Australia Terbuka Gagal Wujudkan Perempat Final Idaman

23 Januari 2023, 09:24:42 WIB

JawaPos.com – Prediksi tinggal prediksi. Salah satu laga perempat final yang dinanti-nanti di tunggal putri Australia Terbuka tahun ini adalah  duel ranking pertama dunia Iga Swiatek kontra petenis 18 tahun Amerika Serikat (AS) Coco Gauff.

Namun, laga itu gagal terwujud.

Sebab, keduanya sama-sama tumbang di babak 16 besar kemarin. Swiatek yang notabene calon terkuat juara ditumbangkan petenis Kazakhstan Elena Rybakina.

Juara Wimbledon tahun lalu itu menang mutlak dua set langsung 6-4, 6-4.

Satu setengah jam kemudian, giliran Coco Gauff yang tumbang. Petenis unggulan ketujuh itu bertekuk lutut di hadapan petenis Latvia Jelena Ostapenko. Gauff juga tumbang dua set langsung 5-7, 3-6.

Swiatek menyebut kekalahannya karena dirinya terlalu berhasrat juara.

Setelah tahun lalu bersinar dengan mengumpulkan delapan gelar, termasuk dua titel grand slam dari Prancis Terbuka dan AS Terbuka, banyak pihak yang memprediksi Swiatek bakal lama mempertahankan performa apik itu.

”Saat sejenak melihat kembali ke belakang, ternyata kesalahanku adalah terlalu berhasrat menjadi juara,” ucap Swiatek dilansir BBC.

”Karena itu, setelah ini tampaknya aku butuh lebih santai,” tambah petenis asal Polandia berusia 21 tahun tersebut.

Bagi Rybakina, kemenangan itu jelas spesial. Setelah menjadi juara Wimbledon tahun lalu, performa petenis 23 tahun tersebut sempat anjlok dengan hanya menang 14 kali dari 24 laga yang dijalani.

Dia bahkan mengaku sempat frustrasi dengan performanya sendiri.

”Aku grogi setiap datang ke pertandingan. Namun, kali ini aku mencoba lebih tenang. Ini jelas kemenangan besar. Aku bahagia bisa melangkah ke babak selanjutnya,” ucap Rybakina.

Di sisi lain, kemenangan Ostapenko atas Gauff membuktikan bahwa petenis Latvia tersebut belum habis. Setelah menjadi kampiun grand slam Prancis Terbuka pada 2017 di usia 20 tahun, performa Ostapenko terus merosot.

Gara-gara itu, dia banjir kritik. Dia mendapat sebutan dari berbagai media sebagai petenis yang tak lebih dari onehit wonder.

”Hidupku berubah drastis saat itu. Sebagai petenis yang masih sangat muda, aku butuh beberapa tahun untuk menyesuaikan diri,” ujar Ostapenko.

Editor : Candra Kurnia

Reporter : irr/c19/bas

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads