alexametrics

Cara Ambil Pemain untuk Timnas eSports Mendapat Kritik

11 Februari 2019, 02:05:01 WIB

JawaPos.com – CEO Tim eSport RRQ, Adrian Pauline mengkritisi cara pemilihan pemain untuk Tim Nasional eSport Indonesia. Dia tak setuju jika pemain yang dipilih berasal dari tim yang berbeda.

Menurutnya langkah tersebut justru dapat menipiskan peluang Indonesia dalam meraih medali emas. Andrian menilai langkah tersebut tidak bisa diterapkan dalam cabang olahraga eSport. Sebab, hal itu justru akan menghambat para pemainnya dalam berkompetisi.

“Ini bukan tim sepak bola. Kalau memakai pemain dari tim yang berbeda asalnya kan harus adaptasi lagi, jadi agak susah. Persiapannya pun memakan waktu lama,” ungkapnya

Baginya permasalahan tak berhenti sampai di situ. Dia mengungkapkan bisa jadi tim-tim tersebut justru menolak menyerahkan pemainnya untuk masuk ke dalam pelatnas. Sebab selain SEA Games, tim-tim eSport tentunya memiliki agenda lain yang tidak kalah pentingnya.

“Misal atlet dicabutin beberapa bulan sebelum pelatnas, apakah tim akan mengizinkannya? Mereka harus bertanding di kejuaraan lain juga. Karena pemain kan digaji. Tim pasti keberatan,” jelasnya.

Menurutnya membentuk tim baru bukanlah suatu hal yang tepat untuk menghadapi turnamen sekelas SEA Games. Ia menyarankan agar diadakan kualifikasi antar tim, dan yang terbaik berhak mewakili Indonesia.

Dia menilai cara tersebut lebih realistis. Hal itu terbukti ampuh pada saat Asian Games 2018 kemarin.

“Jadi saya lebih setuju dengan pembentukan tim lewat kualifikasi. Bukan tim cabutan kayak sepak bola. Jujur kemarin pas Asian Games benar-benar gagal. Karena kita lawan tim yang sudah main bareng selama enam bulan dan di tim yang sama, pakai sistem kualifikasi,” tuturnya

“Sementara kita pakai sistem timnas, dimana ngambil pemain dari tim-tim lain. Waktunya juga terbatas. Harus lewat masa adaptasi lagi dan pelatihnya juga beda,” sambungnya.

Adrian menambahkan, Indonesia justru akan dipermudah jika mencari tim melalui sistem kualifikasi. Sebab hal itu dapat mempersingkat waktu karena tidak perlu lagi menyamakan persepsi mengenai strategi dan kerjasama antar atlet.

“Ini kan bicara level yang sudah top. Jadi meskipun yang lolos adalah tim tapi mereka kan yang paling hebat di negaranya. Jadi bukan lagi bawa nama tim. Bukan pakai sistem kayak sepak bola yang cabutan dari tim-tim gitu. Itu pemikiran kuno,” tegasnya.

Editor : Bagusthira Evan Pratama

Reporter : Bintang Rahmat

Copy Editor :

Cara Ambil Pemain untuk Timnas eSports Mendapat Kritik