alexametrics

Perubahan Strategi yang Cemerlang, Mengantar The Daddies ke Final

China Open 2019 Super 1000
21 September 2019, 20:49:38 WIB

JawaPos.com-Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan bermain dengan sangat brilian untuk melangkah ke final China Open 2019. Pada turnamen prestisius berlevel BWF World Tour Super 1000 tersebut, Hendra/Ahsan mengalahkan unggulan ketiga Li Junhui/Liu Yuchen via dua game langsung 22-20, 21-11 dalam tempo 31 menit saja.

Dengan hasil ini, Indonesia memastikan satu gelar dari ganda putra. Sebab dari pul atas, dua ganda nasional Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto saling berhadapan di lapangan utama Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou.

Dominasi ganda putra Indonesia memang luar biasa tahun ini. Pasukan didikan Herry Iman Pierngadi tersebut menyapu bersih tiga turnamen terbesar dalam kalender BWF yakni Super 1.000. Sebelumnya, Hendra/Ahsan juara di All England dan Marcus/Kevin menjadi kampiun Indonesia Open.

Sama dengan China Open, pada Indonesia Open tahun ini juga tercipta All Indonesian Final.

Pada laga malam ini, Ahsan terlihat tidak dalam kondisi fit 100 persen. Dia mengalami cedera minor pada betis kiri dan kanannya. Kondisi itu dia dapatkan saat berhadapan dengan unggulan kelima dari Jepang Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe di perempat final kemarin.

Menyadari tidak fit, Hendra/Ahsan mengubah strategi dan berusaha bermain taktis serta efisien. Mereka juga kerap melakukan rotasi. Hendra yang biasanya menjadi pengatur permainan di depan, lebih sering beralih fungsi sebagai penggebuk di belakang.

Untunglah, Ahsan dan Hendra tidak banyak melakukan kesalahan.

Pada game pertama, The Daddies memang sempat kewalahan melayani permainan cepat Li/Liu. Strategi pasangan berjuluk duo menara tersebut adalah terus memancing Hendra/Ahsan untuk memberikan bola lob. Bola tinggi, memudahkan Li/Liu yang bertinggi 195 dan 193 cm itu untuk melakukan smes-smes menghujam.

Siasat itu awalnya berhasil. Li/Liu sempat memimpin 14-11. Namun, Hendra/Ahsan tetap tenang dan fokus pada permainan sendiri. Sehingga, mereka mampu mengejar dan menyamakan kedudukan menjadi 14-14.

Li/Liu kembali memimpin 17-15. Namun lagi-lagi, Hendra/Ahsan menolak melepaskan momentum dan bisa kembali menyamakan kedudukan.

Bahkan pasangan Indonesia yang menjadi juara dunia 2019 tersebut sempat di ambang kehilangan game pertama karena tertinggal 19-20. Tetapi lewat permainan yang efektif dan pembacaan game yang sangat cerdas, mereka berhasil merebut tiga angka beruntun untuk merebut game pertama.

“Kuncinya tadi di game pertama. Setelah menang di game pertama, di game kedua kami jadi lebih tenang,” ucap Ahsan dalam siaran pers PP PBSI kepada Jawa Pos.

Ahsan membuktikan ucapannya. Pada game kedua, juara dunia tiga kali itu menginjak pedal gas sedalam-dalamnya untuk ngebut dan meninggalkan Li/Liu yang keteteran di belakang. Tidak sekalipun juara All England 2019 itu tertinggal dalam perolehan angka.

Dan saat kondisi 9-16, permainan Li/Liu itu semakin kacau.

“Memang lapangannya ada angin. Tadi di game pertama kami ‘kalah angin’. Kami kaget juga bisa menang dua game langsung, dan game keduanya cukup mudah. Mungkin mereka lagi nggak enak mainnya,” ucap Hendra.

Lalu bagaimana kondisi kaki Ahsan?

”Kondisi kaki saya masih sama, tadi nggak banyak reli dan memang sengaja sebisa mungkin tidak banyak bergerak. Memang kami sengaja ubah strategi karena pergerakannya terbatas,” kata pemain yang pada 7 September lalu genap berumur 32 tahun itu.

Dan siapapun lawannya besok, Hendra berusaha untuk santai dan tak terbebani.

“Kami ingin yang terbaik saja. Kami senang bisa terjadi All Indonesian Final lagi setelah terakhir di Japan Open 2019,” ucap pemain berusia 35 tahun tersebut.

Sepanjang 2019, Hendra/Ahsan berhasil menembus delapan final. Dalam tujuh final sebelumnya, mereka meraih tiga gelar. Itu termasuk dua trofi bergengsi All England dan Kejuaraan Dunia. Satu lagi adalah New Zealand Open Super 300.

Delapan final dalam setahun adalah yang terbanyak dalam karir mereka. Sama dengan yang mereka capai pada 2013.

Editor : Ainur Rohman



Close Ads