alexametrics

PP PBSI Meminta Tunggal Putra Dites Virus Korona di Pelatnas Cipayung

25 Maret 2020, 13:31:28 WIB

JawaPos.com – Pelatnas Cipayung waspada. Pelatih tunggal putra Hendry Saputra dinyatakan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19.

Hendry menjalani isolasi di RS Pelni, Jakarta, sejak Senin (23/3). Dia mengalami gejala Covid-19 pada hari ketujuh sepulang dari Birmingham, Inggris, menemani Jonatan Christie dkk bertanding di All England.

’’Memang betul. Saat ini Hendry Saputra dinyatakan sebagai PDP. Dia masih harus mengikuti serangkaian tes Covid-19,’’ kata Sekjen PBSI Achmad Budiharto dalam keterangan resmi yang diterima Jawa Pos kemarin.

’’Kami telah menerima laporan dari tim dokter bahwa Hendry tengah menunggu tes swab untuk memastikan apakah positif Covid-19 atau tidak,’’ tambahnya.

Pria yang akrab disapa Budi itu menjelaskan, Hendry mengalami gejala Covid-19 seperti demam, lemas, dan mual. Makanan tidak bisa masuk. Setelah menjalani CT scan, di paru-paru kirinya diketahui terdapat banyak flek. Padahal, pelatih PB Tangkas tersebut tidak memiliki riwayat penyakit paru-paru.

Saat ini pelatnas Cipayung menerapkan isolasi total. Akses keluar masuk ditutup. Tidak ada yang boleh berkunjung maupun meninggalkan kompleks asrama. PP PBSI juga akan melaporkan hal itu kepada BWF. Kabid Binpres PP PBSI Susy Susanti belum tahu akan melakukan tindakan apa jika Hendri ternyata positif.

’’Saya tidak ingin berandai karena belum ada kejelasan. Pas masuk ada aturan dari dokter bahwa kami semua di asrama menerapkan social distancing. Koh Hendry sendiri setelah pulang dari All England itu tidak melatih di asrama,’’ papar Susy kemarin.

Susy mengatakan, sejauh ini kondisi para atlet yang menjalani isolasi mandiri masih baik. Mereka berada di bawah kontrol dokter langsung. Latihan tetap berjalan terpisah dan tidak terlalu intensif. Isolasi mandiri berlangsung hingga 30 Maret. Setelah itu, mereka juga belum diperbolehkan pulang.

’’Lihat situasi secara keseluruhan. Tidak hanya di pelatnas, tetapi juga di masyarakat untuk menjaga asrama steril. Kami minta anak-anak meminimalkan kontak dengan luar. Untuk jaga-jaga. Istilahnya, mereka lebih aman di asrama,’’ papar peraih emas Olimpiade Barcelona 1992 tersebut.

Sementara itu, Budi menambahkan, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, pihaknya mengajukan permintaan tes Covid-19 untuk seluruh anggota pelatnas. Yang paling mendesak adalah tim tunggal putra. Sebab, mereka paling banyak berinteraksi dengan Hendri selama di All England.

Budi sudah menyampaikan kebutuhan tes melalui Kemenpora dan NOC Indonesia. ’’Kami belum tahu berapa lama waktunya untuk tes. Saya sih mintanya (tes) di Pelatnas Cipayung ya. Tetapi belum tahu karena belum ada kepastian seperti apa,’’ papar Budi.

Indonesia Open

Sementara itu, PBSI juga mengusulkan agar Indonesia Open 2020 yang sedianya dijadwalkan pada 16−21 Juni diundur menjadi September. Budi mengatakan, pihaknya sudah mengirim surat usulan ke BWF pada Senin lalu. Namun, belum ada jawaban dari federasi bulu tangkis dunia tersebut.

’’Baru usulan untuk menunda. Keputusannya bergantung BWF. Butuh waktu untuk membuat keputusan karena juga disesuaikan dengan kejuaraan lain. September itu juga cukup padat,’’ jelas Budi.

Jika diundur pada September, ada kemungkinan bisa menggantikan Indonesia Masters Super 100 yang juga dilaksanakan pada bulan itu.

’’Itu memang asalah satu opsi dan kalau diizinkan BWF. Itu keputusan mereka,’’ kata Budi. Lalu, seberapa besar kerugian yang mungkin diderita PBSI jika event diundur? ’’Tidak bisa dihitung. Ini juga menyesuaikan dengan kondisi negara dan dunia saat ini,’’ tuturnya.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : gil/c15/na

Saksikan video menarik berikut ini: