JawaPos Radar

Kisah Ahmad Azlan, Pendamping Atlet Lari Tunanetra

07/09/2018, 19:57 WIB | Editor: Bagusthira Evan Pratama
Asian Para Games 2018, INAPGOC, Paralimpik, tuna netra, atlet difabel, atlet disabilitas
Atlet paralimpik Indonesia, Abdul Hali dan pendampingnya, Ahmad Azlan (Bagusthira Evan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pelajaran berharga didapat dari Ahmad Azlan. Meski memiliki kesempurnaan fisik, ia rela melupakan mimpinya jadi atlet lari nasional demi membantu atlet disabilitas yang ada di sekitarnya.

Azlan sebenarnya punya peluang untuk bersinar. Sejak muda ia rutin mengikuti berbagai kejuaraan dan beberapa di antaranya berakhir dengan raihan medali.

Namun kesempatan untuk mengembangkan karir rela ia lupakan. Pada 2011, Azlan memilih fokus untuk menjadi pendamping atlet lari tunanetra.

"Dari SMA dulu memang saya sudah fokus jadi atlet. Lalu pada 2011 saya dilibatkan jadi asisten pelatih (atlet difabel) dan dari situ saya kemudian mulai dilatih untuk menjadi pendamping atlet," ucap Azlan kepada JawaPos.com.

Tugas Azlan tidak mudah. Saat latihan dan lomba, ia harus menyejajarkan dirinya dengan atlet yang didampinginya. Selain modal kecepatan langkah, Azlan juga harus memiliki feeling yang bagus. Karena itu, sejak 2013 ia fokus menemani pelari tunanetra Indonesia, Abdul Halim.

"Kalau dulu setiap pendamping belum fokus sama satu atlet. Jadi masih acak harus sama siapa saja. Baru 2013 kita sudah dipasangkan masing-masing. Saya sama Abdul Halim sampai sekarang," ungkapnya.

"Sejak 2013 itu pikiran saya sudah terbuka. Para atlet difabel ini bisa (bertanding) dan punya semangat untuk berjuang menunjukkan kemampuannya. Mulai dari itu saya tergugah untuk bantu mereka biar lebih berprestasi," tambahnya.

Keberadaan Azlan sangat penting dalam karir Abdul Halim. Berkat bantuannya, Abdul Halim sukses meraih medali emas di ASEAN Para Games 2017 Malaysia dan medali perunggu di Asian Para Games 2014 Incheon.

Azlan mengaku sejauh ini hubungannya dengan Abdul Halim masih terjalin dengan sangat baik. Selama delapan tahun, ia lebih sering merasakan suka ketimbang duka.

"Selama ini kebanyakan sukanya daripada dukanya. Paling dukanya cuma capek dan jenuh latihan saja. Sama mungkin kendalanya susah menggunakan lapangan untuk latihan karena sering penuh dipakai kegiatan lain," tutur Azlan.

"Dulu saya pernah cedera waktu di Incheon. Mau tak mau saya diganti sama pendamping lain. Tapi pas lomba sudah dimulai, terpaksa saya lepas pegangannya untuk berhenti. Sebab kalau tidak bahaya untuk saya dan untuk atletnya juga," tambahnya.

Kini Azlan siap tampil menemani AbdulHalim di Asian Para Games 2018. Keduanya sudah fokus menjalani pemusatan latihan di Lapangan Sriwedari, Solo, sejak Januari 2018 lalu.

(bep/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up