alexametrics

Komentar Taufik kepada Tontowi: Lu Olympic Champion, Tapi Gak Dihargai

20 Mei 2020, 19:23:34 WIB

JawaPos.com-Legenda tunggal putra Indonesia Taufik Hidayat kembali menghangatkan tensi di media sosial.

Sore ini (20/5), Taufik menulis komentar dengan nada menyindir di unggahan terbaru pemain ganda campuran Tontowi Ahmad.

“Sang juara dan harus keluar dari dunia bulu tangkis, mix double (mixed double, Red) olympic cham (champ, Red) satu2 (satu-satunya) di Indonesia ini…dan harus keluar dari pelatnas dengan status magang? Apa kabar atlet yang gak punya gelar kaya owix (Tontowi) ya,” tulis Taufik.

“Sabar-sabar ya owix, memang resiko jadi atlet begitu…semangat terus yaa..semua orang tahu bahwa lu Olympic Champion, tapi gak dihargai. Yang penting lu jadi kebanggaan bangsa ini lewat bulu tangkis!!!” lanjut Taufik.

Pada akhir kalimatnya Taufik menulis, “Apa anak lu mau jadi atlet bulu tangkis nantinya om owix? Hahahhahhahah.”

Sebelumnya, Owi memang mengatakan bahwa salah satu alasan dia memutuskan mundur dari pelatnas PP PBSI adalah statusnya yang magang.

Ya, dalam SK pelatnas 2020, status Owi adalah pemain magang. Label itu biasanya disematkan buat pemain muda atau baru bergabung di pelatnas.

Owi kaget dengan status itu. Sebab, menurut dia, selama 2019, dia masih tampil bagus bersama Winny Oktavina Kandow. Mereka tujuh kali menembus perempat final turnamen. Tiga di antaranya terjadi di turnamen super 1000. Yakni, All England, Indonesia Open, dan China Open.

Mereka dua kali mengalahkan pasangan nomor lima dunia (saat itu) Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Juga teman yang peringkatnya jauh lebih baik, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja.

’’Maksudnya saya tak sejelek itu yang harus langsung dibuang. Maksud saya (PBSI) harusnya bisa menghargai,’’ kata Owi dalam konferensi pers online Senin, 18 Mei lalu.

’’Kondisi memang tidak mendukung, Dengan status saya yang dimagangkan, itu cukup mengganggu motivasi saya untuk melanjutkan karir,’’ tegasnya.

“Saya tahu magang sejak Desember 2019. Kaget saja. Saya nggak nyangka, kok PBSI kayak gini. Padahal saya sudah plan untuk kejuaraan tahun depan. Seharusnya mereka mengayomi dan menghargai atlet-atlet di dalamnya, seharusnya saya tidak dibuang. Apakah ini masalah pribadi atau organisasi kepada saya, saya tidak tahu,” kata Owi lagi.

Dikonfirmasi JawaPos.com, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti mengatakan bahwa meskipun magang, Owi tetap ikut berangkat turnamen. Bahkan sepanjang 2019, saat Owi berpasangan dengan Winny, PBSI menerbangkan mereka ke 16 turnamen.

“Kalau mereka nunjukin prestasi setahun lalu mungkin ceritanya beda. Saat perebutan posisi Olimpiade, Owi/Winny dikasih jatah spesial, tapi mereka tidak bisa menunjukkan. Kami dari PBSI nggak membuang Owi. Contohnya kayak Hendra (Setiawan), status dia magang. Tapi sepanjang 2019 dia berprestasi, jadi kami fasilitasi dia,” kata Susy.

Waktu promosi dan degradasi pada awal 2020, Pelatih Kepala Ganda Campuran PP PBSI Richard Mainaky melaporkan bahwa Winny akan dipasangkan kembali bersama partner sebelumnya yakni Akbar Bintang Cahyono.

“Otomatis kan kalau kembali berpasangan dengan Akbar, berarti Winny tidak berpasangan lagi sama Tontowi dan situasi ini membuat Tontowi sementara itu belum ada pasangan main,” kata Susy dalam siaran pers PP PBSI yang diterima Jawa Pos.

“Namun di situasi seperti itu, PBSI tetap memberikan kesempatan kepada Tontowi, tetapi dengan status SK Magang, karena belum punya pasangan tetap,” imbuh Susy.

Pelatih kepala PP PBSI Richard Mainaky mengatakan bahwa dia merekomendasikan 13 nama yang masuk SK.

Namun, belakangan, SK Owi diturunkan. “Saat itu partner Owi juga belum jelas. Masih menunggu dan ikuti program dengan Apri (pemain ganda putri Apriyani Rahayu, Red). Mungkin dari situ PBSI melihat Owi belum memiliki target,” kata Richard.

Menurut Richard banyak aspek yang membuat Owi akhirnya memilih untuk pensiun dari pelatnas. “Dia sudah meraih berbagai hal. Buat dia, ini sudah cukup. Soal kritik tentang magang, tidak sepenuhnya begitu. Itu hanya salah satu pemicu,” imbuhnya.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Gugun Gumilar



Close Ads