alexametrics

Gelar Ini Mengantarkan Praveen/Melati ke Ranking Tertinggi Dalam Karir

21 Oktober 2019, 12:00:23 WIB

JawaPos.com– Akhirnya, akhirnya, akhirnya. Momen yang dinantikan tiba juga. Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti meraih gelar perdana. Denmark Open 2019, turnamen elite Eropa berlevel super 750, menjadi taman bermain mereka.

Dalam final tadi malam, di Odense Sports Park, mereka mengalahkan salah satu ganda campuran terkuat di dunia, Wang Yilyu/Huang Dongping 21-18, 18-21, 21-19.

”Tentu senang sekali. Ini merupakan gelar pertama kami setelah 1,5 tahun berpasangan. Dan tentu ini akan membuat kami percaya diri di turnamen berikutnya,” papar Praveen seperti dikutip dari siaran pers PP PBSI. “Kami akhirnya bisa membuktikan kalau kami bisa,” sambung Melati.

Pramel—begitu pasangan tersebut dijuluki—tampil luar biasa tadi malam. Sangat solid dan agresif. Juga pintar mengatur tempo. Error sana-sini tetap ada. Terutama saat servis. Namun, itu diimbangi dengan smes tajam Praveen dan cegatan depan net Melati yang kali ini banyak akurat.

Nah, mereka mulai bikin penonton jantungan di game ketiga.

Di game penentuan itu, mereka melesat mencapai interval dengan cepat. Skornya 11-3. Sempat kehilangan fokus sebentar, angka menjadi 14-7. Masih aman. Namun, Wang/Huang tiba-tiba bangkit. Sebaliknya, kebiasaan Praveen untuk membuat kesalahan kambuh. Alhasil, pasangan Tiongkok memborong 11 angka beruntun!

Kondisi berbalik menjadi 14-18.

Saat itu, harapan para badminton lovers sudah lenyap. Praveen/Melati PHP (pemberi harapan palsu) lagi. Seperti saat nyaris menang di All England.

Ternyata tidak. Mereka berhasil mengembalikan fokus. Hati-hati. Tapi tetap berani menyerang. Mereka mengingat nasehat asisten pelatih Nova Widianto saat interval, “Nggak apa-apa. Masih bisa. Kalau ketekan jangan dipaksa.” Sebelum musuh mencapai angka 21, mereka tetap yakin. Mentalitas keren setelah mengalahkan ganda terbaik dunia, Zheng Siwei/Huang Yaqiong di perempat final, turut mempertebal optimisme mereka.

Setelah serangan mereka mematikan langkah Wang/Huang dua kali, Praveen/Melati makin agresif. Mereka mencapai championship point, lantas mengunci gelar setelah smes Praveen tidak bisa dikembalikan Wang. Praveen sontak melempar raketnya dengan gembira. Melati sempat linglung sesaat. Mereka lalu mengembur ke arah Nova, lalu berpelukan erat. Adegan yang tertangkap kamera itu membuat mereka mendapat julukan honey couple.

“Dari awal kami sudah siap kalau pertandingan ini tidak akan mudah dan melelahkan. Kunci kemenangan kami hari ini yaitu lebih percaya ke partner, dan memperbanyak komunikasi di lapangan,” jelas Praveen. ”Kami terus fokus sebelum angka 21, jangan menyerah. Kenapa kami terkejar di game ketiga, ya karena pasangan Tiongkok itu bagus sekali,” lanjut pemain 25 tahun tersebut.

Pramel kemarin sekaligus mematahkan kutukan atas ganda campuran Tiongkok. Sebelum ini, mereka enam kali bertemu Wang/Huang, dan selalu kalah. Tiga di antaranya terjadi di final turnamen BWF Tour tahun ini. Tepatnya di India Open, Australian Open, dan Japan Open. Durasi laga kemarin lebih lama daripada tiga final sebelumnya. Yakni 59 menit. Itu cukup menggambarkan betapa tidak mudahnya perjuangan Pramel melawan pasangan dengan defense baja tersebut.

Selain itu, bagi Praveen pribadi, gelar ini juga jadi jawaban atas sikap indisiplinernya sebelum tur Eropa. Sepekan sebelum berangkat ke Odense, mantan pasangan Debby Susanto itu pulang terlambat ke asrama, lalu esoknya bolos latihan. Pelatih kepala ganda campuran Richard Mainaky sempat mengancam tidak akan memberangkatkan dia ke Eropa.

Nah, berkat kemenangan ini, tidak hanya mental dan kepercayaan diri mereka yang meningkat. Peringkat mereka ikut terkerek. Pekan depan, dengan tambahan 11.000 poin, mereka dipastikan naik dua setrip. Dari peringkat tujuh ke peringkat lima. Itu adalah ranking tertinggi dalam karir mereka sejak berpasangan pada Malaysia Masters 2018.

Selamat!

Editor : Ainur Rohman

Reporter : feb/na



Close Ads