alexametrics

Terlalu Mendewakan Michael Jordan, The Last Dance Banjir Kritik

23 Mei 2020, 15:07:08 WIB

JawaPos.com – Penayangan film dokumenter tentang perjalanan karir Michael Jordan di Chicago Bulls, The Last Dance, memantik kemarahan dari sejumlah bintang NBA masa lalu. Film yang berisikan 10 episode itu dianggap tidak jujur dan terlalu mendewakan sosok Jordan.

Episode pertama rilis pada 20 April dan berakhir 18 Mei lalu. Mereka yang kecewa dengan film garapan sutradara Jason Hehir tersebut tidak lain adalah mantan rekan-rekan setim Jordan. Satu di antaranya Horace Grant. Dia menganggap peran pemain Bulls lainnya seperti dikesampingkan.

’Film itu memang menghibur. Tapi, banyak omong kosong di baliknya,’’ gugat Grant yang berposisi sebagai center saat Bulls merebut juara pada 1991 hingga 1993 dilansir The Insider.

Dia mencontohkan, di film itu banyak adegan Jordan menasihati rekan setimnya saat bertanding atau latihan. Tapi, yang ditampilkan hanya saat Jordan berbicara. Itu menimbulkan kesan Jordan sedang menggurui dan benar-benar memegang kendali total atas Bulls saat itu.

Padahal, menurut Grant, dalam kondisi sebenarnya, rekan-rekan setim Jordan juga kerap berdiskusi, menjawab, ataupun mendebat ucapan-ucapan Jordan secara langsung di lapangan.

’’Semua diedit sedemikian rupa. Entah karya seperti ini masih bisa disebut dokumenter atau tidak,’’ geramnya. ’’Film dokumenter ini hanya tentang MJ (Michael Jordan). Bukan tentang tim,’’ tambahnya.

Hal lain yang membuat Grant marah adalah Jordan menuduhnya sebagai pembocor rahasia di salah satu episode film tersebut. Saat itu Jordan mengatakan bahwa Grant adalah informan di balik buku terkenal Sam Smith yang berjudul The Jordan Rules yang cetak pertama pada 1992. ’’Itu bohong, bohong, dan bohong,’’ ucap pria yang saat ini berusia 54 tahun tersebut.

Grant bukan satu-satunya mantan rekan setim Jordan yang muntap gara-gara The Last Dance. Ada nama lain seperti Bill Cartwright, Craig Hodges, maupun Ron Harper. Bahkan, partner terbaik Jordan di Bulls, Scottie Pippen, juga marah dengan penggambaran dirinya di film tersebut.

Pippen memang tidak mengungkapkan kekecewaannya secara langsung. Tapi, jurnalis ESPN David Kaplan menyatakan sumber tepercaya menceritakan kepadanya. ’’Dia sangat marah ke Michael karena digambarkan sebagai sosok yang egois dan hal-hal negatif lain,’’ ucap Kaplan.

Salah satu penggambaran minor adalah ketika Pippen yang tidak mau masuk ke lapangan saat laga tersisa 1,8 detik dalam game ketiga semifinal wilayah timur melawan New York Knicks pada 1994.

Pippen disebut emosional karena pelatih Phil Jackson lebih memilih Toni Kukoc sebagai eksekutor untuk menentukan hasil pertandingan. Padahal, ketika itu Pippen adalah bintang utama Bulls saat Jordan menjalani masa pensiunnya yang pertama.

Selain itu, Jordan meragukan sakit migrain yang membuat Pippen absen di game ketujuh final wilayah timur melawan Detroit Pistons. Gara-gara Pippen absen saat itu, Bulls takluk 3-4 dan gagal melaju ke final.

Dennis Rodman, mantan rekan setim Jordan lainnya, mendukung pendapat Pippen. ’’Scottie (Pippen) sangat tidak dihargai di film ini. Seharusnya kepalanya bisa diangkat lebih tinggi sejajar dengan Jordan. Dia juga pahlawan dalam banyak hal di pertandingan-pertandingan Bulls yang hebat itu,’’ ucap Rodman.

Film ini fokus menceritakan masa keemasan Michael Jordan bersama Bulls saat merajai NBA di era 90-an. Di masa itu, Bulls dan Jordan merengkuh gelar juara hingga enam kali. Masing-masing tiga kali berturut-turut, yakni pada 1991–1993 dan 1996–1998.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : irr/c17/cak



Close Ads