JawaPos Radar

Jalan Berliku Dua Atlet Indonesia Menuju Kesuksesan

21/08/2018, 17:13 WIB | Editor: Agustinus Edy Pramana
Asian Games 2018, Irfan Jaya, Sang Ayu Ketut Sidan Wilantari, Indonesia, Sepak Bola, Pencak Silat, Timnas U-23 Indonesia
Irfan Jaya, striker Timnas U-23 Indonesia di pentas Asian Games 2018 (Kemendes for JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Keberhasilan atau kesuksesan tak didapat secara instan. Perlu perjuangan dan melalui jalan berliku. Itu pula yang dirasakan dua atlet Indonesia yakni Irfan Jaya di cabang sepak bola dan Sang Ayu Ketut Sidan Wilantari di cabor pencak silat.

Irfan Jaya seperti diketahui saat ini menjadi bagian dari Timnas Indonesia di Asian Games 2018. Sebelum menjadi andalan Merah Putih, Irfan harus berjuang untuk meraihnya. Semuanya berawal dari sepatu sepak bola seharga Rp 23 ribu yang kala itu terhitung mahal.

Sementara itu, Ayu yang berasal dari sebuah desa kecil, berjuang keras untuk bisa meraih mimpi. Ayu tak patah semangat demi mengharumkan bangsa Indonesia.

Asian Games 2018, Irfan Jaya, Sang Ayu Ketut Sidan Wilantari, Indonesia, Sepak Bola, Pencak Silat, Timnas U-23 Indonesia
Sang Ayu Ketut Sidan Wilantari, atlet nasional pencak silat dari Desa Sulahan, Kab Bangli, Bali (Kemendes for JawaPos.com)

Nama Irfan Jaya memang mencuat setelah berhasil membawa Persebaya Surabaya jadi juara Liga 2 musim lalu. Berhasil membawa tim legenda itu promosi lagi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Bukan hanya itu, pemain 22 tahun tersebut juga berhasil menyabet penghargaan sebagai Pemain Terbaik Liga 2 2017. Kini, dia menjadi andalan Timnas U-23 Indonesia yang berlaga di Asian Games 2018.

Irfan Jaya lahir di salah satu desa kecil bernama Bonto Maccini di Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Kabupaten itu sebelumnya tercatat sebagai satu dari 199 kabupaten tertinggal di Indonesia. Sejak 2010, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal mengeluarkan Bantaeng dari daftar kabupaten tertinggal.

Karir Irfan sebagai pesepak bola juga tidak semulus yang dibayangkan. Sempat mendapat penolakan dari orang tuanya ketika memutuskan menjadi pemain sepak bola. Namun, Irfan yang keras kepala dan tidak kenal menyerah akhirnya bisa membuktikan dirinya bisa berjaya.

Ya, sama halnya dengan banyak orang tua lainnya, pria kelahiran 1 Mei 1996 itu diharapkan orang tuanya menjadi polisi. Orang tuanya juga tidak tega melihat Irfan yang badannya kecil terjatuh setelah ditekel lawan. "Tapi, saya inginnya menjadi pemain bola. Kalau jadi polisi, saya pendek juga," katanya, lantas tertawa.

Beruntung, sang kakak, Muhammad Ali, menyadari kemauan Irfan menjadi pesepak bola. Dari hasil arisan keluarga, sang adik pun dibelikannya sepatu bola untuk kali pertama. Sepatu bola yang dibeli di pasar terdekat seharga Rp 23 ribu. Mereknya Puma, tentu bukan sepatu bola orisinal.

Irfan yang kala itu masih duduk di kelas I sekolah dasar senang sekali dengan hadiah tersebut. Setiap hari dia memakainya. Kebetulan, di depan rumahnya ada lapangan sepak bola. Tiap kali pulang sekolah, lapangan itu selalu jadi tempat bermainnya. Berbekal sepatu bola hadiah sang kakak dan sebuah bola, Irfan mulai bermimpi menjadi pemain hebat sejak saat itu.

Nah, di lapangan itu juga, dia menimba ilmu. Bersama SSB Sinoa, skill-nya dipoles. Beberapa pertandingan tarkam yang diikuti memberikan banyak pengalaman padanya. Kesempatan kian terbuka lebar setelah Irfan lolos seleksi untuk ikut Pekan Olahraga Daerah (Porda) Bantaeng. Kebetulan, Kabupaten Bantaeng menjadi tuan rumah kejuaraan itu pada 2014 lalu. Irfan yang jadi salah satu pemain depan andalan akhirnya berhasil membawa Bantaeng jadi juara.

Dari situ, suami Sri Lestari tersebut akhirnya memperkuat PON Remaja I mewakili Sulawesi Selatan di Jawa Timur pada tahun yang sama. Sayang, Sulsel gagal jadi juara. Tapi, karirnya terus menanjak tahun berikutnya setelah masuk tim Persiban Bantaeng untuk ikut turnamen Sulsel Super Liga (SSLU21).

