alexametrics

Anthony Ginting Harus Waspada, Ini Bukan Antonsen yang Dulu

21 September 2019, 15:00:07 WIB

JawaPos.com–Sungguh melegakan melihat Anthony Sinisuka Ginting lolos ke semifinal China Open 2019. Menyandang status juara bertahan nyata-nyata menjadi beban berat baginya. Dalam perempat final di Olympic Sports Center Gymnasium Changzhou, kemarin, Ginting harus bekerja keras mengalahkan Sai Praneeth B asal India.

Beban mental Ginting bertambah berat karena Sai adalah pemain yang menghajar dia di babak ketiga Kejuaraan Dunia 2019. Namun, dengan permainan supertenang dan solid terutama pada game kedua, Ginting akhirnya menang 16-21, 21-6, 21-16.

Di semifinal hari ini, pemain binaan SGS PLN Bandung sudah ditunggu Anders Antonsen. Pemain yang saat ini menempati peringkat 4 dunia itu tampil luar biasa kemarin. Dia mengalahkan juara Indonesia Open asal Taiwan Chou Tien-chen cukup telak, 21-17, 21-11.

Ini sekaligus menjadi sinyal buat Ginting agar sangat berhati-hati.

”Kalau ketemu Antonsen, mainnya harus seperti hari ini (kemarin, Red),” kata Ginting seperti dikutip dalam siaran pers PP PBSI. Saat dia selesai bertanding, Antonsen memang belum bertemu Chou. ”Harus bisa kontrol walaupun anginnya kurang menguntungkan. Tapi harus bisa cari cara untuk mengatasinya,” lanjut pemain 23 tahun tersebut.

Ginting dan Antonsen hanya pernah sekali bertemu. Yakni di Malaysia Masters 2018 silam. Ginting menang straight game saat itu. Tapi, kita semua tahu apa yang terjadi pada Antonsen musim ini. Dia berkembang sangat, sangat, sangat pesat. Dari peringkat 18 di awal 2019, melonjak ke posisi empat besar.

Lonjakan besar dia catatkan setelah menjuarai Indonesia Masters pada akhir Januari. Dia naik lima setrip ke posisi 15. Lalu, setelah itu konsisten hingga menembus 10 besar berkat dua kali mencapai final turnamen. Lolos ke partai puncak Kejuaraan Dunia 2019 mengantarnya ke posisi 4 besar. Menggeser Jonatan Christie.

Dengan catatan seperti itu, jelas Antonsen bukanlah Antonsen yang dihadapi Ginting lebih dari setahun lalu. Saat ini, bisa dibilang kondisinya berbalik. Ginting sedang dalam grafik menurun. Capaian terbaiknya tahun ini ”hanya” menembus final Singapore Open dan Australian Open.

Apalagi, perjalanan Ginting di China Open kali ini tidak terlalu mulus. Sejak babak pertama, dia selalu harus menempuh rubber game. Energinya terkuras dibandingkan Antonsen. Sebaliknya, Antonsen lucky, karena lawan dia di babak pertama mundur di awal game pertama. Lalu, dalam dua babak selanjutnya, Antonsen juga menang mudah.

”Sekarang saya mau fokus recovery dulu. Dari kemarin pertandingannya melelahkan,” terang Ginting. ”Semalam saya selesai tanding malam sekali dan waktu recovery enggak banyak,” imbuhnya, mengenang laga babak kedua melawan Parupalli Kashyap. Hal itulah yang menyebabkan Ginting kurang maksimal di game pertama kontra Sai Praneeth kemarin. Apalagi kondisi lapangan berangin.

Kabar baiknya, Indonesia juga meloloskan tiga ganda putra. Fajar Alfian/M. Rian Ardianto dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan kompak mengalahkan pasangan Jepang. Sedangkan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menggebuk Goh V Shem/Tan Wee Kiong asal Malaysia dengan skor mantap 21-15 dan 21-17.

Dengan begini, peluang terciptanya all-Indonesian final cukup terbuka.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : feb/na



Close Ads