alexametrics

Susy Susanti: Kami Ingin Juara Umum SEA Games

24 November 2019, 11:27:46 WIB

JawaPos.com-Indonesia masih layak menyandang status raja bulu tangkis Asia Tenggara. Indonesia juga masih tercatat sebagai kolektor medali emas terbanyak. PP PBSI pun pede menyongsong SEA Games 2019.

Bulu tangkis jadi cabor yang paling sering menorehkan prestasi sepanjang 2019. Hampir setiap bulan, bahkan terkadang tiap pekan, ada saja gelar juara dari turnamen level dunia yang dibawa pulang skuad Indonesia. Tak heran, pada SEA Games nanti, PP PBSI sangat percaya diri. Mereka menjanjikan minimal dapat dua emas. Atau kalau tidak, mendapat tiga emas.

Indonesia memang konsisten meraih medali emas di bulu tangkis. Sejak 1977 hingga 2017, pebulu tangkis Merah Putih tidak pernah gagal menyumbang setidaknya satu emas. Bahkan, berkali-kali tim Merah Putih mendominasi podium nomor perorangan maupun beregu. Harus diakui, untuk level SEA Games, para pebulu tangkis Indonesia tidak punya lawan yang sepadan. Lawan terberat hanyalah Malaysia dan Thailand.

Dua tahun lalu di Kuala Lumpur, Indonesia hanya mampu memperoleh 2 emas dan 4 perunggu. Hasil itu menempatkan Indonesia di urutan kedua dalam klasemen perolehan medali bulu tangkis. Kalah oleh Thailand yang merebut 4 emas, 2 perak, dan 4 perunggu.

Tahun ini, bisa jadi keadaan akan berbalik. Sebab, penyelenggaraan SEA Games sangat mepet dengan BWF World Tour Finals yang bergulir pada 11–15 Desember di Guangzhou, Tiongkok. Turnamen itu menjadi sangat penting bagi para pemain untuk meraih poin besar demi lolos kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020.

Meski belum ada rilis resmi terkait nama-nama pemain yang terjun di SEA Games, hampir bisa dipastikan kompetitor tidak akan menurunkan pemain inti. Mereka bakal fokus untuk bertanding di turnamen puncak akhir tahun tersebut. Sebaliknya, tuntutan dari pemerintah untuk merebut medali sebanyak-banyaknya membuat Indonesia tetap memberangkatkan banyak pemain bintang ke Filipina.

Sebut saja Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie. Dua pemain tunggal putra tersebut bakal memperkuat tim beregu putra untuk mempertahankan emas di SEA Games sebelumnya.

Namun, keduanya tidak akan bermain untuk nomor perorangan. Terlalu berisiko. Sebab, kalau sampai lolos ke final, mereka akan main hingga 9 Desember. Kemudian, malamnya, mereka langsung bertolak ke Tiongkok. Pasti itu akan sangat menguras stamina.

Keputusan membawa sejumlah pemain bintang juga lantaran kompetitor melakukan langkah serupa. Thailand misalnya. Mereka ternyata menurunkan beberapa pemain utama. Diantaranya Ratchanok Intanon dan ganda putri Jongkolphan Kithitharakul/Rawinda Prajongjaj.

Namun, belum ada rilis resmi apakah mereka hanya turun di nomor beregu atau lanjut sampai perorangan. Demikian pula Malaysia yang membawa ganda putra terbaiknya, Aaron Chia/Sooh Wooi Yik

’’Anthony (Ginting) masuk gantikan posisi Daniel Marthin. Sebagai juara bertahan, kami ingin amankan emas di nomor tim,’’ ucap Kabid Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti.

’’Kami harap bisa jadi juara umum, tapi minimal pengaturan strategi ini untuk event yang lebih besar lagi. Tak mungkin semua pemain numpuk di SEA Games,’’ ujarnya.

Peluang terbesar, menurut Susy, ada di sektor ganda campuran, ganda putri, dan beregu putra. Pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti jadi tumpuan utama untuk memenuhi harapan itu. Terlebih, keduanya sudah membuktikan bisa berprestasi di level dunia dengan gelar bergengsi di Denmark Open dan French Open. Tentu, dengan kualitas itu, Pramel (julukan Praveen/Melati, Red) bisa berbicara lebih di SEA Games.

Greysia Polii/Apriyani Rahayu juga jadi tumpuan. Meski, mereka agak meragukan lantaran kondisi Greysia yang baru saja mengalami cedera bahu. Sampai saat ini, pemain 32 tahun tersebut masih terus menjalani pemulihan. Belum lagi pasangan itu masih harus membagi konsentrasi dan tenaga untuk tampil di World Tour Finals.

’’Kami sudah bicarakan itu dengan pelatih dan Ci Susy. Kami harus bertanggung jawab dengan ikut SEA Games dan superseries (BWF World Tour Finals) itu. Jadi, semuanya sudah disiapin,’’ tegas Apriyani. ’’Sekarang sudah membaik banget dibanding sebelumnya. Kami lebih mementingkan gimana strategi di lapangan biar saling menutupi kekurangan antara saya dan Kak Greysia,’’ imbuhnya.

Namun, sektor ganda putra bisa jadi kuda hitam. Pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto turut memperkuat Indonesia. Mereka tidak lolos untuk tampil di Guangzhou. Karena itu, ini kesempatan buat tampil all-out.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : feb/c17/bas



Close Ads