alexametrics

Tak Sabar Menunggu Aksi Zion Williamson

Ulasan Wartawan Jawa Pos A. Ainur Rohman
21 Juni 2019, 13:17:10 WIB

JawaPos.Com-New Orleans Pelicans akhirnya benar-benar memilih Zion Williamson pada urutan nomor satu NBA Draft 2019.

Terkejut dengan fakta ini? Saya akan sangat terkejut jika Anda terkejut.

Sejak SMA, Williamson menjadi fenomena nasional di Amerika Serikat. Video-video slam dunk-nya yang eksplosif, memukau banyak orang. Musim lalu, Williamson tampil sangat dominan bersama Duke Blue Devils, salah satu tim basket kampus paling disegani di dunia milik Duke University.

Karena nama besarnya selama bermain di universitas, Williamson disebut-sebut sebagai draft prospect yang paling diantisipasi sejak LeBron James menyihir dunia pada 2003. Hanya satu musim bersama Duke, Williamson langsung terpilih sebagai Consensus National College Player of the Year 2018-2019.

Artinya, enam lembaga pemberi penghargaan yakni Naismith, Associated Press, John Wooden, Oscar Robertson, NABC, dan Sporting News kompak menetapkan Williamson sebagai pemain terbaik kampus musim lalu. Berusia 18 tahun, Williamson adalah pemain NCAA dengan efficiency rating tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Jadi, New Orleans Pelicans sangat beruntung mendapatkan hak memilih pertama pada draft tahun ini. Fans juga santai-santai saja ketika tujuh hari lalu, sang bintang utama yang juga enam kali All-Star Anthony Davis, ditrade ke Los Angeles Lakers. Sebab, mereka memiliki pengganti yang sepadan atau bahkan lebih menjanjikan dalam diri Williamson.

Memiliki tinggi 201 cm dan berat 129 kilogram, Williamson disebut-sebut sebagai versi big man superstar Oklahoma City Thunder, Russell Westbrook.  Berposisi sebagai small forward dan power forward, Williamson memiliki kombinasi luar biasa dalam hal ukuran tubuh, kecepatan, atletisme, dan kekuatan.

Selain itu, Williamson mempunyai kemampuan kontrol bola yang sangat baik. Sebuah skill yang mahal bagi seorang big man. Bonusnya, pemain kelahiran Salisbury, North Carolina tersebut, adalah seorang pengumpan yang cerdas.

Jadi, selain dianugerahi badan yang perkasa, Williamson juga memiliki keahlian bermain basket yang fantastis dan masih bisa bertumbuh lebih hebat lagi di masa depan.

Williamson adalah jenis pemain yang sangat berbahaya ketika timnya melakukan fast break. Dia akan langsung menghajar ring lawan dalam kecepatan yang tinggi. Selama di Duke, Williamson bisa mencetak skor dari mana saja. Dia menjadi mesin yang efisien ketika timnya memakai pick and roll. Tetapi juga bisa mencetak angka dalam isolation play. Dengan kecepatan dan energinya yang melimpah ruah, Williamson adalah teror dalam serangan dari sayap.

Musim lalu, Williamson mencatat statistik lengkap dengan 22,6 point per game, 8,9 rebound per game, 2,1 assist per game, dan 1,8 block per game dalam 33 pertandingan di NCAA Divisi 1.

’’Saya tidak pernah melihat ada pemain yang memiliki kombiasi seperti ini seumur hidup saya,’’ kata seorang pemandu bakat kepada Bleacher Report. Sang scout yang bekerja untuk sebuah tim NBA itu, enggan disebut namanya.

Namun, menurut sang scout, Williamson juga memiliki kelemahan. Dia tidak menembak dengan baik. Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, NBA masih berada dalam era shooter league. Semua pemain, entah apapun posisinya, dituntut memiliki kemampuan shooting yang baik. Jadi, bukan hal mengherankan melihat seorang center yang terus mencoba menembak tiga angka.

Pada NCAA musim lalu, Williamson tidak mencatat statistik impresif dalam menembak. Dia hanya mengukir 33,8 persen dalam tembakan tiga angka, 64,0 persen dari free throw, dan cuma menceploskan 2 dari 12 tembakan pull-up jumper.

Para defender-defender di NBA adalah kumpulan atlet paling cerdas di dunia. Jadi, mereka tidak akan memberikan ruang sekecil apapun agar Williamson leluasa menyerang ke arah ring dengan kecepatan dan kekuatannya. Pemain bertahan di NBA bakal sebisa mungkin menjauhkan Williamson dari ring dan memaksanya menembak dari sudut yang tidak nyaman.

Williamson sadar dengan kelemahannya itu. Dalam wawancara setelah ditahbisan sebagai pilihan nomor 1 tadi pagi, Williamson mengatakan akan terus melatih kemampuan menembaknya. Sekarang memang masih sangat kasar, namun dia sangat yakin bahwa skillnya tersebut akan mekar seiring perjalanan waktu.

Mungkin saja, dengan kekurangannya ini, Williamson akan kesulitan pada awal-awal karirnya di NBA. Namun, banyak yang percaya bahwa dia akan terus berkembang.

Biasanya, pemain NBA yang punya potensi besar menjadi bintang, sinarnya akan meredup di tengah jalan karena mentalnya tidak kuat. Atau akibat tidak mendapatkan penanganan yang baik pada permulaan karir profesionalnya.

Namun, Williamson agaknya tidak begitu. Reputasinya selama di SMA dan kampus cukup harum. Dia terkenal sebagai pemain dengan passion besar, pekerja keras, bermental baja, dan tahan banting.

Williamson adalah tipikal pemain kompetitif di dalam lapangan dan matang di luar lapangan. Bahkan, sikap dewasa Williamson tampak kelewat dini. Pada usia lima tahun, dia bertekad menjadi bintang besar basket dunia ketika kedua orang tuanya bercerai.

Dan jika organisasi New Orleans Pelicans mendukung Williamson sepenuh hati, dengan membangun fondasi solid di sekitarnya, maka tim ini bakal menjadi rival yang gawat bagi siapapun.

Saya sudah sangat tidak sabar untuk menunggu Williamson beraksi musim depan. Kalau semuanya berjalan dengan lancar, pada tahun-tahun mendatang, menjadi MVP bukanlah hal yang mustahil baginya.

Giannis Antetokounmpo yang notabene ’’hanya’’ mengandalkan fisik luar biasa saja, bisa masuk dalam daftar kandidat MVP. Zion Williamson dengan tipikal yang serupa, harusnya juga bisa! (*)

 

 

 

 

 

Editor : Ainur Rohman