alexametrics

Petenis Dunia Yang Sukses Besar saat Dilatih Ayah Sendiri

21 November 2019, 19:15:59 WIB

JawaPos.com-Stefanos Tsitsipas baru saja mengangkat trofi ATP Finals 2019 di London Senin lalu (18/11). Itu trofi kedua di ajang yang sama setelah musim lalu petenis Yunani tersebut meraihnya di kategori Next Gen alias U-21. Di balik suksesnya itu, ada tangan hangat sang ayah, Apostolos Tsitsipas, yang melatihnya sejak belia.

Sejatinya, di keluarga besar Tsitsipas tidak ada ’’bau-bau’’ tenisnya. Mayoritas malah lebih dekat dengan sepak bola. Saat mengambil spesialisasi olahraga tenis ketika kuliah, sebenarnya Apostolos merasa ada yang salah. Sebab, saat itu dia lebih tertarik dengan sepak bola atau basket yang lebih populer di Yunani.

’’Saat itu aku sendiri tidak tahu kenapa memilih tenis (sebagai spesialisasi),’’ ucap Apostolos yang pernah berkarir sejenak di timnas sepak bola Yunani dalam jumpa pers setelah kemenangan Stefanos di ATP Finals.

Jika menilik kembali kisah itu, Apostolos justru pernah berpikir untuk menjadi pelatih timnas sepak bola Yunani ketimbang menggembleng putra sendiri menjadi petenis top dunia.

Namun, tak disangka, ilmu yang ditimbanya puluhan tahun lalu di kampus kini malah berjasa besar mengantar Stefanos menembus peringkat keenam dunia. Tenis juga mempertemukan Apostolos dengan ibunda Stefanos di sebuah skena tenis di Athena, Yunani. Dia adalah seorang mantan petenis profesional dari Uni Soviet Julia Sergeyevna Apostoli.

Stefanos adalah putra pertama mereka yang langsung mewarisi DNA tenis dari sang ibu. Pada usia tiga tahun, Stefanos diperkenalkan dengan tenis. Karena melihat bakat besar pada putranya, pasangan olahragawan tersebut langsung berbagi peran.

Apostolos berfokus kepada pengembangan teknik bermain. Yakni, pukulan andalan Stefanos saat ini, backhand dengan satu tangan (one-handed backhand).

Sedangkan Apostoli kebagian peran membenamkan sikap disiplin dalam jiwa Stefanos. ’’Selalu berikan yang terbaik,’’ itulah pesan yang diulang-ulang Apostoli kepada Stefanos.

Saat usia Stefanos beranjak 12 tahun, Apostolos mengambil alih secara penuh tugas kepelatihan itu. Dia selalu berada di sisi Stefanos ke mana pun putranya berlaga di level junior.

Hingga saat ini, dia juga selalu ada di sisi putranya tersebut di setiap laga. ’’Aku bersyukur bisa selalu berada di sampingnya. Aku menyayangi dia, begitu juga sebaliknya. Kami selalu bersama sejak dia berusia 12 tahun. Pergi ke seluruh penjuru dunia mengejar karirnya di level junior,’’ kenang Apostolos.

Meski berperan sebagai pelatih, pria berambut perak itu justru mengaku banyak belajar dari putranya. ’’Aku selalu berpikiran terbuka. Aku pikir Stefanos adalah universitas terbaikku, di mana aku bisa belajar banyak hal,’’ katanya sebagimana dikutip Greek City Times.

Bagi Stefanos, didampingi sang ayah di lapangan merupakan sebuah kebanggaan. Tidak pernah menjadi beban. ’’Ayahku orangnya cerewet. Lebih sering mengkhawatirkanku dibandingkan Patrick (Mouratoglou, pelatih sejumlah petenis top dunia yang juga membantu Stefanos). Kalau Patrick, lebih santai,’’ ujar Stefanos, lalu tersenyum.

Petenis Jepang Naomi Osaka memegang trofi grand slam Australia Terbuka bersama ayah sekaligus pelatihnya Leonard Francois. (AFP)

Kenyamanan dilatih ayah sendiri juga dirasakan bintang tenis Jepang Naomi Osaka. Sejak putus hubungan dengan pelatih Sascha Bajin Februari lalu, karir Osaka yang sempat melejit dengan menjuarai Amerika Serikat Terbuka 2018 dan Australia Terbuka 2019 tiba-tiba surut.

Pilihan merekrut Jermaine Jenkins sebagai pengganti Bajin terbukti bukan pilihan yang tepat. Dia malah puasa gelar selama enam bulan sampai September. Baru setelah mengakhiri kerja sama dengan Jenkins dan dilatih lagi oleh ayahnya, Leonard Francois, Osaka kembali menemukan performa terbaik.

Dia lantas berturut-turut meraih gelar di Jepang Terbuka dan Tiongkok Terbuka pada September lalu. ’’Dia sudah seperti bayanganku. Dia orang yang paling mengerti permainanku. Paling mengerti kata-kata apa yang bisa menyemangatiku,’’ ucap Osaka.

Menurut dia, di level permainannya saat ini, faktor teknis sudah tak lagi mendominasi kesuksesan dalam sebuah pertandingan atau turnamen. Yang lebih penting adalah mental. Di sanalah peran ayah begitu berarti.

SUKSES DI BAWAH GEMBLENGAN AYAH

Cori ‘Coco’ Gauff

Ayah sekaligus Pelatih Corey Gauff

Melatih Sejak Usia 8 tahun

(Sempat berlatih bersama Patrick Mouratoglou)

Caroline Wozniacki

Ayah sekaligus Pelatih Piotr Wozniacki

Melatih Sejak Usia 14 tahun

(Sempat dilatih Sven Groeneveld, Ricardo Sanchez, Thomas Johansson, Thomas Hˆgstedt, Thomas Hˆgstedt)

Naomi Osaka

Ayah sekaligus Pelatih Leonard Francois

Melatih Sejak Usia 9 tahun

(Sempat dilatih Sascha Bajin dan Jermaine Jenkins)

Stefanos Tsitsipas

Ayah sekaligus Pelatih Apostolos Tsitsipas

Melatih Sejak Usia 12 tahun

Alexander Zverev

Ayah sekaligus Pelatih Alexander Zverev Sr

Melatih Sejak Usia 12 tahun

(Sempat dilatih Ivan Lendl)

Belinda Bencic

Ayah sekaligus Pelatih Ivan Bencic

Melatih Sejak Usia 4 tahun

(Didampingi Melanie Molitor)

Editor : Ainur Rohman

Reporter : irr/c4/cak



Close Ads