alexametrics
Wawancara Susy Susanti Soal Formasi Pelatnas

Atlet Jangan Merasa Puas Kalau Masuk Pelatnas, Tujuan Kita Juara Dunia

22 Desember 2019, 07:30:52 WIB

JawaPos.com– Masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal setelah anggota Pelatnas Cipayung 2020 ditetapkan. Apakah semua nama layak? Bagaimana rencana untuk tiap sektor? Berikut wawancara wartawan Jawa Pos Ragil Putri Imalia dengan Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti.

Bagaimana kategorisasi pemain yang sudah masuk pelatnas?
Yang kami rilis ke media itu SK Utama dan Pratama saja. Tapi, masing-masing tetap ada statusnya. Yaitu, prioritas, utama, pratama, magang, dan sparing. Ini sebenarnya buat internal klub dan pengprov saja karena terlalu mendetail dan susah untuk dijelaskan. Ini terkait penilaian dan pemberangkatan (ke turnamen).

Kalau prioritas, itu sesuai kebutuhan untuk Olimpiade Tokyo 2020. Berapa pertandingan atau apa pun yang masuk peta Olimpiade, kami akan support. Untuk yang utama itu ada jatahnya. Yaitu, delapan sampai sepuluh turnamen, dengan target yang harus masuk. Untuk pratama sekitar enam pertandingan.

Ada beberapa nama yang prestasinya menurun, tapi dipertahankan. Misalnya, Firman Abdul Kholik. Apa pertimbangannya?
Firman ada dalam kategori magang. Berarti dia ada dalam pantauan selama 6 bulan. Dia masih masuk pelatnas tahun ini karena dia bisa juara dua kali (Akita Masters super 100 dan Vietnam International Challenge, Red). Paling tidak kami masih memberi dia kesempatan, bisa bersaing nggak dalam waktu enam bulan.

Indah Cahya Sari Jamil tahun ini juara Asia dan runner-up kejuaraan dunia. Kenapa belum naik ke pelatnas utama?
Memang ada pertimbangan. Pertama, dia kan masih dibutuhkan untuk junior. Kedua, kami ingin matangkan dia. Kalau ke pelatnas utama, dari segi prestasi, Indah belum (memenuhi). Kalau Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, kemarin bisa juara dalam challenge (Malaysia International, Red). Otomatis persaingan ke pelatnas utama sudah terbuka. Kami sesuaikan dengan umur, kemampuan, dan potensi. Banyak penilaian kami. Ada data, prestasi, dan target. Itu yang jadi pertimbangan.

Tahun depan Indah bisa naik?
Seumpama capaiannya bagus, bisa. Contoh, dia potensi untuk Asian Games 2022. Saat ini dia kan masih pratama. Sambil mematangkan. Kami juga punya target dia selanjutnya ke mana. Pastinya masih ada kejuaraan Asia junior dan kejuaraan dunia junior. Indah juga pernah juara dunia (2018, Red). Tapi, dia masih punya kesempatan sekali lagi. Kami juga mulai mengikutkan dia ke senior. Bisa masuk ranking juga. Kami sedang push untuk jembatan dari junior ke senior.

Jumlah pemain ganda campuran ganjil. Apakah Tontowi Ahmad sudah fixed bersama Apriyani Rahayu?
Sementara memang ada pembicaraan seperti itu. Kami tetap butuh Owi sebagai senior untuk mengatrol adik-adiknya. Mungkin ada plan lain dari pelatih. Misalnya, dicoba dengan yang lain, belum tahu. Sampai saat ini Owi sebagai pemain senior seperti halnya Hendra (Setiawan) dan (Mohammad) Ahsan bisa menjadi panutan dan leader bagi adik-adiknya. Owi mungkin juga ada target prestasi juga.

Seperti apa proyeksi untuk Owi/Apri?
Mungkin mereka akan bermain rangkap. Tapi, ranking ganda campuran Apri belum ada. Jadi, merintis dulu. Tentu ini kami harus pertimbangkan. Sebab, Apri juga masuk prioritas untuk Olimpiade di ganda putri. Pelatih (Richard Mainaky, Red) coba turunkan mereka ke Thailand Masters. Tapi, belum tahu bisa masuk atau tidak. Kan ranking Apri belum ada. Strategi masih didiskusikan untuk mereka.

Soal tunggal putri, kita sudah pernah diskusikan tentang sulitnya mencari bibit. Tapi, sebenarnya sesulit apa, ya?

Memang untuk hal ini kami sedang kerja keras. Kalau memang (mereka) diberi kesempatan dan dilihat prestasi belum menonjol, kami cari yang lain. Mereka tidak dalam zona nyaman. Kalau levelnya sama dan kalah, ya kami lebih ambil yang usia muda. Siapa tahu potensi lebih bagus. Banyak lah penilaiannya.

Saat ini kami beri kesempatan kepada Putri KW (Kusuma Wardani, Red) untuk naik dari pratama ke utama. Mudah-mudahan bisa ketarik ke atas dan menjadi salah satu andalan kami. Kami juga berharap dari pribadi atlet, jangan ada dalam zona nyaman. Merasa sudah puas masuk pelatnas. Padahal, itu baru awal. Tujuan kita kan juara dunia. Itu yang selalu kami ingatkan ke anak-anak.

Editor : Ainur Rohman



Close Ads