alexametrics

Wawancara Khusus dengan Pelatih Nasional Ganda Putra Herry IP

15 Maret 2019, 13:09:10 WIB

JawaPos.com – Gagal menjadi pemain top, Herry Iman Pierngadi bertansformasi menjadi pelatih papan atas. Selama bertahun-tahun, banyak sekali ganda putra kelas dunia yang dia lahirkan, dia didik, dia besarkan, dan konsisten menaklukkan dunia. Di All England 2019, sekali lagi, ganda putra menyelamatkan muka Indonesia. Dengan kemenangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, pelatih 56 tahun itu membawa ganda putra hattrick gelar pada turnamen paling tua di dunia tersebut. Berikut wawacara Wartawan Jawa Pos Ainur Rohman dengan Herry IP setelah kemenangan Hendra/Ahsan di sebuah kedai kopi tepian kanal kota Birmingham, Inggris, Kamis (14/3).

Arti kemenangan Hendra/Ahsan di All England 2019 ini bagi Coach Herry seperti apa?

Ini sangat luar biasa ya. Bagi saya pribadi ini, sangat berarti karena saya hattrick gelar beruntun. Mental juara Hendra/Ahsan kelihatan sekali. Padahal, kondisi Hendra tidak baik-baik saja. Bayangkan, jalan saja pincang. Tetapi mereka bisa menjadi juara. Saat kalah telak di set pertama, saya melihat mereka masih mau mencoba. Pada kondisi seperti itu, sebagai pelatih saya tidak boleh terlihat kecewa atau lemas. Ketika mereka melihat saya ke belakang, saya harus terlihat optimistis. Walaupun di hati juga agak khawatir juga. (Hendra/Ahsan menang tiga set dalam final All England 2019, red)

Coach Herry sudah melahirkan dan melatih banyak sekali ganda putra kelas dunia. Kalau diranking, Hendra/Ahsan ini menempati posisi berapa dari semua anak didik yang sudah Anda bentuk?

Dari soal attitude, mereka nomor satu. Mereka humble. Mereka menghargai pelatihnya. Saya deket sekali dengan mereka. Dan saya merasa mereka hormat banget kepada pelatih. Kan ada yang merasa, ’’Ah saya nggak pakai pelatih juga bisa sendiri,’’. Ya, meski tanpa bicara, tetapi secara tindakan dan kelakukan itu kelihatan. Kalau Hendra/Ahsan ini dua pemain yang humble. Saya tahu persis karena sejak awal mereka masuk, saya yang nanganin mereka. 

Banyak pemain sudah merasa menjadi bintang saat sering juara. Kalau Hendra/Ahsan ini seperti ini?

Begini, mereka itu karakternya memang orang baik. Tetapi memang, setiap atlet itu memiliki karakter yang masing-masing. Tidak masalah. Beda misalnya dengan Kevin (Sanjaya Sukamuljo) dan Sinyo (Marcus Fernaldi Gideon). Mereka bertolak belakang dengan Hendra/Ahsan. Tetapi kan sama-sama berprestasi. Karakter Hendra/Ahsan ini bagi saya bisa menjadi role model. Mungkin, bagi saya, karakter seperti mereka inilah yang diidamkan oleh semua pelatih.

Bagaimana caranya melatih pemain dengan karakter yang sangat berbeda tapi tetap membuat mereka sama-sama berprestasi dunia?

Sebetulnya yang terpenting adalah kita harus pintar-pintar masuk ke mereka. Ini soal jam terbang ya. Saya harus benar-benar tahu momen, kapan dan bagaimana saya harus berbicara dengan mereka. Kalau misalnya saya berbicara menyakitkan kepada mereka saat mereka kalah atau melakukan kesalahan, mereka akan dongkol kepada saya. Trust pemain ke pelatih menjadi tidak ada. Padahal kuncinya ya trust itu. Jangan salah, saya dulu juga sering marah-marah. Pernah juga sampai menendang shuttlecock. Tetapi dengan pengalaman, saya lebih bisa menahan diri.    

Selain baik dan humble, Hendra/Ahsan itu dalam padangan Coach Herry seperti itu?

