alexametrics
Hari Kartini

Dellie Threesyadinda, Kartini, dan Sosial Media

21 April 2018, 15:00:31 WIB

JawaPos.com – Bagi beberapa perempuan Indonesia, tanggal 21 April mungkin lebih istimewa dari hari biasanya. Tidak semata kelahiran pahlawan nasional Raden Ajeng Kartini, tapi juga kebangkitan emansipasi wanita. 

Perjuangan Kartini terekam hingga detik ini. Berkat Kartini, wanita tidak lagi dinilai lemah. Tidak lagi takluk pada stigma sumur, dapur dan kasur. Wanita sudah mampu bersaing dengan pria di profesi apapun. 

Di era millenial, perjuangan Kartini masih terus dilakukan, meskipun sudah dalam bentuk yang berbeda. Majunya teknologi membuat para Kartini era kekinian lebih leluasa mengekspresikan diri mereka.

Kartini, Dellie Threesyadinda
Pemanah putri Indonesia Dellie Threesyadinda (Instagram Dellie Threesyadinda @delliedinda)

Atlet panahan putri Dellie Threesyadinda misalnya. Bagi Dinda, sapaan akrabnya, nama Kartini selalu membuatnya sadar bahwa wanita harus mengedepankan pendidikan, apapun bidang yang digeluti.

Pun demikian, menurut Dinda, penerapan prinsip ini juga tetap harus dipertahankan dengan prestasi membanggakan. Di zaman now, media sosial dinilai Dinda punya peranan besar.

“Untuk jadi perempuan, khususnya yang terjun di bidang olahraga, sekarang sangat bisa memanfaatkan teknologi. Para kaum hawa bisa menggunakannya untuk menyuarakan hal-hal positif tentang perempuan, baik dengan menunjukkan prestasi mereka atau hal lain di luar profesi, ” ujar Dinda.

Dinda mengawali jalan hidupnya sebagai pemanah sejak usia 5 tahun. Lahir dari rahim pemanah legendaris Lilies Handayani, yang merupakan salah satu Trio Srikandi Indonesia, membuat keinginan Dinda menjadi seorang pemanah kian matang. 

Kemampuan dan kepiawaian dalam memanah terus terasah seiring konsistensinya menempa ilmu.

Layaknya Kartini yang tak kenal hambatan, Dinda pun sama sekali tidak menghiraukan aral melintang di depannya.

“Nggak ada kesulitan. Semuanya lancar. Kalau tanya hambatan, mungkin ada tapi tidak saya rasakan. Lewati saja dengan mengingat hal-hal menyenangkan dan berkesan,” ujarnya.

Pola pikir tersebutlah yang membuat lulusan Universitas Airlangga Surabaya berusia 27 tahun itu berhasil mengukir sederet prestasi sejak berumur 14 tahun. Tiga medali emas dan tiga medali perunggu di PON  Sumatera Selatan tahun 2004 adalah pencapaian perdananya.

Sosok Kartini mungkin lama-kelamaan akan berangsur pudar dan tidak relevan lagi seiring dengan perkembangan zaman. Namun, ide-ide dan terobosannya di masa lalu akan terus abadi. 

Lebih dari sekadar sebutan Putri Sejati di lagu karangan W. R. Supratman, Kartini adalah cetak biru para wanita Indonesia yang mengedepankan pendidikan dan prestasi tanpa perlu takut terbelenggu prinsip kesewenang-wenangan patriarki.

Prestasi Dellie Threesyadinda:

2004 : 3 medali emas dan 3 medali perunggu di PON Sumatera Selatan

2007 : 1 medali perak Archery Word Cup, England

2008 : 1 medali emas dan 2 medali perak dan 1 medali perunggu di PON Kalimantan Timur

2012 : 2 medali emas PON Riau

2013 : 1 medali emas dan 1 medali perak di SEA Games

2013 : 1 medali emas dan 1 medali perak Asean Archery Grand Prix, Thailand

2016 : 1 medali perunggu  Archery Word Cup, Turkey

2017 : 1 medali perunggu SEA Games, Kuala Lumpur 

Editor : Banu Adikara

Reporter : (kar/isa/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Dellie Threesyadinda, Kartini, dan Sosial Media