alexametrics
Final Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2019

Suatu Saat, Saya Ingin Menjadi Seperti Liliyana Natsir

23 November 2019, 07:30:47 WIB

JawaPos.com-Rangkaian Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2019 resmi berakhir di GOR Djarum, Jati, Kudus, kemarin (22/11).

Selama tiga hari, para pebulu tangkis muda bertarung untuk memperebutkan tempat dan status sebagai pemain PB Djarum.

Pada puncak final audisi, terpilih 55 pemain belia berhasil melaju ke fase berikutnya. Namanya tahap karantina. Nah, fase karantina ini akan digelar selama satu pekan, mulai hari ini sampai Jumat, 29 November.

Ada dua tempat yang menjadi medan penggodokan para pebulu tangkis U-11 dan U-13 tersebut. Yakni di asrama PB Djarum di Jati dan Kaliputu. Keduanya berada di Kudus, Jawa Tengah.

Para pemain belia yang berhasil melewati fase karantina, akan menerima beasiswa bulu tangkis. Dan tentu saja, mereka resmi menjadi pemain klub legendaris berusia 50 tahun tersebut.

Perjuangan para atlet muda untuk menembus tahap karantina ini sangat tidak mudah. Begitu panjang dan berliku.

Sebanyak 133 peserta Final Audisi Umum 2019 di GOR Djarum merupakan pemain muda terpilih, peraih super tiket. Mereka disaring dari audisi umum yang berlangsung di lima kota. Semuanya berada di pulau Jawa. Antara lain Bandung, Purwokerto, Surabaya, Solo Raya, dan Kudus.

Pada final audisi, para peserta harus melewati empat tahap eliminasi. Hasilnya dari 133 anak yang maju ke final, tersaring menjadi 55 orang saja.

Selama tiga hari pelaksanaan Final Audisi Umum 2019, pemantauan terhadap para atlet muda ini dilakukan oleh Manager Tim PB Djarum Fung Permadi. Dia dibantu jajaran pelatih antara lain Andreas Adityawarman, Reni, Nimas Rani Wijayanti, Engga Setiawan, Bandar Sigit, dan Ajib Kurniawan.

Ada juga Sulaiman, Ellen Angelina, Juniar Setioko Tenggono, Maria Elfira Christina, Ferry, Ali Yuli, Wahyu Hartanto, Rusmanto Djoko Semaun, serta salah seorang legenda terbesar bulu tangkis Indonesia, Hastomo Arbi.

Fung mengatakan, tahap karantina merupakan kesempatan bagi para atlet muda untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Mereka juga akan mendapatkan sentuhan berbagai macam fasilitas olahraga milik PB Djarum.

“Setelah masa orientasi tersebut, kami akan melakukan observasi seteliti mungkin, baik dari aspek skill, fisik, dan daya juang,” kata Fung yang semasa aktif bermain sempat menempati ranking dua dunia tersebut.

“Selama tahap karantina, banyak pertandingan yang akan kami gelar. Tapi penilaian tidak hanya dari hasil pertandingan. Apakah mereka kalah atau menang. Tetapi juga mencakup kelebihan teknik yang dimiliki mereka,” tambah pelatih berusia 51 tahun tersebut.

Melalui tahap karantina ini, para pelatih memiliki waktu lebih banyak untuk semakin selektif dalam memilih atlet-atlet yang akan dibinanya kelak. Bekalnya adalah konsep pelatihan yang sesuai dengan standar PB Djarum. Tujuannya, tentu saja mencetak atlet-atlet muda ini bersinar di level dunia.

Salah satu peserta yang lolos adalah Aurellia Florenza Lumoindong. Dia berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Aurellia sebelumnya menempa diri di PB Pisok, tempat yang juga melahirkan legenda ganda campuran dan peraih emas Olimpiade Rio 2016 Liliyana Natsir (berpasangan dengan Tontowi Ahmad).

Aurellia mengaku sangat mencintai bulu tangkis. Selain itu, dia mengatakan bulu tangkis adalah sarana yang pas untuk menyalurkan fisiknya yang sangat aktif. Di regional Sulawesi Utara, pemain putri berusia 11 tahun tersebut sudah tidak terkalahkan.

Jadi dia mencoba untuk ikut audisi umum beasiswa bulu tangkis di Kudus. ”Baru coba pertama, langsung lolos. Saya senang sekali,” kata Aurellia. ”Suatu saat, saya ingin bisa seperti idola saya, Liliyana Natsir,” imbuhnya.

Melalui program beasiswa bulu tangkis ini, setiap peserta yang bergabung dengan PB Djarum tidak dikenakan biaya sepeserpun selama masa pembinaan.

PB Djarum juga memfasilitasi seluruh kebutuhan atlet mulai dari asrama, pemenuhan gizi, peralatan, dan perlengkapan bertanding.

Para atlet juga diberikan kesempatan mengikuti kejuaraan bulu tangkis di dalam dan luar negeri.

Editor : Ainur Rohman



Close Ads