Tokyo 2020 Ditunda, Bintang Dayung Ini Ingin Banting Setir Jadi Dokter

30 Maret 2020, 14:43:03 WIB

JawaPos.com-Seluruh atlet di dunia, terutama yang mempersiapkan diri untuk terjun di Olimpiade Tokyo 2020, dijamin menganggur sekarang. Termasuk Polly Swann, anggota timnas dayung Inggris. Dia ingin menekuni profesi lain yang dimiliki, dokter.

Sampai dua pekan lalu, puluhan atlet dayung Inggris masih bertarung habis-habisan satu sama lain. Mereka menjalani seleksi untuk masuk timnas. Seleksi itu berlangsung tanpa penonton. Tapi, superseru. Polly Swann menyebutnya sebagai seleksi paling brutal yang pernah diikuti sepanjang karir.

’’Memang kadang persaingan di timnas lebih keras daripada pertandingan internasional,’’ ucap Swann seperti dilansir The Guardian.

Namun, gegap gempita itu tidak berlangsung lama. Tak sampai lima hari kemudian, tepatnya pada Sabtu (21/3), pelatnas dayung di kawasan Caversham tersebut ditutup. Pandemi Covid-19 telah membuat Piala Dunia Dayung dibatalkan. Nasib kejuaraan Eropa belum jelas. Bahkan, Olimpiade Tokyo 2020 dimundurkan.

Para atlet langsung dipulangkan. Mereka wajib menjalani karantina pribadi di rumah masing-masing. Sambil menjalani latihan fisik. Namun, tetap saja, tidak adanya pelatnas maupun kejuaraan membuat mereka menganggur. Di tengah ketidakpastian jadwal event dan wabah penyakit mematikan yang makin luas, Swann merasa terpanggil.

Rower 31 tahun itu ingin menekuni profesinya yang lain, yakni dokter. Dia ingin bekerja di National Health Service (NHS) dan bahu-membahu bersama kolega dokter untuk memerangi pandemi Covid-19. Di Inggris, penyakit yang menyerang sistem pernapasan itu telah menjangkiti 19.522 orang dan merenggut 1.228 jiwa.

’’Aku merasa sangat terganggu dengan fakta ini. Aku merasakan desakan yang amat besar untuk kembali bekerja di NHS,’’ tutur Swann kepada The Times. ’’Aku mungkin nggak penting buat NHS, tapi aku bisa bantu,’’ imbuh dia.

’’Aku lihat teman-teman dan kerabat yang bekerja di NHS. Ada kesan kuat bahwa mereka benar-benar bekerja sangat keras melawan penyakit ini dengan cara yang begitu hebat. Benar-benar tidak memikirkan diri sendiri,’’ papar anggota tim M8 Inggris yang meraih perak Olimpiade Rio 2016 tersebut.

Swann sudah berencana banting setir menjadi dokter setelah Olimpiade Tokyo. Namun, karena event itu ditunda akibat wabah penyakit, dia ingin segera alih profesi. ’’Memundurkan jadwal Olimpiade adalah tindakan yang benar. Ini lebih dari sekadar olahraga. Ini untuk kemanusiaan,’’ kata Swann.

Swann lahir di Lancaster, tapi dibesarkan di Edinburgh. Ibunya, Sally, adalah bidan. Sedangkan ayahnya, David, seorang dokter. Passion sebagai dokter menurun kepada Polly, si sulung. Setelah lulus SMA, dia masuk Fakultas Kedokteran Universitas Edinburgh.

Sekolah dokter sempat dia tinggalkan pada 2010. Saat itu dia masuk timnas yang diterjunkan di Kejuaraan Dunia U-23 di Brest, Belarusia. Pada 2013, dia kembali ke sekolah. Kali ini menekuni studi kebijakan kesehatan global di Universitas London.

Namun, berhenti lagi karena mengikuti berbagai kejuaraan. Pada tahun itu, Swann dan timnya menuai tiga emas dalam Piala Dunia Dayung di Sydney, Australia.

Setelah bertahun-tahun terbengkalai (termasuk saat mengikuti Olimpiade 2016), Swann akhirnya menyelesaikan sekolah dokter tahun lalu. Namun, dia belum mendapat izin praktik. Kini, dia berkesempatan untuk mengurus izin.

’’Kita harus percaya bahwa ada cahaya di ujung lorong gelap ini,’’ kata Swann.

’’Olimpiade itu seperti narkoba. Nagih. Atlet rela menunda hidupnya, berjauhan dengan orang-orang tercinta, bangun di jam-jam konyol pada pagi hari,’’ tuturnya. Kejadian itu mengingatkan dia bahwa ada kehidupan lain yang tidak kalah berharga.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : gil/c19/na



Close Ads