Persiban yang sama sekali tidak diprediksi bisa banyak bicara di kejuaraan itu memberi kejutan. Irfan yang jadi andalan berhasil membawa Persiban tembus 8 besar. Dia juga menjadi top scorer di turnamen tersebut.

Setelah itu, Irfan dilirik PSM U-21 yang akan mempersiapkan tim jelang Indonesia Soccer Championship pada 2016. Anak bungsu dari sembilan bersaudara itu pun terus membuktikan diri sebagai pesepak bola masa depan. Meski tidak berhasil membawa PSM U-21 juara, Irfan menjadi top skorer dengan raihan 14 gol.
Dari situ, Irfan dirilik banyak klub. Kedekatan dengan Iwan Setiawan akhirnya membawanya berkostum Persebaya Surabaya di Liga 2 musim 2017 lalu. Iwan kebetulan jadi pelatih Persebaya di awal musim lalu sebelum akhirnya digantikan Alfredo Vera.

Sejak saat itulah, Indonesia mengenal Irfan. Kecemerlangannya pun membawanya berkostum timnas Indonesia untuk kali pertama. Di bawah asuhan Luis Milla, dia jadi salah satu pemain yang masuk skuad di Asian Games 2018.

Irfan bersyukur atas apa yang sudah diraihnya selama ini. Hal itu tidak terlepas dari dukungan dan doa orang tua serta orang-orang terdekatnya. Juga bagi suporter Persebaya yang selama ini selalu mendukungnya. "Ini belum apa-apa, saya belum bisa memberikan prestasi untuk tim ataupun negara. Saya akan terus berusaha keras dan tidak cepat puas. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan," harapnya.

Setali tiga uang, kisah Ayu demi menuju kesuksesan tak mudah. Sepuluh tahun lalu, Ayu tidak pernah berpikir bahwa dirinya bisa jadi juara dunia pencak silat dan menjadi andalan Indonesia di pentas internasional. Selama itu pula, dia tetap mengabdi kepada daerahnya, Kabupaten Bangli, di pentas antardaerah dan nasional.

Bersama Ni Made Dwiyanti, dia kerap membela panji Merah Putih. Sejumlah gelar sudah mereka rasakan. Mulai juara dunia 2010 dan 2012, Pekan Olahraga Nasional, hingga ajang SEA Games. Kini Ayu menjadi andalan Indonesia pada Asian Games 2018.

Ayu besar dan tumbuh di Desa Sulahan, Kabupaten Bangli, Bali. Sebagai anak desa, Ayu mempunyai keteguhan yang kuat untuk bisa berprestasi hingga pentas dunia. Saat kecil, dia pun sempat merasakan situasi desa yang memang cukup tertinggal.

Menurut Ayu, sepuluh tahun silam desanya masih terisolasi. Desanya memang sudah terjangkau siaran televisi. Namun, internet belum bisa dirasakan. Perempuan kelahiran Kintamani, 26 Maret 1990 tersebut berjuang dari kecil hingga akhirnya menjadi pesilat terbaik di Bali. Itu semua berkat tekadnya yang kuat. "Bagi saya, sebagai anak desa, bisa berprestasi di tingkat nasional dan dunia bukanlah sesuatu yang tidak mungkin," ujarnya.

Ayu sempat off lantaran melahirkan putra keduanya, Made Putra Yasa Lakshyana, tahun lalu. Padahal, secara kemampuan, dia masih menjadi yang terbaik bersama Made Dwiyanti. Untuk itu, tiga minggu setelah melahirkan, Ayu langsung turun ke gelanggang untuk persiapan pekan olahraga provinsi.

Dua bulan berikutnya, dia mengikuti seleksi nasional dan akhirnya kembali memperkuat pelatnas pencak silat menuju Asian Games 2018. "Awalnya, saya sama sekali tidak berpikir bisa main di Asian Games," tuturnya. Kesempatan yang diberikan PB IPSI tidak dia sia-siakan.

"Saya sudah berkorban banyak, jauh dari anak-anak, harapannya bisa mencapai prestasi maksimal di Asian Games kali ini," ucapnya. Sebagai salah satu harapan pendulang medali, Ayu terus berlatih hingga hari pertandingan di Padepokan Pencak Silat di Taman Mini Indonesia Indah.

Bagi dia, latar belakang sebagai anak desa tidak menutup mimpi dan cita-cita besar yang ingin diwujudkan. Hasilnya sudah dia rasakan. Selanjutnya, dia memulai langkah besar untuk bisa menaikan bendera Merah Putih di Asian Games 2018.

(rid/c17/tom) (nap/c20/tom)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up