alexametrics

Ciputra Dan Sejarah Hebat Bulu Tangkis Indonesia

27 November 2019, 11:06:23 WIB

JawaPos.com-Taipan properti Indonesia Ir Ciputra meninggal dunia hari ini (27/11) pada usia 88 tahun di Singapura. Selain dikenal sebagai chairman dan founder Ciputra Group, Ciputra meninggalkan jasa sangat besar pada dunia olahraga Indonesia. Khususnya bulu tangkis.

Lewat klub yang dia lahirkan, PB Jaya Raya, sejumlah nama besar bermunculan dan berkali-kali mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Mulai dari Susy Susanti, Mia Audina, sampai Hendra Setiawan.

Para bintang bulu tangkis dunia saat ini juga bernaung di bawah PB Jaya Raya. Misalnya pemain ganda nomor satu dunia Marcus Fernaldi Gideon (berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo), lalu Greysia Polii, sampai Muhammad Rian Ardianto.

Dalam buku 40 tahun PB Jaya Raya, sejarah persatuan bulu tangkis ini bermula pada tahun 1969. Saat itu, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meminta kepada Ciputra untuk membina cabang olahraga atletik dan sepak bola. Status Ciputra ketika itu adalah Direktur Utama PT Pembangunan Jaya.

Namun Ciputra menjawab bahwa lebih baik dia mengurusi bulu tangkis. ”Sebab itulah yang sesuai dengan anatomi tubuh orang Indonesia. Buktinya, Indonesia juara Piala Thomas dan All England,” kata Ciputra sebagaimana dikutip dari buku tersebut.

Gubernur Ali Sadikin setuju dengan gagsan tersebut. Walaupun pada mulanya, Ciputra juga mengurus sepak bola dan atletik. Ketiga cabang olahraga tersebut akhirnya melebur ke dalam Yayasan Jaya Raya yang berdiri pada 17 Oktober 1970.

Selain olahraga, yayasan ini juga bergerak pada bidang sosial, pendidikan, dan kebudayaan.

Yayasan Jaya Raya juga memiliki klub sepak bola bernama PS Jayakarta. Dalam perjalanannya, klub ini melahirkan banyak sekali pemain legendaris yang dipanggil masuk ke tim nasional. Antara lain Anjas Asmara, Sofyan Hadi, Andi Lala, dan Iswadi Idris.

Selain itu cabang olahraga atletik juga berkembang dengan memproduksi atlet-atlet kelas nasional. Misalnya saja sprinter Carolina Riuwpassa, Usman Effendi (angkat besi dan lempar cakram), dan Carmen Yahya (lempar cakram).

Walau bulu tangkis menjadi cita-cita awal Ciputra, namun pendirian klub badminton di bawah Yayasan Pembangunan Jaya menempati urutan ketiga setelah sepak bola dan atletik.

Waktu itu, Indonesia sendiri sudah sangat tangguh di ajang bulu tangkis internasional.

Sejak 1958, Indonesia telah bersinar dengan merebut trofi tertinggi kejuaraan dunia beregu putra Piala Thomas. Nama-nama seperti Tan Joe Hok, Ferry Sonnevile, Eddy Yusuf, Lie Po Djian melumat juara bertahan Malaysia.

Indonesia menang dengan skor 6-3.

Semangat Ciputra kian terbakar setelah melihat Rudy Hartono Kurniawan merajari turnamen paling tua di dunia, All England. Tidak hanya satu atau dua kali, namun tujuh kali secara beruntun mulai 1968 sampai 1974.

Ciputra (kanan) dan Rudy Hartono sebelum pembentukan PB Jaya Raya. (Repro Buku 40 Tahun PB Jaya Raya)

Rudy Hartono akhirnya menjadi juara All England untuk kali kedelapan pada 1976 dengan mengalahkan juniornya, Liem Swie King di final.

Pada 1975, setelah beberapa kali pertemuan, Ciputra dan Rudy Hartono sepakat untuk mendirikan PB Jaya Raya. Kub ini akhirnya resmi berdiri pada 10 Juli 1976, melengkapi tim sepak bola dan atletik yang sudah lebih dulu ada. Walau aktif bermain, Ciputra menunjuk Rudy sebagai Ketua Pembinaan Bulu Tangkis Jaya Raya.

Rudy memiliki visi awal bahwa PB Jaya Raya harus memiliki dua pelatih, fisik dan teknis. Selain itu, atlet yang dibina harus terbatas. Yakni lima putra dan tiga sampai empat atlet putri.

Dan yang ketiga adalah pembinaan PB Jaya Raya terbatas kepada atlet yang memiliki prospek bagus. ”PB Jaya Raya mencari dan merekrut calon-calon atlet berbakat berusia muda antara 11 sampai 14 tahun. Mereka dididik untuk berprestasi baik nasional, regional, sampai internasional,” ucap Rudy Hartono yang akhirnya juga ditunjuk sebagai ketua PB Jaya Raya.

Dalam perjalanannya, Ciputra akhirnya membubarkan tim sepak bola dan atletik. Tujuannya agar mereka bisa fokus di bulu tangkis.

Dikutip dari situs resmi PB Jaya Raya, langkah itu membuat Ciputra banjir kritik. Dia dianggap tidak nasionalis. Namun Ciputra tidak peduli karena dia tidak ingin menumpang dengan mencari popularitas dari sepak bola.

Badai ekonomi pada era 1980-an sempat membuat PB Jaya Raya goyah. Untung saja, klub tersebut tidak bubar. Salah satu pemain yang paling loyal dalam kondisi sulit tersebut adalah Susy Susanti.

Dan Susy-lah yang akhirnya mengangkat nama PB Jaya Raya melesat ke atas. Momentumnya adalah ketika dia menjadi manusia Indonesia pertama yang merebut emas Olimpiade di Barcelona 1992.

Editor : Ainur Rohman


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads