alexametrics
Audisi Umum Bulu Tangkis 2019

Terus Ingin Belajar Dari Kasus Penolakan Kevin Sanjaya Sukamuljo

21 November 2019, 12:02:31 WIB

JawaPos.com-Manager Tim PB Djarum Fung Permadi mengatakan bahwa peserta Final Audisi Umum Bulu Tangkis 2019 mengalami peningkatan kualitas ketimbang tahun lalu.

Sebanyak 134 pemain yang berasal dari dua kategori U-11 dan U-13, imbuh Fung, menunjukkan skill yang lebih baik. Mereka sejak kemarin (20/11), berlaga di GOR Djarum, Jati, Kudus.

Fung mengatakan bahwa tim pelatih dan pemandu bakat akan berusaha seobjektif mungkin untuk melakukan penilaian. Jadi, yang diukur bukan hanya keahlian dan hasil pertandingan. Tetapi juga kekuatan mental, kecerdasan, dan keteguhan hati.

Oleh karena itu, sistem pertandingan antar peserta pada hari pertama final kemarin (20/11), diatur berbeda ketimbang tahun lalu. Pada edisi tahun ini, para peserta yang tahun kelahirannya berdekatan akan ditarungkan. Selain itu, ada juga pertarungan yang diatur berdasarkan keinginan pelatih.

”Dari sini kami akan melakukan penilaian. Besok (hari ini, Red) juga akan kami adakan dua sesi pertandingan pagi dan sore. Lalu akan ada eliminasi,” katanya.

Mencari bibit pemain hebat, menurut Fung bukanlah pekerjaan yang ringan. Mata pelatih dan pemandu bakat juga harus sangat jeli untuk menilai kualitas pemain muda.

Selain soal skill misalnya footwork, pergerakan, cara mengkover lapangan, dan kekuatan fisik, yang juga harus diperhitungkan adalah sikap pemain yang pantang menyerah.

Kevin Sanjaya Sukamuljo (kanan) bersama Marcus Fernaldi Gideon menjadi juara French Open 2019. (PP PBSI)

Fung mengatakan bahwa sampai sekarang, pihaknya belajar dari kasus Kevin Sanjaya Sukamuljo. Pemain ganda putra nomor satu dunia (berpasangan dengan Marcus Fernaldi Gideon) tersebut, pernah gagal dalam audisi 2006.

Kevin lantas ikut lagi pada final audisi 2007. Pada percobaan kedua, pemain kelahiran Banyuwangi itu akhirnya terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa.

Sebagai seorang pemain belia, Kevin, menurut Fung memiliki keistimewaan dan kualitas yag sangat menarik.

”Saya memiliki ingatan yang sangat tajam tentang Kevin ini,” kata pria yang sempat menempati ranking dua dunia ketika aktif menjadi pemain itu.

”Kevin ini posturnya kecil. Namun, waktu main game, ternyata saya lihat dia tidak pernah kesulitan untuk memukul bola. Jadi posisinya selalu baik terus. Dia kecil, tapi terlihat tak pernah ngoyo. Berarti, dalam penilaian saya, anak ini memiliki antisipasi yang bagus. Karena dia tahu ke mana lawan akan memukul. Hal antisipasi dari Kevin inilah yang membuat saya mempengaruhi pelatih-pelatih untuk menerima Kevin,” kata Fung.

Pria yang sempat membela Taiwan pada 1995 sampai 2000 itu menambahkan bahwa alasan Kevin ditolak pada percobaan pertama adalah fisiknya yang sangat kecil. Namun, ternyata, melulu menilai kualitas pemain dari fisik yang tidak ideal ternyata adalah langkah yang tidak objektif.

Dan benar saja, setelah diterima masuk PB Djarum, Kevin menunjukkan sikap pantang menyerah dan mental tak mau kalah yang luar biasa tinggi. Baik itu dalam latihan maupun dalam pertandingan.

”Jadi secara teknis, antisipasinya anak ini luar biasa, lalu dengan bertambahnya waktu, ternyata perkembangan tekniknya secara luar biasa. Feelingnya terhadap bola juga luar biasa dan itu bisa dia kembangkan sendiri. Atlet-atlet seperti itulah yang sebenarnya kami cari. Atlet yang punya feeling tinggi,” ucap Fung.

Atlet yang seperti Kevin?

”Bukan, kalau bisa yang lebih baik dari Kevin,” jawab pria berusia 51 tahun itu lantas tersenyum.

Salah seorang pemandu bakat di Final Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis Liliyana Natsir mengatakan bahwa rata-rata skill peserta memang sangat baik.

Menurut peraih emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 bersama Tontowi Ahmad tersebut, saat usianya 9 atau 10 tahun, bisa melakukan dua pukulan beruntun tanpa jatuh saja, senangnya minta ampun. ”Sekarang saya lihat, ada anak yang berusia 8 tahun yang sudah bisa net, bisa lob. Bagus banget. Saya berharap banget, mereka ini bisa mengungguli kita dalam hal prestasi,” kata Butet.

Final Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis ini berlangsung tiga hari mulai kemarin (20/11) sampai besok (22/11). Setelah itu, para pemain yang terpilih akan menjalani fase karantina pada 23 hingga 29 November. Nah, setelah itu, tim pelatih akan menentukan siapakah pemain muda yang berhak menerima beasiswa bulu tangkis Djarum.

Dari karantina ini akan dilihat soal kegigihan dan perjuangan para atlet muda. Meskipun dalam tempo sepekan, jelas masih belum bisa menjadi tolak ukur apakah para pemain U-11 dan U-13 ini benar-benar memiliki mentalitas yang tangguh atau tidak.

”Pemain kalau membuat dirinya gigih atau tidak dalam satu minggu itu mudah. Kondisi mental atlet baru bisa dilihat dalam satu atau dua bulan. Dan kalau mau mendalami lagi, sedalam-dalamnya, ya kira-kira butuh waktu sampai tiga bulan,” ucap Fung.

”Jadi, saya tidak mau sombong dan menganggap bisa mencari bibit pemain muda terbaik dari audisi ini. Tiap klub bisa memiliki selera yang berbeda-beda. Jadi, pilihan kami mungkin tidak akan bisa memuaskan semua orang. Saya harap bisa memaklumi,” imbuh juara World Badminton Grand Prix Finals tersebut.

Editor : Ainur Rohman



Close Ads