JawaPos Radar

Nestapa Mantan Atlet Berprestasi Indonesia

Juara Dunia Angkat Besi Berjuang Demi Anaknya Bisa Makan dengan Normal

Butuh Rp 500 Juta untuk Operasi

29/07/2018, 19:20 WIB | Editor: Banu Adikara
Winarni, angkat besi, Asian Games 2018, atresia esophagus
Mantan atlet angkat besi Winarni bersama putranya Achmad Fariz Taufik yang menderita atresia esophagus. (Dok Winarni)
Share this

JawaPos.com - "Ibu, aku lapar. Makanannya cuma boleh dijilat? Nggak boleh ditelan?". Kalimat yang terlontar dari mulut bocah mungil bernama Achmad Fariz Taufik itu langsung membuat air mata Winarni tak terbendung lagi.

Pipi mantan atlet angkat besi itu langsung basah oleh air mata usai mendengar pertanyaan lugu sang buah hati yang mengalami atresia esophagus, sebuah kelainan yang membuat penderitanya tidak bisa menelan makanan maupun minuman karena tidak berkembangnya usus selagi sang anak masih berbentuk janin.

Winarni, juara dunia angkat besi tahun 1997 dan peraih medali perunggu Olimpiade Sydney 2000, sudah dua tahun belakangan ini harus bekerja keras demi kesembuhan putranya tersebut. Layaknya seorang ibu, ia ingin anaknya bisa memiliki hidup yang normal.

Betapa tidak. Selain tidak bisa makan dengan normal, Fariz yang merupakan buah hatinya bersama sang suami, Taufik juga memiliki kelainan jantung dan paru-paru.

"Saya cuma ingin Fariz sembuh dan bisa bermain seperti anak-anak lainnya. Itu impian saya saat ini,” ujar Winarni, Minggu (29/7).

Winarni, angkat besi, Asian Games 2018, atresia esophagus
Fariz hanya bisa diberikan susu lewat suntikan infus ke perut karena tidak bisa menelan (Dok Winarni)

Muntahkan Susu

 

Winarni menuturkan, kelainan pada sistem pencernaan Fariz pertama kali diketahui tepat setelah ia lahir di rumah sakit kawasan Kabupaten Pringsewu, Lampung. Winarni, yang kala menyusui Fariz, kaget bukan kepalang saat melihat putranya itu tiba-tiba memuntahkan air ASI yang diberikan.

Kebingungan, Winarni dan Fariz pun langsung dirujuk ke rumah sakit di Kota Bandar Lampung. Yang diharapkan bisa memberi pertolongan ternyata tidak bisa berbuat banyak.

”Dokter di sana tidak ada yang bisa memberikan solusi bagaimana anak saya bisa makan. Mereka akhirnya angkat tangan setelah semua opsi yang ada dianggap terlalu berisiko,” ujar Winarni.

Winarni pun semakin frustrasi karena dari hasil pemeriksaan lebih lanjut, jantung Fariz juga terindikasi bermasalah. Pihak dokter menyebutkan, ada kebocoran pada jantungnya.

Kalut dengan kondisi tersebut, Winarni membawa Fariz terbang ke Jakarta dan segera membawanya ke Rumah Sakit Harapan Kita. Kelainan atresia esophagus yang dialami Fariz baru ketahuan setelah pihak rumah sakit melakukan rontgen. Fariz tidak punya saluran dari tenggorokan ke perutnya untuk menghantar makanan.

Tanpa pikir panjang, Winarni pun meminta pihak rumah sakit melakukan operasi. Oleh dokter, Fariz yang saat itu masih berusia 9 hari dilubangi kerongkongannya. Ini bertujuan agar air liur dari mulutnya tidak masuk ke dalam paru-paru.

Selang dua pekan kemudian, Fariz menjalani operasi kedua. Operasi kali ini adalah membuat jalur masuk makanan sementara di perut Fariz. Lantaran belum bisa menelan, asupan susu yang diberikan terpaksa harus disuntikkan dengan infus setiap 1,5 jam.

Winarni, angkat besi, Asian Games 2018, atresia esophagus
Achmad Fariz Taufik (Dok Winarni)

Rp 500 Juta

Agar bisa makan dengan normal, Fariz perlu menjalani operasi ketiga. Namun, biaya pengobatannya tidaklah murah.

Jika proses operasi pertama Winarni mendapat bantuan dari PB PABBSI, PT Pos Indonesia (tempat Winarni dan suaminya bekerja, Red), dan dana pribadi, maka untuk operasi ketiga Winarni butuh uang sebesar Rp 500 juta.

Pada operasi ketiga, pihak rumah sakit akan menyambung jalur tenggorokan dan usus besar Fariz yang tidak sempurna. Ini agar Fariz bisa makan dengan normal melalui mulutnya.

"Pakai BPJS sebetulnya bisa di-cover. Tapi waktu operasinya itu tidak menentu," ujar Winarni yang akhirnya memilih berjuang sendiri mengumpulkan dana tersebut.

Winarni, angkat besi, Asian Games 2018, atresia esophagus
Winarni saat masih menjadi atlet angkat besi. Ia meraih gelar juara dunia di tahun 1997, lalu mendapatkan medali perunggu di Olimpiade Sydney 2000 (Dok Winarni)

Hanya Dapat Uang Legenda

Winarni pun mengaku sudah menyambangi Kemenpora untuk meminta bantuan pemerintah menanggung dana mengoperasi Fariz. Namun, oleh Kemenpora, Winarni hanya diberikan uang atlet legenda sebesar Rp 40 juta.

Untuk diketahui, uang atlet legenda merupakan uang yang menjadi hak setiap atlet yang memang seharusnya diberikan oleh pemerintah.

Jumlah uang tersebut pun jelas tidak cukup. Andai cukup untuk operasi sekalipun, Winarni masih harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk biaya pengobatan harian dan kehidupan sehari-hari.

Winarni sendiri saat ini memiliki penghasilan sekitar Rp 3 juta per bulan dari kantornya di PT Pos Indonesia. Untuk menambah penghasilan bulanan, Winarni pun membuka warung nasi. Namun, hal ini pun tidak cukup. Winarni terpaksa berhutang sana-sini untuk bisa menutup kebutuhan hariannya sembari terus merawat Fariz.

Di sela-sela rasa frustrasi, Winarni masih terus mencoba menguatkan diri dan meneguhkan hati. Ia yakin, kerja keras dan usahanya menyembuhkan Fariz bakal berbuah manis pada akhirnya.

Bagi Winarni, tidak ada yang lebih indah dari melihat senyum dan tawa Fariz, terlebih jika sang buah hati ini bisa memiliki organ tubuh yang normal.

"Saya cuma mau Fariz sembuh," ujar Winarni mengulang harapannya.

(kar/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up