alexametrics

Akan Fokus pada Yang Muda sebab Emas Datang dari Atlet 16 dan 17 Tahun

25 Mei 2022, 19:44:20 WIB

JawaPos.com-Evaluasi menyeluruh bakal dilakukan pasca SEA Games 2021 Hanoi. Renang juga akan menjadi objek evaluasi setelah cuma membawa pulang 2 emas, 3 perak, dan 10 perunggu.

Waketum PB PRSI Harlin E. Rahardjo mengatakan kecewa dengan hasil yang diraih perenang Indonesia pada SEA Games 2021. Sebab, menurutnya banyak perenang yang tidak bisa mencapai peak performance saat perlombaan.

“Beberapa perenang bahkan waktunya lebih baik saat time trial terakhir. Dan itu banyak yang kami harapkan dapat emas justru menurun waktunya di SEA Games,” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos.

Menurut Harlin, seandainya para perenang bisa mencapai peak performance atau minimal menyamai hasil time trial terakhir pada 21-23 April, setidaknya Indonesia mendapatkan tambahan tiga emas. “Sebab, yang juara sebetulnya waktunya kalah dari perenang kita saat di time trial,” ujar Harlin.

Tiga perenang yang dimaksud Harlin adalah Siman Sudartawa, Farrel Armandio Tangkas, dan Gagarin Nathaniel Yus.

Gagarin misalnya. Pada saat SEA Games, dia harus puas mendapat perak nomor 50 meter gaya dada putra dengan catatan 28,31 detik. Gagarin kalah tipis dari peraih medali emas asal Vietnam Bhao Pham Tanh. Dia mencatat 28,28 detik. Padahal saat time trial, catatan Gagarin 27,90 detik.

Berkaca dari hasil itu, Harlin menuturkan bahwa yang harus dievaluasi adalah persiapan pada periodesasi akhir. Jadi, tapering off-nya harus detail dan pas. “Itu sebetulnya seninya pelatih. Jadi ini harus dievaluasi agar di pertandingan berikutnya tidak terjadi lagi karena impactnya besar,” katanya.

Namun, di balik kekecewaan, pihaknya masih bersyukur karena terdapat dua atlet muda yang mampu merebut medali emas. Yakni perenang 16 tahun Masniari Wolf yang merebut emas di nomor 50 meter gaya punggung putri dengan catatan 29,21 detik.

Juga atlet berusia 17 tahun Flairene Candrea Wonomiharjo yang memenangi nomor 100 meter gaya punggung putri dengan catatan waktu 1 menit 3,36 detik. “Ini menjadi kabar baiknya lah. Berarti harapan masa depan bagus,” ucap Harlin.

Keduanya mengakhiri puasa panjang emas Indonesia di SEA Games dari sektor putri. Sebab, sudah 11 tahun perenang putri Indonesia tidak merebut emas SEA Games. Kali terakhir emas diraih Yessy Yosaputra pada nomor 200 meter gaya punggung putri pada SEA Games 2011.

Selain itu, Masniari dan Flairene juga mampu memecahkan rekornas. Masniari memecahkan rekor milik Sofie Kemala (29,47 detik). Sedangkan Flairene mengalahkan rekornas milik Nurul Fajar dengan catatan 1 menit dan 03,47 detik.

“Dari rekornas juga terlihat dipecahkan atlet muda usia 16 dan 17 tahun. Ini kan menunjukkan ada stagnasi dari perenang yang sudah pernah ikut SEA Games sebelumnya,” ucapnya.

Karenanya, ke depan, Harlin menuturkan bahwa Indonesia harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada atlet muda. Pada SEA Games 2021 ini, Harlin membeberkan bahwa sebetulnya ada perenang senior yang seharusnya sudah digantikan atlet muda. Namun, dia tetap dipilih dan diberangkatkan.

Oleh sebab itu, dia berharap pelatih bisa lebih objektif untuk menentukan keberangkatan atlet. Terutama perenang senior yang tidak berkembang. Dia harusnya sudah diganti atlet muda.

“Itu sudah keharusan dan keniscayaan. Tidak bisa kita bergantung pada senior yang sudah stagnan dan menurun. Pelatih harus bisa melihat hal itu,” katanya.

Di sisi lain, Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari mengatakan bahwa dalam waktu dekat, pihaknya bakal melakukan bakal rapat kerja dengan Kemenpora. Tujuannya adalah mengevaluasi dan melihat hasil SEA Games Vietnam.

Mengenai cabor yang performanya kurang, Okto secara pribadi tak ingin membandingkan cabor. “Karena saya datang dari cabor. Justru kami menggunakan SEA Games itu untuk melihat bagaimana negara tetangga kita mempersiapkan atletnya,” ujarnya.

Dia mencontohkan Singapura yang fokus di dua cabang atletik dan renang. “Tapi setelah kami perhatikan ternyata ada kolam renang yang didedikasikan untuk pelatnas. Nah di kita belum ada. Ini perlu kita belajar dari negara tetangga,” katanya.

Okto mengingatkan bahwa SEA Games bukan target utama dan hanya sasaran antara. “Ini sama seperti negara lain. Seperti Filipina yang saya tanya tidak peduli ranking. Tetapi fokus pada nomor yang harus tingkatkan. Kita di sini menjadikan SEA Games sebagai ukuran agar membuat prestasi kita lebih baik lagi,” ucapnya.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Rizky Ahmad Fauzi

Saksikan video menarik berikut ini: