alexametrics

Empat Pemain Ganda Putra Paling Istimewa Saat Ini, Bagi Flandy Limpele

23 Mei 2020, 09:00:57 WIB

JawaPos.com-Pekan ini, Flandy Limpele baru saja mendapatkan tugas baru. Dia ditunjuk menjadi pelatih kepala ganda putra tim nasional Malaysia.

Dalam siaran persnya, Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM) memilih Flandy dengan alasan bahwa dia sukses besar mengorbitkan ganda India Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty.

Dengan metode latihan yang sangat keras dan ultradisiplin, Flandy membuat Rankireddy/Shetty menjadi salah satu kekuatan yang menarik perhatian sepanjang 2019.

Gebrakan mereka bisa dikatakan fenomenal. Tahun lalu, dari awalnya hanya berprestasi di level International Challenge, mereka mampu menjadi juara di Thailand Open.

Pada partai final turnamen Super 500 itu, Rankireddy/Shetty membekuk pasangan Tiongkok yang juga mantan ganda putra nomor satu dunia Li Junhui/Liu Yuchen.

Rankireddy/Shetty juga berhasil menembus final turnamen penting French Open 2019. Dalam perjalanannya, mereka mengalahkan ganda nomor dua dunia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan menyikat andalan Jepang Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe di semifinal.

Tetapi pada partai final, Rankireddy/Shetty kandas di tangan ganda nomor satu dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Performa mereka yang terus melesat beriringan dengan peningkatan ranking dunia.

Pada April 2019, Rankireddy/Shetty hanya berada di peringkat 26 dunia. Lalu, dalam waktu relatif singkat, mereka mampu menembus ranking tujuh dunia pada November 2019 dan bertahan di posisi 10 dunia per 17 Maret 2020.

Menurut Flandy, kunci keberhasilan Rankireddy/Shetty adalah latihan yang sangat disiplin. Beberapa hal diperbaiki. Namun yang utama, adalah penguatan fisik. Hasilnya, Rankireddy/Shetty memiliki daya tahan yang hebat.

“Kalau latihan tidak keras dan tidak berat, kapan mau juara?” kata peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 bersama Eng Hian tersebut.

Kepada wartawan Jawa Pos Ainur Rohman, Flandy memilih empat pemain ganda putra terbaik di dunia saat ini.

Mengapa hanya empat? Jawabannya sederhana. Bagi Flandy, cuma merekalah yang paling istimewa saat ini. Sedangkan pemain ganda putra lain, tidak ada yang terlalu menonjol. “Pemain lain merata di mata saya,” ucapnya.

Berikut empat pemain tersebut.

Kevin Sanjaya Sukamuljo, Indonesia
Dia memiliki sklill yang lumayan komplet. Kevin juga punya style yang berbeda. Dia mampu menutup di depan dan bisa menemukan polanya sendiri. Kevin juga bisa melakukan improvisasi sendiri di lapangan. Ini terjadi karena tingkat konfidensi Kevin sangat tinggi sekali.

Selain itu, yang membuat Kevin istimewa adalah kecepatan dan timingnya yang pas. Ini terjadi karena dibentuk dalam latihan. Kalau sudah biasa latihan berat, lama-lama jadi kebiasaan.

Sedangkan dari pengalaman, lama-lama dia menjadi pemain yang sangat confidence. Makin banyak jam terbang, makin banyak juara, dan makin tinggi rankingnya, Kevin makin percaya diri.

Itulah yang terjadi pada sosok Kevin. Ketika masuk lapangan, sangat kelihatan sekali bahwa dia punya kepercayaan diri untuk mengalahkan lawannya.

Kevin Sanjaya Sukamuljo yang berpasangan dengan Marcus Ferlandi Gideon beraksi pada final All England 2020. (PP PBSI)

Marcus Fernaldi Gideon, Indonesia
Marcus adalah pelengkap yang pas bagi Kevin. Dia bisa menutup Kevin. Itulah yang membut Marcus menjadi pemain istimewa.

Marcus memang mengandalkan power karena dia pemain belakang. Apakah kalau Marcus diganti pemain lain Kevin bisa juara? Mungkin saja bisa, tetapi itu jelas butuh waktu.

Tetapi yang jelas, kalau sudah sering juara dan menjadi nomor satu dunia, ya Marcus pasti pemain yang bagus. Apalagi, Marcus punya power besar dan pas sebagai pemain belakang.

Saya melihat Marcus dan Kevin ini kompak. Mereka sudah saling mengisi dan kita harus fair melihat sosok Marcus ini. Tanpa Marcus, Kevin ya bakal tanpa gelar. Jadi melihatnya harus utuh. Jangan cuma lihat sisi sebelahnya saja.

Marcus Fernaldi Gideon ketika berlaga di ajang Indonesia Masters 2020 (PP PBSI).

Mohammad Ahsan, Indonesia
Mengapa saya memilih Ahsan, karena dia lebih muda daripada Hendra Setiawan. Keunggulan Ahsan dan juga Hendra adalah mereka memiliki jam terbang yang tinggi. Inilah yang membuat kepercayaan diri mereka di lapangan juga tinggi.

Saat ini, skill permainan Ahsan merata. Bisa di depan dan di belakang. Dengan usia senior dan fisik yang menurun tapi masih berada di level top, artinya Ahsan dan juga Hendra pandai mengatur strategi. Dia juga bisa mengatasi semua hambatan di lapangan.

Dengan jam terbang tinggi, Ahsan bisa hafal di luar kepala kelemahan musuh. Itulah yang menurut saya membuat Ahsan menjadi pemain top dunia.

Mohammad Ahsan besama Hendra Setiawan saat berhasil melaju ke final Denmark Open 2019. (PP PBSI).

Yuta Watanabe, Jepang
Skill Yuta Watanabe ini bagus dan ngotot luar biasa di lapangan. Bagi saya, gayanya mirip dengan Kevin.

Berpasangan dengan Hiroyuki Endo yang lebih bepengalaman menjadi kelebihan Yuta. Endo bisa menjadi penyemangat bagi Yuta. Mereka bisa sering mengalahkan Marcus/Kevin ya karena faktor kepercayaan diri yang tinggi itu.

Selain itu, Yuta punya speed bagus. Dan speed ini memang menjadi ciri khas pasangan Jepang. Hampir semua pasangan Jepang, saya kira bagus dalam soal speed dan power.

Biasanya kalau melawan Marcus/Kevin mereka bertahan dulu. Tetapi tidak selalu seperti itu saat melawan ganda lain. Jadi, tergantung dari strategi pelatihya.

Kalau sekelas mereka, ya memang sudah main strategi. Harus bagaimana mensiasati permainan. Kalau lawan Marcus/Kevin, karena Kevin bagus di depan dan no-lobnya juga bagus, daripada nggak dapat poin, ya disabarin dulu.

Kalau pemainnya tidak istimewa seperti Yuta, memang akan sulit mengaplikasikan strategi seperti itu melawan Marcus/Kevin. Selain itu, mereka juga butuh pelatih di belakang. Tujuannya adalah untuk mengingatkan soal strategi. Kalau sudah levelnya sekelas itu, memang pemain harus sangat jeli di lapangan.

Yuta Watanabe merayakan keberhasilannya menjadi juara All England 2020. (Oli Scarff/AFP)

Editor : Ainur Rohman



Close Ads