alexametrics

Jones Ralfy Jansen, Pindah Kewarganegaraan Karena Gagal Masuk Timnas

14 Januari 2020, 17:33:55 WIB

JawaPos.com – Nama atlet bulu tangkis putra Jones Ralfy Jansen mungkin sudah cukup familiar di kalangan pecinta bulu tangkis Tanah Air. Atlet asal Jerman ini tadinya merupakan atlet Tanah Air yang kemudian memutuskan pindah kewarganegaraan.

Ditemui di sela-sela perhelatan Indonesia Masters 2020, Jones mengupas habis alasannya hengkang dari Indonesia. Semua berawal dari tahun 2010 ketika ia menjadi kampiun di Kejurnas.

“Saya 2010 juara Kejurnas di nomor ganda putra dan ganda campuran. Dulu itu ada aturan, kalau juara di Kejurnas, bisa masuk pelatnas,” ujar Jones yang merupakan jebolan PB Djarum, Selasa (14/1).

Punya harapan besar bergabung ke Cipayung karena prestasinya, Jones pun lalu mengikuti seleksi nasional pada 2011. Namun, namanya tidak kunjung dipanggil.

Dua bulan tanpa kabar dari PBSI, Jones pun mulai bingung. “Saya tanya pelatih saya di Djarum, tak ada jawaban. Saya tanya ke PBSI, jawabannya mengambang. Saya jadi bingung,” ujarnya.

Menurut Jones, ada baiknya PBSI kala itu langsung memberikan jawaban pasti tanpa mengulur-ulur waktu. “Kalau tidak bisa ya harusnya bilang saja tidak bisa. Kan saya juga enak melepasnya (mimpi masuk pelatnas, Red). Ini jawabannya mengambang. Bisa masuk, bisa tidak. Cita-cita saya main di timnas. Kalau tenggat waktunya jelas, pasti saya tunggu,” ujar Jones.

Kondisi Jones yang luntang-lantung pun membuat kedua orang tuanya menawarkan opsi lain: pindah ke Jerman. Pasalnya, kakak perempuan Jones juga bergabung dengan sebuah klub bulu tangkis dan ikut main liga di sana.

“Orang tua saya tidak mau saya cuma main di Sirnas (Sirkuit Nasional, Red) karena saya nggak akan berkembang. Jadi saya disarankan gabung dengan cici saya di Jerman sambil melanjutkan kuliah di sana,” kata Jones.

Berlabuh di Jerman dan bermain di nomor ganda campuran dengan sang kakak, klub tempat Jones bernaung rupanya melihat potensi dalam dirinya. “Akhirnya tahun 2015 saya ditawarkan main buat Jerman, tapi itu artinya saya harus lepas (status warga negara Indonesia, Red) Indonesia,” ujar Jones.

Melepas kewarganegaraan pun bukan perkara mudah buat Jones. Tawaran tersebut ia pikirkan selama kurang lebih 1,5 tahun sebelum akhirnya ia membulatkan tekad pada akhir 2016.

“Setelah cukup lama berpikir dan keluarga juga mendukung (pindah ke Jerman, Red), jadi ya sudah (pindah, Red),” ujar Jones.

 

Tinggal di Rumah Mark Lamsfuss

 

Selama berada di Jerman, Jones membenarkan bahwa ia tinggal di rumah salah satu atlet bulu tangkis Jerman, Mark Lamsfuss yang notabene bernaung di satu klub dengannya. Perkenalannya dengan Lamsfuss juga dijembatani oleh salah satu kenalan ayahnya di Jerman.

“Kemudian saya dikasih tempat tinggal di sana (rumah Lamsfuss, Red) karena visa saya masih visa pelajar. Itu tahun 2012,” ujar Jones.

Tinggal di rumah Lamsfuss pun ternyata mendatangkan kebahagiaan sendiri buat Jones. Ia berkenalan dengan kakak Lamsfuss, Diana Lamsfuss yang kemudian dipersunting menjadi istrinya pada 2018. “Namanya jadi ikut saya, Diana Jansen,” ujar Jones.

Dari Diana, Jones yang tahun ini berusia 28 tahun juga sudah dikaruniai seorang putra bernama Jodi Jansen.

Meski sudah tidak lagi bermain di bawah panji-panji Merah Putih, Jones mengaku sangat bahagia bisa berlaga di Indonesia Masters 2020. Bagaimanapun, bermain di hadapan publik Indonesia adalah mimpinya yang sejati.

Bermain di nomor ganda putra bersama Peter Kaesbauer, Jones lolos babak kualifikasi setelah menundukkan wakil tuan rumah Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana 21-23, 22-20, dan 21-17.

“Main di sini seperti mudik ya rasanya. Main badminton di sini juga rasanya betul-betul dihargai. Tadi juga main meriah banget, apalagi lawannya Indonesia,” ujar Jones lagi.

Walau bermain untuk Jerman, Jones rupanya tidak sepenuhnya menanggalkan ke-Indonesia-annya. Di lapangan, ia mengenakan jersey keluaran Flypower yang notabene merupakan brand milik salah satu legenda hidup bulu tangkis Indonesia, Hariyanto Arbi.

“Meskipun udah nggak main buat Indonesia, tapi ya masih ada Indonesia-nya sedikit lah,” kelakarnya.

Editor : Banu Adikara


Close Ads