Mereka disiplinnya luar biasa. Latihannya tidak pernah telat, komitmennya luar biasa. Mereka itu sangat fokus dan tidak pernah sekalipun membantah dan menawar-nawar program latihan. Tidak ada sekalipun tertulis dalam buku sejarah karier mereka, sampai menawar-nawar latihan.   

Artinya, memang ada atlet yang suka menawar program latihan?

Ya ada lah. Tetapi mereka ini kan sangat nurut kepada pelatih. Maksudnya, mereka sangat hormat sehingga kami bisa berdiskusi dengan baik. Itulah kelebihan mereka.

Sepanjang mendampingi Hendra/Ahsan apa momen terbaik menurut Coach Herry?

Waktu juara Asian Games 2014. Itu karena tantangannya bagi saya sebagai pelatih itu berat banget. Satu, dalam karier, saya belum pernah juara Asian Games. Kedua, gonjang-ganjingnya luar biasa. Kalau saya tidak dapat emas, saya akan diganti. Saya juga banyak diganggu. Jadi tantangannya luar biasa. Namun, saya diskusi dengan mereka dan ternyata mereka bisa memberi jawaban. Waktu diwawancara, Ahsan/Hendra bilang bahwa medali emasnya diserahin kepada pelatih, kepada Koh Herry, kata mereka.  Jadi, momen itu bagi saya berkesan banget.

Momen itu lebih berkesan saat Hendra/Kido meraih emas Olimpiade 2008 misalnya?

Waktu Hendra/Kido itu, kebetulan saya nggak nangani. Itu politik ya. Yang menangani Sigit Pamungkas. Waktu itu, saya digeser. Itu orang bulu tangkis semuanya sudah tahu. Saya yang dikorbanin. Padahal saya yang ngeracik, saya yang mendidik mereka, tetapi saya digeser sebelum Olimpiade. Tetapi semua dijawab sekarang. Sudah dijawab semua.

Sebetulnya, bagaimana resep untuk melahirkan banyak ganda putra kelas dunia?

Dengan jam terbang, saya terlatih untuk punya feeling melihat kira-kira mana pemain yang bakal jadi. Bakat memang nomor satu dan utama. Tetapi salah satu yang membuat kami bisa melahirkan ganda putra yang berprestasi secara  berkesinambungan adalah pintar memilih karakter pemain. Artinya, karakter saat bermain di lapangan. Sehebat apapun pemain itu, kalau mereka tidak punya karakter yang kuat, ya agak sulit. Pasti dia prestasinya akan turun naik. Pemain boleh memiliki ciri khas masing-masing, ada yang humble ada yang mungkin tengil. Tetapi satu, karakternya harus sangat kuat dan punya totalitas.

Setelah ini, apalagi lagi yang mau dicapai. Sebagai pelatih, Coach Herry sudah meraih semuanya bukan?

Begini, ini bukan cuma semata soal saya. Intinya, saya ingin memberikan sesuatu kepada anak-anak Indonesia yang mau berhasil dan sukses. Kalau saya bisa, saya akan bantu mereka. Itu saja. Yang terdekat di World Championships. Hendra/Ahsan sudah dua kali juara. Saya ingin membantu Marcus/Kevin dan Fajar/Rian untuk juga mencapainya.

Kembali ke soal Hendra/Ahsan. Mereka sekarang bermain profesional, apakah itu kunci mereka jadi termotivasi?

Itu status saja. Sebenernya, adalah Hendra dan Ahsan diberi kelonggaran untuk bermain di liga. Kalau peraturan PBSI, jika ingin bermain liga di Tiongkok dan India, pemain itu harus mengundurkan diri. Itulah yang diatur. Mereka harus mengundurkan diri dari pemain pelatnas. Tetapi tetap latihan, semuanya tetep sama saya. Mereka tidur dan tinggal di pelatnas. Namun bedanya, mereka pemberangkatannya tidak dibiayai oleh PBSI. Untuk ke All England misalnya, tiket dan hotel mereka biaya sendiri. Mereka kan dapat dari sponsor sendiri, dapat dari fresh money dari liga luar. Ini khusus bagi Hendra/Ahsan karena mereka sudah senior dan cukup memberikan sumbangsih untuk PBSI dan Indonesia.

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads
Wawancara Khusus dengan Pelatih Nasional Ganda Putra Herry IP