
Pemanah PENABUR Intercultural School Primary Kelapa Gading. (Dok, IST)
JawaPos.com - Sikap berdiri yang tegak, penuh percaya diri, serta fokus saat menarik busur panah ke arah target di arena pertandingan MAWAS ARCHERY COMPETITION 7 yang berlangsung pada 4-5 Oktober 2025 di Kalisari, Jakarta Timur, berhasil membawa pulang medali kemenangan bagi tujuh peserta didik PENABUR Intercultural School Primary Kelapa Gading.
Gelaran yang diadakan dalam rangka perayaan HUT RI ke-80 tersebut, memberikan rasa sukacita dan kegembiraan bagi ketujuh peserta didik PENABUR Intercultural School Primary Kelapa Gading.
Mengalahkan lebih dari 500 siswa SD untuk kategori nasional yang ada di wilayah Jabodetabek, Giselle Vivian Liu, Mavrick George Patrick, Kenzie Ivander Valery Ginting, Jason Edward Chen, dan Matthew Dylan Hartono dari grade 3 berhasil menyabet habis medali kemenangan.
Giselle Vivian Liu meraih medali emas bantalan dan medali perunggu untuk Mix Team SD. Kenzie Ivander Valery Ginting berhasil meraih medali perak bantalan dan medali emas Beregu Putra SD.
Mavrick George Patrick meraih medali perak bantalan dan medali perunggu Beregu Putra SD. Jason Edward Chen dan Matthew Dylan Hartono yang sama-sama berhasil meraih medali perunggu di bantalan juga Beregu Putra SD.
Tak mau ketinggalan, Howey Ethan Sabarto, peserta didik grade 4 PENABUR Intercultural School Primary Kelapa Gading turut membawa pulang medali kemenangan. Ia meraih medali perak bantalan. Kemudian, ada Athanasius Warren Jonatan di grade 5 yang meraih medali perunggu bantalan.
“Aku menyukai panahan sejak usia delapan tahun dan mulai rutin berlatih melalui ekstrakurikuler di sekolah juga di rumah. Untuk pertandingan, biasanya aku semakin intens berlatih yaitu satu jam setiap sesi selama satu bulan,” ujar Giselle.
Sebagai anak perempuan, Giselle mengaku menyukai olahraga panahan setelah melihat Kakak kelasnya di sekolah bernama Claire yang bisa memanah hingga jarak sepuluh meter dan meraih banyak medali. “Kalau Claire sebagai anak perempuan bisa, aku juga pasti bisa," tutur Giselle.
Kenzie juga suka olahraga panahan sejak usia delapan tahun dan mulai giat berlatih melalui ekstrakurikuler di sekolah maupun secara mandiri di rumah. “Aku senang panahan karena dapat meningkatkan fokus dan membangun rasa percaya diri," kata Kenzie.
Selama mengikuti olahraga panahan hingga bertanding baik Giselle maupun Kenzie mendapatkan dukungan penuh dari orang tua juga sekolah.
“Guru di sekolah terus mengatakan ‘Semangat Giselle, Kamu Pasti Bisa!’. Lalu, kalau orangtua, mereka sangat mendukung secara penuh dengan menyediakan perlengkapan panahan," katanya.
Baginya, pertandingan ini adalah yang pertama dan orang tua selalu mendukung. "Orang tua selalu bilang ‘Kalau Kalah Tidak Apa, Asalkan Sudah Berusaha’. Namun, puji Tuhan pada akhirnya aku berhasil menang dan mendapatkan lebih dari satu medali," cerita Giselle.
Berhasil meraih medali kemenangan untuk pertama kalinya, bukan berarti selama pertandingan berjalan mulus. Perasaan gugup dan takut tentu menghampiri baik Giselle maupun Kenzie ketika bertanding. “Namun, aku berusaha mengatasinya dengan menganggap ini seperti sedang berlatih panahan di rumah," ucap Kenzie.
Giselle bercerita bahwa pelatih panahan di sekolah yaitu Sir Widhie selalu mengatakan lawan terbesar dari panahan adalah diri kita sendiri. “Just don't say ‘I can't do this’. You must believe in yourself, you can do it.” tutur Giselle.
Selanjutnya, Giselle dan Kenzie akan mempersiapkan diri mengikuti kompetisi panahan di bulan Desember 2025 mendatang. “Kalau teman-teman mau mencoba bermain panahan kuncinya adalah latihan rutin dan jangan lupa mencatat scoring agar mengetahui progres selama berlatih.” ucap Kenzie.
