alexametrics

Wawancara dengan Ketum KONI Jatim Dua Periode Erlangga Satriagung

26 Januari 2022, 11:30:21 WIB

JawaPos.com-Kemarin (25/1) menjadi hari terakhir Erlangga Satriagung menjabat status orang nomor satu di KONI Jatim. Ditemui di KONI Jatim pukul 10.50 WIB, Pak Er (sapaan Erlangga Satriagung) baru saja rampung bermain tenis.

Erlangga memimpin KONI Jatim selama dua periode (2012–2016 dan 2017–2021). Dalam periode tersebut, pria 69 tahun itu menakhodai Jatim di tiga edisi PON (2012, 2016, dan 2021). Hasilnya, Jatim selalu bercokol di tiga besar klasemen pengumpul medali terbanyak.

Kemarin Jawa Pos berkesempatan berbincang dengan alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu sekitar 60 menit. Berikut petikan wawancaranya.

Selama dua periode memimpin KONI Jatim, hal apa yang membuat Pak Er paling terkesan?
Asyik, ya. Ada kebanggaan. Membina olahraga itu membuat orang berprestasi. Tentu sangat berbeda dengan dunia bisnis yang saya geluti sebelumnya.

Bisnis itu ya bagaimana membuat bisnis itu bisa maju. Tentang diri sendiri. Tetapi, di olahraga, bagaimana ’’mendesain’’ orang lain bisa maju dengan prestasi.

Sembilan tahun di KONI Jatim, apa saja catatan plus minus olahraga Jatim versi Pak Er?
Sayang, di Jawa Timur ini masih kurang untuk venue olahraganya. Kita ini masih tertinggal dari Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Riau, dan Papua untuk venue olahraga yang berstandar internasional.

Dulu sebenarnya Gresik punya kesempatan saat mengajukan diri menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Tapi, saat itu kan kita kalah bidding dari Vietnam. Padahal, waktu itu kami sudah ada rancangan untuk membangun sport city di daerah Menganti, Gresik, dengan lahan kurang lebih 1.000 hektare.

Setelah tidak menjabat lagi sebagai ketua umum KONI Jatim, apa rencana selanjutnya, Pak Er?
Lanjut kerja lagi. Mengurus bisnis sendiri. Mungkin kalau pengurus baru meminta saya di KONI Jatim lagi, saya masih bisa bersedia. Tapi, hanya mengurus soal sport science.

Apa legasi yang ditinggalkan KONI Jatim era Pak Er untuk olahraga di Jawa Timur?
Ada tiga hal. Pertama, sport science yang menghubungkan pilar fisik, kesehatan, psikologi, biomekanik, nutrisi dan gizi, serta rehabilitasi. Sehingga atlet tidak berprestasi secara short-term.

Kedua, memberikan beasiswa penuh kepada atlet dan pelatih yang berprestasi. Kami biayai kuliahnya sampai S-3. Analisis kami, salah satu hambatan atlet adalah tidak didukung secara penuh dari keluarga. Keluarga selalu bertanya: ngapain jadi atlet.

Karena itu, ketika aspek pendidikan ditanggung, keluarga jadi yakin soal masa depan anak mereka.

Ketiga, kami mempersiapkan kehidupan atlet pascapensiun. Mereka kami bekali ilmu entrepreneurship. Kami kerja sama dengan Universitas Ciputra. Atlet didorong menjadi pengusaha. Jadi, uang bonus tidak hilang begitu saja.

Dalam tiga kali edisi PON, mana yang paling menantang ?
Jatim termasuk provinsi yang punya konsistensi tinggi. Selalu masuk tiga besar hasil PON. Cuma memang PON XX/2021 di Papua itu yang paling sulit, ya. Selama dua tahun persiapan itu terkendala pandemi yang membuat kami sempat mengubah sistem puslatda.

Sistem training from home ternyata membuat performa atlet menurun. Akhirnya, kami buat skema puslatda new normal.

Atlet dan pelatih dikumpulkan di satu lokasi. Cukup efektif meski berat dari sisi psikologis atlet dan pelatihnya. Prioritas kami saat itu adalah keselamatan, kesehatan, baru prestasi.

KONI Jatim melakukan musorprov hari ini (26/1) dan besok (27/1), harapan untuk pengurus berikutnya?
Tentu tetap harus meraih prestasi setinggi-tingginya. Saya cuma mengingatkan kalau definisi olahraga itu tidak sekadar ingin sehat dan mencegah sakit.

Kalau untuk olahraga prestasi, harus ada hal yang pasti dilakukan, yakni disiplin, sportif, dan rasa hormat. Terus tanamkan itu sehingga membentuk pemuda yang berkarakter.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : gil/c12/dra

Saksikan video menarik berikut ini: