alexametrics

Final Melawan Ganda Jepang, Hendra/Ahsan Hanya Perlu Siapkan Mental

Kalahkan Fajar/Rian di Semifinal
25 Agustus 2019, 09:03:07 WIB

JawaPos.com-Konsistensi ganda putra senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan memang sangat luar biasa. Walaupun Hendra sudah berusia 35 tahun, dan Ahsan menginjak usia 32 tahun bulan depan, namun kebintangan mereka tetap bersinar dan seakan menolak redup.

Dini hari tadi, Hendra/Ahsan memastikan menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang tampil pada final Kejuaraan Dunia 2019 di Basel, Swiss.

Bertanding di St. Jakobshalle, The Daddies mengalahkan junior mereka Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto lewat rubber game 21-16, 15-21, dan 21-10 dalam tempo 47 menit.

Final Melawan Ganda Jepang, Hendra/Ahsan Hanya Perlu Siapkan Mental
Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto terhenti di semifinal Kejuaraan Dunia 2019. (PP PBSI )

’’Syukur Alhamdulillah, kami bisa lolos dari pertandingan semifinal tadi. Pertandingan memang nggak mudah. Karena selain beradu teknik, kami ada pertarungan mental juga sama mereka. Karena sama-sama nggak mau kalah,” kata Ahsan dalam siaran pers yang diterima Jawa Pos dari PP PBSI.

Pertandingan ini menunjukkan bahwa Hendra/Ahsan bukan hanya unggul mental dari Fajar/Rian. Lebih dari itu, secara teknik dan kecerdasan permainan, Hendra/Ahsan masih berada di atas juniornya tersebut.

Hendra yang hari ini berulang tahun ke-35, memainkan perannya sebagai pengatur permainan dengan sangat baik. Berfungsi sebagai pemain depan, Hendra mengorkestrasi jalannya pertandingan seefektif mungkin. Dia bisa mengatur tempo, kapan harus bermain cepat, kapan lambat.

Kapan waktunya menghajar sekuat tenaga, kapan waktunya hanya cukup menempatkan bola dengan jarak sependek mungkin dengan net. Hendra melengkapi senjatanya lewat variasi drop shot dan pukulan-pukulan kejut mematikan.

Perubahan kecepatan inilah yang membuat Fajar/Rian kelabakan dan sulit melakukan antisipasi.

Apalagi, Ahsan yang berada di belakang juga bermain efisien. Dia tidak banyak membuang tenaga, menghajar ketika situasi sudah sangat menguntungkan, serta tak kerap membikin kesalahan sendiri.

Ini tampak pada awal game pertama. Saat itu, Hendra/Ahsan sempat tertinggal 9-11. Namun, kemudian, Hendra/Ahsan melesat meyakinkan dengan merebut enam angka berurutan. Setelah unggul 15-11, Hendra/Ahsan tak lagi terkejar lagi.

Pada game kedua, kondisi justru berbalik. Fajar/Rian yang sudah paham dengan apa yang dilakukan Hendra/Ahsan, memilih untuk menggeber tenaga semaksimal mungkin. Hasilnya, Fajar/Rian langsung unggul jauh 11-6. Hendra/Ahsan sempat mengejar, bangkit, dan membalikkan kedudukan dengan unggul 13-12.

Tetapi, Fajar/Rian kembali mengambil momentum untuk memenangkan game kedua dengan nyaman.

Tak mau terjebak pada kesalahan yang sama, Hendra/Ahsan langsung menggeber habis-habisan tenaga mereka pada game ketiga. Hasilnya, mereka tidak pernah tertinggal dan menang sangat jauh dalam kondisi 21-10. Yang luar biasa, Hendra/Ahsan menutup pertandingan dengan mendulang sembilan angka secara beruntun!

“Game kedua, kami terlalu banyak keserang dulu. Jadi game ketiga kami ambil inisiatif buat menyerang duluan, lebih enak kalau begitu,” ujar Hendra.

Selanjutnya pada babak final, Hendra/Ahsan akan menghadapi ganda Jepang yang sedang naik daun, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Pada semifinal dini hari tadi, mereka menghajar unggulan kedua asal Tiongkok Li Junhui/Liu Yuchen dengan skor 21-19 dan 21-13 hanya dalam tempo 43 menit.

Hendra/Ahsan baru sekali bertemu melawan pasangan unggulan ke-12 tersebut. Tepatnya pada semifinal Indonesia Open 2019. Saat itu, Hendra/Ahsan menang susah payah dalam kondisi 17-21, 21-19, dan 21-17.

’’Yang pasti buat final Kejuaraan Dunia ini yang disiapkan itu mentalnya. Yang penting berani dan fokus dari awal. Hasilnya kami serahkan Kepada Yang di Atas,” ujar Hendra. ’’Persiapannya banyak-banyakin doa saja dan istirahat yang cukup,” timpal Ahsan.

Hendra/Ahsan sendiri dua kali menjadi juara dunia yakni pada 2013 dan 2015. Bersama Markis Kido, Hendra juga pernah merebut emas kejuaraan dunia pada edisi 2007 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Editor : Ainur Rohman



Close Ads