JawaPos Radar

PBSI juga Tidak Setuju dengan Aturan Skor Baru BWF  

23/02/2018, 23:31 WIB | Editor: Banu Adikara
Susy Susanti, PBSI, BWF, servis baru
Susy Susanti (Dok PBSI)
Share this image

JawaPos.com – Selain keberatan dengan aturan servis baru dan ketentuan mengikuti minimal 12 turnamen dalam setahun, PBSI juga keberatan dengan aturan skor baru yang ditetapkan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Seperti yang sudah diketahui, sistem skor baru BWF ini nantinya akan mengganti aturan 3 (game, Red) x 21 (poin, Red) dengan 5 x 11. Artinya, jika sebelumnya dalan satu pertandingan atlet yang bertanding harus menang dua game, maka di aturan baru ini mereka wajib menang tiga game, namun dengan skor yang lebih sedikit.

Walau aturan skor 11 x 5 ini kemungkinan baru diberlakukan di Olimpiade Tokyo 2020, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti merasa ini masih terlalu cepat.

Susy merasa, para pemain tidak akan cukup waktu menyesuaikan diri dengan sistem ini. “Waktunya terlalu mepet. Olimpiade tinggal dua tahun lagi,” ujar Susy, Jumat (23/2).

Waktu ini dinilai sempit karena Susy pernah melihat sendiri perubahan aturan poin pindah bola yang digunakan pada zamannya ke aturan poin reli seperti yang diterapkan sekarang. “Itu saja butuh waktu adaptasi lima sampai enam tahun,” ujar Susy.

Susy menilai, perubahan fundamental ini tentunya akan mengubah banyak hal, mulai dari cara main, pola main, sampai program latihan.

“Sekarang saat orang sudah menikmati permainan bulutangkis poin 21, diubah lagi aturannya. Kami ingin tahu sebetulnya bulu tangkis mau dibawa kemana? Bulu tangkis sudah populer, jadi kenapa tidak dipertahankan dulu (aturan yang ada, Red)? Kalau ada yang kurang, bisa ditambah, tapi tidak secara drastis,” katanya.

Aturan 5 x 11, kata Susy, juga akan memperpendek durasi permainan dan membuat penonton kurang bisa menikmati seni dan keindahan bulu tangkis.

“Mungkin dalam lima menit sudah bisa selesai. Waktu perubahan sistem skor pindah bola ke reli poin, awalnya dibilang cepat, sekarang dibilang terlalu lama, mau dipotong lagi, mau dibikin seperti apa? Mungkin yang bikin aturan enak, tapi yang menjalankannya butuh latihan,” katannya.

Karenanya, Susy akan mengirim surat serta berdiskusi dengan pihak-pihak terkait, diawali dengan Konfederasi Bulutangkis Asia (BAC).

“Akan ada pertemuan dengan BAC bulan depan, kami akan diskusikan dengan negara lain, karena beberapa negara memang keberatan juga, bukan cuma Indonesia. Peran Indonesia juga harus lebih aktif, karena banyak aturan yang sifatnya mendadak dan tidak ada pihak yang bisa menjelaskan secara detil apa tujuan aturan baru ini,” kata Susy.

 

(kar/isa/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up