alexametrics

Tidak Apa Dicoret, tapi Kenapa Ada Kata-Kata Tak Perawan?

Keluarga Tuntut Pemulihan Nama Baik
30 November 2019, 11:55:17 WIB

JawaPos.com – Senam sudah digelutinya sejak kelas II SD. Konsekuensinya, di usia sebelia itu, dia harus berpisah dengan keluarga.

Puluhan medali juga telah diraih pesenam yang kini duduk di bangku SMA itu, baik tingkat daerah maupun nasional.

Dua kali pula dia menerima penghargaan dari Pemkot Kediri karena dianggap mengharumkan nama kota di Jawa Timur tersebut.

Tapi, semua hancur kini. Sh, pesenam tersebut, memutuskan untuk berhenti berlatih. Lebih ironis lagi, pesenam 17 tahun itu tak ingin lagi menjadi atlet.

”Anaknya down, wis emoh latihan. Setelah lulus sekolah, saya akan bawa pulang ke Kediri,” kata AK, ibunda Sh, saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Penyebabnya adalah pencoretan kontroversial dari pelatnas senam lantai SEA Games 2019. ”Alasan sang pelatih, Sh dicoret karena sudah tidak perawan,” katanya.

Dari arena SEA Games 2019 di Filipina, Indra Sibarani, pelatih pelatnas artistik putra sekaligus pelatih kepala senam Jawa Timur, membantah kabar tersebut. Pencoretan itu, kata Indra, dilakukan murni karena prestasi Sh melorot drastis dalam kualifikasi PON pada 1–4 November lalu.

Dengan status atlet SEA Games, lanjut Indra, Sh seharusnya bisa menjadi juara di nomor balance beam dan floor yang diikutinya. Namun, kenyataannya Sh malah terhenti di peringkat ke-13 dan ke-7. Sangat mengecewakan pihak pelatih.

”Nggak berprestasi dibawa SEA Games, kok enak,” ucap Indra ketika ditemui Jawa Pos di Century Park Hotel, Manila, Filipina, kemarin malam (29/11).

Reaksi serupa ditunjukkan pelatih pelatnas artistik putri Zahari, sosok yang selama ini melatih Sh dalam pemusatan latihan di GOR Petrokimia, Gresik, Jawa Timur. Surat rekomendasi untuk mengeluarkan Sh ditulis sendiri oleh Zahari pada 15 November. PB Persani kemudian menindaklanjuti dengan menunjuk Yogi Novia Laila Ramadhani sebagai pengganti.

”Saat kualifikasi PON saya sudah ngomong ke dia sebagai atlet pelatnas jangan sampai kalah dengan nonpelatnas, ternyata penampilannya jelek,” katanya.

Selanjutnya, tambah dia, pihaknya menerapkan aturan bahwa setiap atlet tidak boleh keluar malam. ”Juga tidak boleh pacaran, tidak boleh menginap di rumah cowok. Di situlah dia melakukan tindakan indisipliner,” ungkapnya.

Setelah itu, Zahari mendapat laporan bahwa Sh izin keluar malam untuk kerja kelompok dan naik transportasi online. Namun, setelah diselidiki, Sh ternyata diantar jemput oleh pacarnya.

”Lalu, dia pergi ke Malang sama cowoknya. Pamit juga nggak,” ujar Zahari.

Versi ibunda sang atlet, pada 13 November lalu, dia menerima telepon dari salah seorang pelatih. Sang pelatih menyebut Sh sering pulang malam karena pacaran dan selaput daranya sudah sobek.

”Saya kaget mendengar kabar itu. Saya langsung berangkat ke Gresik,” kata AK saat ditemui di kediamannya di Kediri.

Selama ini Sh memang mengikuti pelatnas di Gresik. Menurut AK, putrinya itu sudah dua bulan ikut latihan untuk persiapan SEA Games 2019.

”Dia memang mengakui pernah pacaran. Tapi, dia tahu batas-batasnya,” ungkap ibu dua anak itu.

Yang paling mengganggu pikirannya adalah alasan bahwa Sh tidak perawan lagi. Apalagi, selama ini sang anak belum pernah dites keperawanan.

Untuk membuktikannya, AK membawa Sh ke Surabaya pada 18 November. Tujuannya, tes keperawanan. Sayang, banyak rumah sakit (RS) yang menolak.

Karena itulah, sang ibu meminta izin agar tes dilakukan di RS di Kediri. ”Saat itu pelatih mengizinkannya. Bahkan, sebelum itu, dia diminta untuk berlatih kembali,” katanya.

Tes keperawanan dilakukan di RS Bhayangkara Kediri pada 20 November. Hasilnya, selaput dara pelajar kelas XII tersebut masih utuh. Itu berarti tuduhan pelatih soal keperawanan tidak benar. ”Hasilnya saya sampaikan ke pelatih,” ungkap AK.

Namun, usaha tersebut sia-sia. Sebab, menurut AK, jajaran pelatih meminta tes keperawanan dilakukan di RS Petrokimia Gresik. ”Saya menolak, kasihan anak saya. Merasakan sakit,” katanya.

AK mengakui bahwa sang anak tidak sempurna. Sebelum kejadian tersebut, pelatih memang pernah memberi tahu bahwa Sh kurang disiplin. Sebab, yang bersangkutan sering pulang malam. ”Dengan teguran itu, saya pun ikut mengingatkan (Sh, Red),” ujarnya.

AK mengaku, sebenarnya pihak keluarga bisa menerima pencoretan Sh dari skuad SEA Games. ”Kami terima (Sh) dicoret karena indisipliner. Tapi, kenapa ada kata-kata tidak perawan? Padahal, kenyataannya tidak benar,” ucapnya.

Melalui kuasa hukumnya, Imam Muklas, keluarga menuntut pemulihan nama baik Sh. Imam mengatakan, pihaknya sudah mengadukan persoalan itu ke Presiden Joko Widodo melalui surat.

Selain itu, pihaknya menyurati Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan Persatuan Senam Indonesia (Persani). ”Kami masih upayakan jalur non-ligitasi (di luar pengadilan, Red),” kata Muklas.

Sementara itu, Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto mengungkapkan, Menpora Zainudin Amali sudah menanyakan langsung isu tersebut kepada Ketua Umum PB Persani Ita Yuliati. ”Ya, setelah berkomunikasi dengan PB Persani, ternyata pencoretan bukan karena seperti yang diberitakan. Olahraga tidak mengenal seseorang masih gadis atau tidak untuk berprestasi,’’ paparnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : baz/fud/rid/feb/c10/ttg


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads