alexametrics

Fury vs Wilder Pecahkan Rekor Uang Terbesar dalam Sejarah Kelas Berat

24 Februari 2020, 18:14:42 WIB

JawaPos.com-Perebutan sabuk juara dunia kelas berat WBC antara Deontay Wilder dan Tyson Fury kemarin (23/2), adalah salah satu pertarungan paling diantisipasi.

Dan hasilnya memang sangat tampak. Laga di MGM Grand Grarden, Las Vegas itu memecahkan rekor pendapatan tiket dari semua pertarungan kelas berat sepanjang masa.

Menurut Presiden Top Rank Todd deBoef kepada ESPN, uang tiket yang masuk ke kantong penyelenggara mencapai USD 16.916.440 atau sekitar Rp 235,426 miliar.

Jumlah itu memecahkan rekor sebelumnya yakni pertarungan ulang perebutan gelar juara dunia kelas berat antara Lennox Lewis and Evander Holyfield pada 1999. Saat itu, laga Lewis versus Holyfield mencatat pemasukan tiket mencapai USD 16.860.300 (sekitar Rp 234,644 miliar).

Pertarungan tersebut berlangsung di Thomas & Mack Center, Nevada.

Dan pada duel kemarin, Wilder memang kalah kelas. Pukulan bertubi-tubi Tyson Fury terus menghujani wajahnya. Ronde ketujuh tersisa 1 menit 20 detik. Darah mengucur dari telinga kirinya. Bentuk wajahnya sudah tak keruan karena bengkak di mana-mana.

Di tengah Fury melancarkan serangan itulah, wasit Kenny Bayless tiba-tiba melerai keduanya. Dia lantas melambaikan tangan tanda duel harus dihentikan dengan technical knockout alias TKO. Fury seketika girang. Petinju Inggris itu mengepalkan kedua tangan ke udara, lantas memeluk sang pelatih Javan ’’Sugar Hill’’ Steward.

Wilder sendiri masih kebingungan. Dia mempertanyakan keputusan Bayless. Petinju 34 tahun itu merasa masih mampu melanjutkan duel. Tapi, keputusan Bayless tersebut ternyata bermuara dari gerakan lempar handuk ke tengah ring dari asisten pelatih Wilder, Mark Breland.

’’Aku masih baik-baik saja. Tapi, sudutku sudah telanjur melempar handuk. Seandainya saja mereka tidak melakukannya. Aku masih siap dengan senjataku,” sesal Wilder dilansir ESPN.

Dalam konferensi pers, pelatih kepala Wilder, Jay Deas, menyebut Breland mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan darinya. Deas merasa Wilder sebenarnya masih bisa bertahan. ’’Seharusnya itu tidak terjadi (melempar handuk). Jika menyerah, Wilder akan mengatakannya sendiri,” ucap Deas.

Deas boleh tidak setuju. Tapi, aksi Breland tersebut dinilai tepat oleh beberapa pengamat. Sebab, Wilder sudah mengeluarkan banyak darah dari telinga. Tumpuan kakinya juga gontai.

Praktis, Wilder hanya bisa bertahan tanpa mampu balik melawan. ’’Breland tidak pantas dikritik karena memikirkan keselamatan petinjunya,” tulis Michael Woods, kolumnis senior tinju di Badlefthook. ’’Dia bisa mengalami trauma kepala parah jika duel diteruskan,” tambahnya.

Ini menjadi kekalahan pertama Wilder sepanjang karir. Rekor sempurnanya kini ternoda menjadi 42 menang (41 KO), sekali kalah, dan sekali draw.

Sedangkan Fury meneruskan rekor tak terkalahkannya dalam 30 laga. ’’Sang raja (king) telah kembali ke takhtanya,” ujar petinju berjuluk Gypsy King tersebut dilansir ESPN.

Wilder akhirnya mengakui juga Fury tampil lebih baik dari dirinya kemarin. ’’Bahkan, yang terbaik pun bisa kalah. Aku tak mau membuat alasan. Aku akan kembali dengan lebih kuat,” ucap petinju berjuluk The Bronze Bomber tersebut.

Ini menjadi kali pertama bagi petarung 31 tahun tersebut menyabet lagi sabuk juara dunia kelas berat setelah empat tahun. Fury mengalami masa kelam dalam karir tinjunya pada Oktober 2016.

Saat itu tiga sabuk juara dunia mayor miliknya, yakni WBA, WBO, dan IBF, dilucuti paksa gara-gara dia mengalami depresi berat dan ketergantungan obat terlarang. Lisensi tinjunya bahkan sempat dicabut federasi tinju Inggris.

Dan, kemarin, Fury membuktikan kemampuan tinjunya telah kembali ke puncak. Sama seperti saat dia merebut sabuk juara dunia kali pertama dari tangan Wladimir Klitschko pada November 2015.

Fury juga membuktikan ucapannya untuk tampil agresif sejak awal. Wilder terus dia bombardir dengan pukulan kombinasi. Dia terus maju mendekati Wilder. Berbeda dengan penampilannya pada duel pertamanya kontra Wilder 1 Desember 2018. Saat itu Fury lebih sering menjaga jarak dari Wilder.

Wilder kini diberi waktu 30 hari untuk memutuskan mengambil opsi rematch atau tidak. Namun, suara yang lebih kuat adalah opsi mempertemukan Fury dengan Anthony Joshua dalam pertarungan unifikasi kelas.

Saat ini, Joshua adalah pemilik tiga sabuk juara dunia kelas berat WBA, WBO, dan IBF.

Kalau terjadi, maka Joshua vs Fury adalah unifikasi gelar pertama sejak petinju Inggris lainnya, Lennox Lewis mengalahkan Evander Holyfield, 20 tahun yang lalu.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : irr/c17/cak



Close Ads