alexametrics

Oleh Sang Ayah, Dokic Pernah Ditendang, Dijambak, Diusir, dan Diludahi

21 November 2019, 20:03:28 WIB

JawaPos.com-Berlatih di bawah gemblengan ayah bisa tak serta-merta membawa kehangatan dan rasa nyaman bagi seorang petenis. Trauma mendalam justru dirasakan mantan ranking keempat dunia Jelena Dokic yang mengalami tindakan kekerasan hingga tekanan mental berat dari sang ayah Damir Dokic.

Semuanya dia ungkapkan dalam otobiografinya yang terbit 2017 silam.

Tendangan, pukulan, jambakan, makian kasar, sampai diludahi langsung pada wajahnya seakan menjadi makanan sehari-hari bagi petenis Australia tersebut.

”Pada dasarnya itu berlangsung sejak hari kali pertama saya berlatih tenis dan terus berlanjut sampai tak terkendali,” bebernya kepada Sydney’s Sunday Telegraph.

Salah satu kejadian yang tak akan pernah terhapus dari ingatan Dokic adalah ketika kalah dari petenis Amerika Serikat (AS) Lindsay Davenport pada semifinal Wimbledon 2000. Saat itu usia Dokic masih 17 tahun. Setelah pertandingan, ayahnya melarang Dokic pulang ke hotel tempat keluarganya menginap.

Dalam situasi kebingungan dia sempat luntang-lantung di area lapangan Wimbledon dan berniat tidur di tempat itu. Sampai akhirnya dia bertemu seorang ofisial dan membantunya menghubungi agennya untuk segera mendapatkan tempat tinggal sementara.

Federasi Tenis Australia mengapresiasi keberanian Dokic mengungkap kisah pilu perlakuan ayahnya. Mereka akhirnya juga mengakui sempat melakukan intervensi pada tindakan kekerasan tersebut.

”Bahkan, ada dari kami yang sampai melaporkannya kepada polisi secara diam-diam. Sayang, dia (ayah Dokic) tidak bisa diinvestigasi secara mendalam karena berkaitan langsung dengan masalah internal keluarga,” tulis federasi dalam pernyataan resmi.

Dokic mulai berlatih tenis di usia relatif muda, delapan tahun. Sejak 1994 bersama keluarganya dia pindah dari Serbia ke Australia. Mulai saat itu, Dokic berlatih tenis di Sydney bersama ayahnya. Prestasinya terbilang bagus di level junior. Pada 1998 dia menjadi kampiun di AS Terbuka.

Wanita kelahiran Osijek, Kroasia itu mencapai ranking tertinggi di posisi empat tunggal putri WTA pada 2002. Setelah itu, dia terlempar di peringkat 600-an dunia pasca berkutat dengan cedera dan stres mental yang dialaminya. Pada 2014 dia memutuskan pensiun.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : nap/c25/cak



Close Ads