alexametrics
SEA Games 2019

Persaingan Lebih Ketat, Panahan Pasang Target Minimalis

21 November 2019, 16:38:23 WIB

JawaPos.com-Pada SEA Games 2017 di Malaysia, skuad panahan Indonesia berhasil memborong empat emas. Pada SEA Games 2019 Filipina ini, target yang dipasang PP Perpani jauh lebih rendah. Yakni, hanya dua emas. Itu menimbulkan pertanyaan. Sebab, para peraih emas dua tahun lalu juga terjun.

Skuad panahan Indonesia memang terdiri atas dua lapis pemain. Lapis pertama adalah para veteran SEA Games. Di antaranya, Diananda Choirunisa dan Riau Ega Agatha Salsabila. Tetapi, ada nama-nama baru juga. Di antara 16 archer yang dikirim ke Filipina, enam atlet adalah debutan. Antara lain, Asiefa Nur Haenza, Arif Dwi Pangestu, Ryan Rafi Adiputro, dan Yurike Nina Bonita.

Hal itu semestinya tidak dijadikan alasan target emas lebih rendah daripada capaian tahun lalu. Pada 2017, Diananda meraih emas dari recurve individual putri serta mixed team bersama Ega.

Dua emas yang lain berasal dari compound individual. Yakni, atas nama Sri Ranti dan Prima Wisnu Wardhana. Pada edisi kali ini, hanya mixed team dan compound putra yang diharapkan mengulang prestasi tersebut. Padahal, semua peraih emas edisi 2017 kembali turun tahun ini.

Namun, ada indikasi bahwa dua emas itu target minimal yang dilaporkan ke pemerintah. Aslinya, Diananda dkk bisa meraih lebih dari target tersebut. Menurut pelatih pelatnas Nurfitriyana Saiman, saat ini persaingan sangat terbuka. Peluang meraih lebih dari dua emas sangat terbuka. Bisa saja Diananda atau Riau menambah emas dari nomor individu. Begitu juga tim compound.

’’Ada peluang di semua nomor. Nanti tetap kami lakukan maintenance atlet untuk itu. Kami lihat hasil 2017 dan jalani saja,’’ kata Yana –sapaan akrab Nurfitriyana. ’’Kalau lihat dari cuaca, Filipina juga tidak ada bedanya dengan di sini,’’ lanjut dia, menyoal tingkat adaptasi para atletnya dengan venue di Filipina.

Lantas, bagaimana kira-kira peluang kita?

Pertama, dari nomor yang ditargetkan dulu. Recurve mixed team cukup bisa diandalkan. Terutama jika yang diterjunkan adalah Diananda dan Ega. Di Asian Games 2018, mereka memang hanya mencapai 16 besar. Namun, itu lebih bagus dari kebanyakan negara Asia Tenggara yang lain. Kita hanya kalah oleh Vietnam yang masuk babak delapan besar.

Sedangkan dalam Kejuaraan Dunia 2019 di Belanda Juni lalu, Indonesia gagal masuk babak knockout. Sebab, kita hanya finis di peringkat ke-34 saat kualifikasi. Namun, saat itu yang terjun adalah pasangan eksperimen. Ega dipasangkan dengan Linda Lestari. Hasilnya kurang maksimal.

Kedua, compound individual putra. Prima juga mencatatkan hasil kurang menggembirakan di Kejuaraan Dunia 2019. Dia menempati urutan ke-53 di kualifikasi. Namun, dia tumbang di babak pertama. Hasil tersebut lebih buruk dari raihan para pesaing potensialnya di SEA Games 2019. Antara lain, Paul Marton de la Cruz (Filipina) yang menembus babak kedua.

Prima mengakui, persaingan di SEA Games kali ini bakal seru. Setiap negara berkembang secara signifikan. Dia juga bersaing ketat dengan M. Juwaidi Mazuki, anggota tim compound beregu Malaysia yang meraih perunggu Asian Games 2018. ’’Saya lihat negara lain lebih prepared daripada kami. Banyak yang ikut pelatihan di level Asia,’’ jelas Prima.

Bagaimana peluang nomor lain seperti recurve putri? Well, jika melihat hasil Asian Games 2018, Diananda adalah yang terbaik di Asia. Dia meraih perak. Hanya kalah oleh pemanah Tiongkok di final. Namun, melihat peta dari Kejuaraan Dunia 2019, dia harus berhati-hati. Dia hanya menempati posisi ke-117 di kualifikasi.

Dia kalah oleh Nguyen Thi Phuong (Vietnam) dan Kareel Meer Hongitan (Filipina) yang menembus babak ketiga. Memang, hasil kejuaraan dunia tidak bisa dijadikan ukuran. Sebab, tim Indonesia mengalami banyak masalah saat latihan. Sementara itu, di Filipina nanti kondisi tim sudah lebih baik. ’’Insya Allah, tetap ditarget emas untuk Diananda juga,’’ kata Yana.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : gil/c4/na



Close Ads