alexametrics

Absen 8 Bulan, Marin Begitu Emosional Dengan Gelarnya di China Open

23 September 2019, 16:12:45 WIB

JawaPos.com-Ketika pengembalian shuttlecock Tai Tzu-ying jatuh di luar garis, Carolina Marin meloncat. Lalu merebahkan diri di lapangan. Dua tangannya menutup wajah. Dia terisak-isak. Dia terduduk, masih berurai air mata.

Tai, dengan besar hati, menyeberangi net, lalu memeluk sang lawan. Menenangkan Marin. Pemain Spanyol itu sukses mempertahankan gelar China Open setelah menang atas Tai dengan skor 14-21, 21-17, 21-18.

Wajar pemain 26 tahun itu begitu emosional menyikapi kemenangannya. Baru pulih dari cedera parah, Marin tidak menyangka bisa juara di turnamen level super 1000 terakhir tahun ini. Hampir delapan bulan penuh dia out dari BWF Tour.

Sampai peringkatnya merosot di posisi ke-24. Pemilik emas Olimpiade Rio 2016 itu datang bukan sebagai unggulan.

Sudah begitu, rekornya melawan Tai tidak bagus-bagus amat. Dia tidak pernah menang dalam enam pertemuan terakhir. Kemenangan terakhirnya atas pemain nomor 4 dunia itu terjadi empat tahun lalu. Tepatnya di Dubai Superseries 2015. Karena itu, bisa menang atas Tai pada saat paling krusial sungguh tak bisa dia percayai.

’’Aku tidak bisa melukiskan perasaanku saat ini. Soalnya aku lagi happy banget,’’ tutur Marin seperti dikutip situs resmi BWF.

Pada game pertama, gelar tampaknya bakal jatuh ke tangan Tai. Dia bermain seperti biasa. Smart dan agresif. Marin kelabakan dengan penempatan-penempatan shuttlecock Tai yang sulit. Namun, memasuki game kedua, angin berubah memihak Marin. Dia berhasil meningkatkan ritme. Menekan Tai dengan pukulan-pukulan ke sudut belakang lapangan.

Dia sangat cermat dan tidak membuat kesalahan. Pada game penentuan, malah Tai yang semakin tidak konsisten. Tai tertinggal 13-19. Meski sempat menipiskan jarak menjadi 17-19, dia tetap sulit mengejar. ’’Aku cukup frustrasi pada game pertama. Tapi, aku berusaha tetap tenang. Aku harus sabar dan menemukan jarak yang cukup untuk memukul. Tapi, yang paling penting, aku mau berjuang sampai akhir,’’ papar Marin.

Mantan pemain nomor 1 dunia itu menyebutkan, dirinya hanya menunggu Tai membuat kesalahan sendiri. Dan itu memang terjadi. ’’Aku hanya perlu memancingnya dengan reli-reli panjang. Dia (Tai, Red) punya pukulan bagus dan serangan balik mematikan,’’ ulasnya.

Marin mengalami cedera anterior cruciate ligament (ACL) saat bertanding di final Indonesia Masters Januari lalu. Setelah menjalani pemulihan yang panjang, dia mendapat momentum come back dua pekan lalu. Tepatnya di Vietnam Open. Dia tersingkir di babak pertama. Namun, kekalahan di sana cukup menjadi pelajaran. Hasilnya, gelar China Open.

Perjalanan Pemulihan Marin

27 Januari
Mengalami cedera lutut kanan saat melawan Saina Nehwal di final Indonesia Masters.

28 Januari
Menjalani operasi di Spanyol. Sukses.

2 Februari
Marin diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Pemulihan dimulai.

6 Februari
Marin sudah kembali ke lapangan. Kakinya masih menggunakan bidai. Dia melatih otot upper body dan refleks pukulan dalam posisi duduk.

15 Februari
Bidai dilepas. Marin sudah bisa berjalan hanya dengan dibantu kruk.

2 Maret
Marin sudah bisa latihan berjalan di atas treadmill. Namun, masih ditopang penyangga pinggang.

29 April
Marin sudah bisa berjalan tanpa kruk. Dia mulai melahap latihan ketangkasan.

8 Juni
Mulai fokus mengembalikan performa untuk terjun di turnamen.

10 September
Untuk kali pertama setelah cedera, dia kembali ke turnamen. Yakni, Vietnam Open. Kalah di babak pertama oleh Supanida Katethong.

22 September
Juara China Open.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : feb/c19/na



Close Ads