang satu angkatan dengan mereka akan sangat sulit bersaing di Olimpiade Tokyo 2020. Para pemain gaek tersebut tidak bisa menampik fakta bahwa dunia bulu tangkis saat ini sudah didominasi oleh para pemain muda yang tidak akan segan-segan melibas nama-nama besar yang mereka idolakan di masa kecil.

Hal tersebut dikatakan oleh komentator bulu tangkis yang juga mantan atlet Inggris Gillian Clark. Menurut Gill, turunnya performa karena terus bertambahnya usia adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dilawan siapa pun, termasuk pemain sebesar Lin Dan. 

“Ini sesuatu yang menyedihkan. Tapi mereka yang memiliki nama besar dan punya penggemar sangat banyak (seperti Lin Dan, Red) akan sangat sulit berkompetisi di Olimpiade,” ujar Gill dalam situs resmi BWF.

Gill menyoroti Lin Dan dan Chong Wei yang sudah berkomitmen akan mentas di Tokyo meskipun kondisi keduanya sedang tidak menguntungkan: Kualitas permainan Lin Dan sudah tidak bisa disamakan dengan dulu lantaran hampir selalu kalah di babak pertama, sementara Chong Wei hingga detik ini masih berkutat dengan kondisi kesehatannya usai terkena kanker hidung pertengahan tahun lalu.

“Lin Dan sudah mengoleksi enam gelar juara All England, tapi di All England 2019 kemarin dia langsung tersingkir di babak pertama. Ini adalah kekalahannya yang ke-15 di babak pertama setelah mencapai babak final terakhirnya di All England 2018 lalu. Dia seperti tak bisa lepas dari bayang-bayang masa jayanya,” kata Gill.

Misi menjadi juara pun akan semakin berat karena ia harus berjibaku dengan lawan-lawan yang tengah naik daun seperti Kento Momota, Viktor Axelsen, Shi Yuqi, dan banyak lagi.

Dari semua lawan, Momota tentunya bakal menjadi batu sandungan terbesar. Berstatus sebagai pemain ranking 1 dunia saat ini, kepercayaan Momota sedang meroket setelah berhasil menjuarai All England 2019 dan sederet gelar prestisius lain di tahun lalu. Selisih umur mereka pun cukup jauh: Lin Dan tahun ini akan berusia 36 tahun, sementara Momota 11 tahun lebih muda darinya.

Bicara soal koleksi gelar, Super Dan memang punya segalanya. Tapi koleksi gelar bejibun tersebut tidak akan bisa menolongnya untuk bersaing dengan King Kento di Olimpiade yang akan diselenggarakan di rumahnya sendiri. 

Gill menambahkan, sebetulnya bukan hal yang sepenuhnya mustahil buat Lin Dan untuk menjuarai Olimpiade Tokyo 2020. Berkaca dari dunia tenis, Roger Federer pun masih bisa membuat dunia terkejut ketika ia memenangkan dua gelar Grand Slam pada 2017 setelah sekian tahun tenggelam.

Jika ingin menyamaratakan nasib atlet yang sudah senjakala, Lin Dan memang bisa bernasib mujur seperti Federer. Sayangnya, tidak semua atlet punya takdir manis seperti petenis 38 tahun asal Swiss tersebut.

Lin Dan mungkin harus menyadari bahwa dua medali emas Olimpiade dan segudang trofi juara lain yang ia raih sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri karirnya, lalu duduk manis untuk menyaksikan sendiri terbitnya era bulu tangkis baru yang berada di pundak Momota dan pemain muda lainnya. Eranya sudah usai.

“Menjadi juara di usia senja mungkin adalah hal yang tidak bisa diraih oleh seorang Lin Dan,” tutup Gill.

Editor : Banu Adikara

Copy Editor : Fersita Felicia Facette

Terbenamnya Era Super Dan, Terbitnya Era King Kento