alexametrics

Kenangan Para Jawara Bulu Tangkis soal Semangat Juang Pak Ci

Telepon Langsung atau Ngajak Makan
28 November 2019, 12:28:00 WIB

JawaPos.com – Kenangan 40 tahun silam itu masih diingat Rudy Hartono. Saat berhenti bermain bulu tangkis, Rudy bertemu dengan Pak Ci. Dia ditawari untuk ikut membina klub bulu tangkis PB Jaya Raya. Bersama Retno Kustiyah dan Minarni, Rudy dan Pak Ci kemudian mulai membina bibit-bibit atlet bulu tangkis.

”Saya mengingat satu hal. Beliau (Pak Ci, Red) mengatakan, kalau sudah komitmen untuk membina, baik memberi sumbangsih berupa materi maupun ide, beliau akan tetap komitmen sampai berhasil. Sampai menyumbangkan pemain yang berprestasi untuk Indonesia. Itu sudah terbukti,” tutur Rudy.

Pemilik delapan gelar All England tersebut menilai Pak Ci sebagai orang yang sangat berjasa dalam perkembangan bulu tangkis di Indonesia. Komitmennya dibuktikan dengan lahirnya juara-juara dunia seperti Susy Susanti hingga Hendra Setiawan. Banyak atlet lahir yang dibina PB Jaya Raya.

”Itu hanya untuk bulu tangkis. Beliau juga berjasa di bidang lain seperti pendidikan,” kata Rudy. Hal itulah yang patut dicontoh dari sosok Ciputra. ”Beliau konsisten dan bisa menghasilkan atlet berprestasi yang terus ada bibit-bibitnya sampai nanti,” lanjutnya.

Rudy menuturkan, semangat Pak Ci akan terus hidup melalui PB Jaya Raya. Klub tersebut saat ini menjadi salah satu klub besar di tanah air. Setiap tahun rutin digelar turnamen usia muda seperti Pembangunan Jaya Raya Junior Grand Prix. ”Kami memang kehilangan. Tetapi, komitmen ini akan jalan terus. Beliau sebagai panutan yang harus dicontoh para penerusnya. Semoga ini menjadi motivasi bagi generasi penerusnya untuk lebih berprestasi lagi dalam bidangnya,” katanya.

Hendra Setiawan mengakui bahwa kesuksesannya di bulu tangkis tidak bisa dipisahkan dari sosok Pak Ci. Atlet 35 tahun itu memulai perjalanan karir di PB Jaya Raya. Tidak sekadar kenal, bapak tiga anak itu juga memiliki kedekatan yang cukup mendalam dengan sosok Pak Ci.

Semasa sehat, Pak Ci pernah mengajak beberapa atlet Jaya Raya untuk sekadar makan bersama. Tidak sering. Hanya di kala Hendra dkk memiliki waktu luang di sela-sela padatnya jadwal turnamen. ”Terakhir ketemu awal tahun ini. Waktu itu saya dikasih buku otobiografi beliau. Setelah kejuaraan dunia, saya sebenarnya berencana menjenguk beliau. Berhubung waktunya nggak pas, jadi belum sempat juga sampai sekarang,” sesal Hendra.

Juara dunia empat kali itu ingat betul bagaimana Pak Ci selalu memberikan ucapan selamat ketika dia (Hendra) menjadi juara. Termasuk saat Hendra bersama Mohammad Ahsan menjadi juara dunia tahun ini. Padahal, saat itu Pak Ci tengah sakit. ”Seringnya beliau telepon langsung. Biasanya dilakukan kalau juara saja. Soalnya standar Pak Ci itu tinggi. (Tapi), waktu jadi juara dunia hanya komunikasi melalui SMS,” ungkap Hendra.

Sesibuk apa pun, Pak Ci selalu memberikan semangat dan motivasi. Jika tak bisa dilakukan secara langsung, support itu disampaikan lewat layanan pesan singkat. ”Beliau pernah bilang, walau sering juara, jangan cepat puas. Selalu haus akan gelar. Kalau lagi kalah, katanya, sudah nggak apa-apa, nanti pertandingan berikutnya coba lagi. Jangan putus asa,” kenang peraih emas Olimpiade 2008 Beijing tersebut.

Terlalu banyak momen yang pernah dilalui Hendra bersama Pak Ci. Tidak hanya dekat, Pak Ci juga begitu perhatian. Termasuk kepada atletnya yang berhasil berprestasi di kancah dunia. Kalau juara, pasti diberi bonus.

Ada satu momen yang tidak dilupakan Hendra, yaitu ketika dirinya merebut emas Asian Games 2014 bersama Ahsan. Melalui sambungan telepon, Pak Ci berujar, ”Selamat sudah juara. Ini bikin saya bangga dan Jaya Raya bangga. Tetap semangat. Semoga ke depan bisa jadi juara lagi di turnamen-turnamen berikutnya.”

Doa itu terkabul. Hingga saat ini Hendra dan Ahsan menjadi ganda putra terbaik kedua dunia. Usia tidak menghalangi mereka untuk berprestasi. Tapi, Hendra tetap bersiap jika saatnya gantung raket tiba.

”Beliau lebih banyak kasih wejangan. Pas terakhir ketemu saya sempat tanya, ’Setelah nggak main mau jadi apa?’ Apa saya bisa masuk jadi entrepreneur? Beliau mendukung dan malah menyarankan saya masuk ke sekolah dia buat diajarin berbisnis,” papar Hendra.

Sementara itu, bagi Susy Susanti, Pak Ci tidak hanya pendiri Jaya Raya. Dia merupakan sosok ayah yang begitu perhatian kepada anak asuhnya.

”Jasa-jasa beliau luar biasa sekali untuk bulu tangkis,” katanya. Mulai perhatian, nasihat, hingga dukungan dana yang terus-menerus dalam membina atlet-atlet muda. ”Dari dukungan itulah muncul juara-juara baru yang mengharumkan nama Indonesia,” sambung perempuan yang kini menjabat Kabid Binpres PBSI itu.

Susy tercatat menjadi pemain binaan PB Jaya Raya pada 1985. Prestasinya terbilang mentereng. Selain meraih emas Olimpiade Barcelona 1992, dia ikut mengantar Indonesia merebut Piala Sudirman 1989 serta Piala Uber pada 1994 dan 1996.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : gil/feb/c10/c9/fal


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads